Yogyakarta, 28 Agustus 2026 — Lima mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) dari Fakultas Farmasi dan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan mengembangkan Levocross, sebuah penelitian yang mengeksplorasi sistem penghantaran levofloksasin untuk mendukung pengembangan terapi tuberkulosis (TB). Tim ini terdiri dari Desrika Dwi Handayani dan Fatharani Hasya Tsabita dari Fakultas Farmasi, serta Alphatar Magnus Jonathan Tambunan, Emeliana Putri Ayu Ningsih, dan Ernestus Revan Yogantara Arjuna dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan. Penelitian ini didampingi oleh Dr.rer.nat. Ronny Martien, M.Si. dari Fakultas Farmasi UGM.
Levocross dikembangkan melalui skema Program Kreativitas Mahasiswa bidang Riset Eksakta (PKM-RE) 2026. Penelitian ini berfokus pada pengembangan Hyaluronic Acid-Nanostructured Lipid Carrier-Levofloxacin (HA-NLC-LFX), yaitu sistem yang menggabungkan levofloksasin sebagai obat, Nanostructured Lipid Carrier (NLC) sebagai pembawa, serta asam hialuronat (HA). Formulasi tersebut dikembangkan untuk diberikan melalui rute inhalasi sebagai pendekatan dalam menghantarkan obat menuju paru-paru.

Levofloksasin (LFX) dipilih sebagai obat yang dimuat ke dalam sistem penghantaran Levocross. Obat ini dapat digunakan sebagai salah satu obat lini kedua pada kondisi tertentu dalam pengobatan tuberkulosis. Dalam penelitian ini, tim tidak hanya berfokus pada penggunaan levofloksasin sebagai zat aktif, tetapi juga mengeksplorasi bagaimana obat tersebut dapat diformulasikan dalam suatu sistem pembawa untuk mendukung pemberian melalui inhalasi.
Untuk membawa levofloksasin, tim mengembangkan Nanostructured Lipid Carrier (NLC), yaitu sistem pembawa berbasis lipid berukuran nano. NLC kemudian dikombinasikan dengan asam hialuronat pada permukaannya untuk membentuk formulasi HA-NLC-LFX. Beberapa variasi formulasi digunakan dalam penelitian untuk mengetahui karakteristik sistem yang dihasilkan dan menentukan formulasi yang paling sesuai untuk tahap pengujian selanjutnya.
“Melalui Levocross, kami ingin mengeksplorasi bagaimana sistem penghantaran obat dapat dikembangkan dengan mempertimbangkan lokasi infeksi dan sel yang menjadi target pada tuberkulosis. Penelitian ini masih terus berjalan, sehingga berbagai pengujian yang kami lakukan menjadi bagian penting untuk mengetahui formulasi yang paling optimal,” ujar Alphatar Magnus Jonathan Tambunan, salah satu anggota Tim Levocross.
Pengembangan formulasi diawali dengan metode hot emulsification-ultrasonication. Komponen pembentuk NLC dan levofloksasin diproses melalui tahap pemanasan dan pencampuran, kemudian dihomogenisasi dan diberi perlakuan ultrasonikasi hingga terbentuk sistem berukuran nano. Setelah itu, asam hialuronat ditambahkan dengan beberapa variasi untuk menghasilkan formulasi HA-NLC-LFX. Formulasi yang diperoleh kemudian melalui proses liofilisasi sebelum digunakan dalam tahap karakterisasi dan pengujian berikutnya.

Karakterisasi dilakukan untuk mengetahui berbagai sifat formulasi yang dihasilkan, meliputi jumlah obat yang berhasil dimuat, ukuran dan keseragaman partikel, potensial permukaan, derajat keasaman, serta morfologi. Tim juga mengevaluasi kestabilan formulasi dan profil pelepasan levofloksasin. Selain itu, kemampuan formulasi menghasilkan aerosol menggunakan nebulizer turut diuji sebagai bagian dari pengembangan sistem penghantaran melalui inhalasi. Pengujian in vitro juga dilakukan untuk melihat kemampuan formulasi berinteraksi dan masuk ke dalam sel.
Pengembangan Levocross turut berkaitan dengan beberapa tujuan dalam Sustainable Development Goals (SDGs). Penelitian ini mendukung SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui eksplorasi pendekatan baru dalam pengembangan terapi tuberkulosis. Kegiatan penelitian juga sejalan dengan SDG 4: Pendidikan Berkualitas, karena melibatkan mahasiswa dalam penerapan pengetahuan dan pengembangan keterampilan riset di bidang farmasi dan kesehatan. Selain itu, pengembangan sistem penghantaran obat berbasis nanopartikel mendukung SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur melalui eksplorasi inovasi teknologi di bidang kesehatan.
Saat ini, penelitian Levocross masih berada dalam tahap pengujian dan analisis. Data dari berbagai karakterisasi dan evaluasi yang dilakukan akan digunakan untuk menentukan formulasi yang paling optimal serta mengevaluasi potensi sistem penghantaran levofloksasin melalui inhalasi. Melalui penelitian ini, tim berharap dapat terus mengembangkan Levocross sebagai salah satu pendekatan inovatif dalam sistem penghantaran obat sekaligus memperkuat peran mahasiswa dalam pengembangan riset di bidang farmasi dan kesehatan.
Penulis:
- Desrika Dwi Handayani – Fakultas Farmasi
- Fatharani Hasya Tsabita – Fakultas Farmasi
- Alphatar Magnus Jonathan Tambunan – FKKMK
- Emeliana Putri Ayu Ningsih – FKKMK
- Ernestus Revan Yogantara Arjuna – FKKMK
Editor: Fathul


