Yogyakarta, 24 Agustus 2026 – Konsumsi daging di Indonesia terus menjadi bagian penting dalam pemenuhan kebutuhan pangan masyarakat, dengan daging ayam ras sebagai salah satu jenis daging yang paling banyak dikonsumsi. Pada tahun 2025, konsumsi daging ayam ras mencapai 13,60 kg/kapita/tahun (Ditjen PKH, Kementerian Pertanian, 2025), sedangkan ketersediaannya mencapai 15,29 kg/kapita/tahun (Badan Pangan Nasional, 2025). Tingginya konsumsi dan ketersediaan daging ayam tersebut perlu diimbangi dengan pengawasan mutu yang baik, sebab daging ayam merupakan bahan pangan yang mudah rusak, sementara penilaian kesegarannya masih sering dilakukan secara subjektif berdasarkan pengamatan indrawi.
Berangkat dari permasalahan tersebut, di bawah bimbingan Bapak apt. Purwanto, M.Sc., Ph.D., tim mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) yang tergabung dalam program PKM-K berinovasi menciptakan SEFTIN, film edibel sebagai indikator kesegaran pangan berprotein tinggi, khususnya daging ayam yang terbuat dari bahan alami, yaitu pati sagu dan ekstrak antosianin dari ubi ungu. Inovasi ini dikembangkan oleh lima mahasiswi, yakni Novita Nurul Latifa, Nabila Aurora Banuwati, Nabila Putri Herviana, dan Andinar Zahranayla Y. dari Fakultas Farmasi, serta Asa Nanda Fitria dari Fakultas Teknologi Pertanian. “Cara kerja SEFTIN cukup sederhana. Tingkat kesegaran pangan dapat dideteksi melalui perubahan warna pada edible film, kemudian warna tersebut dicocokkan dengan stiker skala warna yang sudah terintegrasi pada indikator. Jadi, pengguna bisa mengetahui kondisi kesegaran pangan secara real-time hanya dengan melihat perubahan warnanya,” ujar Novita Nurul Latifa, ketua tim SEFTIN (17/8).
Tim SEFTIN menjalankan rangkaian kegiatan PKM-K secara bertahap dan terstruktur, diawali dengan studi literatur sebagai landasan riset dan dilanjutkan dengan survei pendahuluan terhadap responden dari berbagai latar belakang profesi untuk memperoleh gambaran kebutuhan pasar. Tahap berikutnya meliputi uji formulasi produk secara berulang hingga ditemukan formula yang efektif, dilanjutkan dengan proses produksi, pengujian produk, serta diakhiri dengan tahap pengenalan dan pemasaran produk kepada masyarakat.
SEFTIN dikembangkan dalam bentuk stiker untuk meningkatkan kepraktisan, kemudahan penggunaan, dan efektivitas pemantauan kesegaran pangan. Stiker ini dapat ditempelkan pada tutup kemasan seperti kemasan thinwall, sehingga indikator tetap terlihat dari luar tanpa perlu membuka kemasan.
Hasil pengujian menunjukkan bahwa edible film berbasis pati sagu dengan penambahan ekstrak antosianin ubi ungu mampu menunjukkan perubahan warna yang konsisten seiring dengan menurunnya tingkat kesegaran daging ayam. Perubahan ini terjadi karena sifat antosianin yang peka terhadap perubahan pH, sehingga mampu merespons secara visual perubahan kondisi kimiawi yang terjadi pada permukaan daging seiring dengan waktu penyimpanan.
“Saat ini, SEFTIN baru dapat digunakan untuk mendeteksi tingkat kesegaran daging ayam, tetapi berpotensi untuk dikembangkan lebih lanjut ke jenis pangan berprotein tinggi lainnya,” ujar Novita Nurul Latifa, ketua tim SEFTIN (17/8).
Secara keseluruhan, tahap produksi SEFTIN dibagi menjadi tiga, yaitu proses maserasi ubi ungu untuk mendapatkan ekstrak antosianin, proses pembuatan edible film dengan matriks pembentuk film berupa pati sagu, dan proses integrasi dengan stiker yang memudahkan penggunaan.
Inovasi ini turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 (Good Health and Well-being) melalui upaya membantu masyarakat mencegah konsumsi daging ayam yang sudah tidak layak, SDG 9 (Industry, Innovation and Infrastructure) melalui pengembangan teknologi indikator kesegaran pangan berbasis bahan alam yang praktis dan berpotensi dikomersialkan, serta SDG 12 (Responsible Consumption and Production) dengan mendorong pemantauan kualitas pangan secara lebih objektif sekaligus berpotensi mengurangi risiko pemborosan pangan akibat ketidakpastian dalam menentukan tingkat kesegaran produk.
Sesuai dengan slogan SEFTIN, “See Freshness, Trust Quality“, produk ini diharapkan dapat terus berkembang menjadi produk komersial yang praktis, terjangkau, serta mudah digunakan oleh masyarakat maupun pelaku usaha pangan. Pengembangan lebih lanjut diharapkan mampu meningkatkan kesiapan teknologi dan memperluas penerapan SEFTIN sebagai inovasi pemantauan kesegaran daging yang lebih objektif, berkelanjutan, dan terpercaya.
Penulis: Andinar Zahranayla Y. | Editor: Fathul | Foto: PKM SEFTIN


