Yogyakarta, 3 Agustus 2026 – Kebahagiaan menyelimuti Cesarina Liasari, mahasiswa baru Program Studi Sarjana Farmasi Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM), setelah berhasil mewujudkan impiannya untuk berkuliah di UGM sekaligus memperoleh penetapan Uang Kuliah Tunggal (UKT) sebesar Rp. 0.
Bagi mahasiswa yang akrab disapa Cesa tersebut, diterima di UGM merupakan pencapaian akademik dan menjadi langkah untuk terwujudnya cita-cita yang telah ia bangun sejak duduk di bangku sekolah dasar. Ketertarikannya pada bidang sains, kesehatan, serta dunia riset semakin menguat saat menempuh pendidikan di jenjang SMA dan mengantarkannya untuk memilih Program Studi Farmasi UGM.
Perjalanan menuju bangku kuliah tidak dilalui dengan mudah. Ditengah persiapan mengikuti seleksi masuk perguruan tinggi, Cesa harus menghadapi kehilangan sosok ayah tercinta yang berpulang pada pertengahan Mei 2026. Tidak lama setelah itu, ia juga menerima kabar bahwa dirinya belum berhasil lolos melalui jalur SNBT.
“Di tengah persiapan ujian, ayah saya berpulang. Setelah itu, saya juga belum berhasil pada SNBT. Itu menjadi masa yang cukup berat bagi saya dan keluarga,” ungkap Cesa.
Meski demikian, ia memilih untuk tetap bangkit dan melanjutkan perjuangannya. Selama mempersiapkan diri, Cesa rutin belajar secara mandiri melalui buku dan latihan soal setiap hari. Ia juga aktif mengikuti berbagai kegiatan di sekolah, mulai dari organisasi hingga kompetisi, sebagai bagian dari pengembangan diri.
Perjuangan tersebut akhirnya membuahkan hasil ketika ia dinyatakan diterima di Fakultas Farmasi UGM melalui jalur Ujian Mandiri. Kebahagiaan itu semakin lengkap setelah memperoleh penetapan UKT sebesar Rp. 0, yang menjadi dukungan berarti bagi keluarganya.
“Penetapan UKT 0 merupakan berkah yang luar biasa bagi keluarga kami. Sejak ayah berpulang, kondisi ekonomi keluarga masih belum stabil. Bantuan ini sangat membantu kami secara finansial,” ujarnya.
Ibunda Cesa turut mengungkapkan rasa syukur atas kesempatan yang diterima putrinya. Menurutnya, keluarga sempat diliputi kekhawatiran mengenai biaya pendidikan setelah perubahan kondisi ekonomi keluarga. Oleh karena itu, penetapan UKT 0 menjadi harapan baru yang meringankan beban mereka.
“Kami sangat bersyukur. Bantuan ini sangat berarti bagi keluarga kami yang kondisi ekonominya masih belum stabil. Selain itu, Cesa juga diterima di program studi yang memang menjadi impiannya sejak lama,” tutur sang ibu.
Kesempatan memperoleh pendidikan tinggi tanpa terbebani biaya kuliah menjadi motivasi bagi Cesa untuk memberikan yang terbaik selama menempuh pendidikan di Fakultas Farmasi UGM. Ia berkomitmen untuk belajar dengan sungguh-sungguh, aktif mengikuti organisasi maupun kompetisi sesuai minat dan bakatnya, serta berusaha meraih prestasi akademik terbaik.
“Saya ingin memanfaatkan setiap kesempatan yang ada, belajar semaksimal mungkin, mengikuti organisasi dan lomba, serta nantinya dapat membantu perekonomian keluarga,” katanya.
Cesa juga menyampaikan pesan kepada para pelajar yang tengah berjuang meraih pendidikan tinggi agar tidak menyerah pada keterbatasan yang dimiliki.
“Jangan pernah takut hanya karena keadaan. Percayalah bahwa setiap orang memiliki jalan dan rezekinya masing-masing. Yang terpenting adalah terus berjuang, tetap semangat, dan jangan menyerah ketika menghadapi kesulitan,” pesannya.
Kisah Cesa juga mencerminkan komitmen Fakultas Farmasi UGM dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 1, No Poverty (Tanpa Kemiskinan), melalui penyediaan akses pendidikan yang meringankan beban ekonomi mahasiswa dari keluarga yang membutuhkan. Selain itu, penetapan UKT yang berkeadilan turut mendukung SDG 4, Quality Education (Pendidikan Berkualitas), dengan memastikan bahwa keterbatasan ekonomi tidak menjadi penghalang untuk memperoleh pendidikan tinggi yang bermutu. Pada saat yang sama, kesempatan bagi mahasiswa dari berbagai latar belakang untuk mengembangkan potensi dan meraih prestasi juga sejalan dengan SDG 10, Reduced Inequalities (Berkurangnya Kesenjangan), melalui upaya memperluas akses dan kesempatan yang setara dalam pendidikan tinggi.
Penulis: Rizqi Vazrin | Editor: Fathul | Foto: Cesa