Gagas Optimalisasi Kurikulum Edukasi Interprofesional, Mahasiswa Profesi Apoteker UGM Raih Juara 2 dalam Ajang Pharmacy Practice Challenge 2026

Yogyakarta, 20 Juli 2026 – Fakultas Farmasi UGM kembali membawa pulang prestasi yang membanggakan. Prestasi kali ini berhasil diraih oleh Austin Anderson, mahasiswa Program Studi Profesi Apoteker (PSPA) Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada, sebagai delegasi UGM dalam kompetisi Pharmacy Practice Challenge 2026 yang diselenggarakan pada 2 Mei hingga 14 Juni 2026.

Pharmacy Practice Challenge sendiri merupakan kompetisi internasional pertama yang diinisiasi oleh International Pharmaceutical Students’ Federation (IPSF), sebuah organisasi mahasiswa farmasi dunia yang berpusat di Den Haag, Belanda, dan terbuka bagi seluruh mahasiswa farmasi di seluruh dunia. Pada tahun ini, Pharmacy Practice Challenge mengusung tema “Bridging the Gap Between Pharmacy Education and Real-World Practice,” dimana ajang ini secara khusus menantang kemampuan peserta dalam mengidentifikasi masalah kritis seputar edukasi kefarmasian, serta menuntut pengajuan solusi praktis dan inovatif untuk menjembatani kesenjangan antara pembelajaran akademik dan praktik profesional di lapangan.

Dalam pelaksanaannya, kompetisi ini dibagi menjadi dua tahap, yakni babak preliminer berupa penjelasan ide yang diajukan peserta oleh panel juri ahli dan babak final yang diselenggarakan secara daring melalui ruang virtual Zoom pada 14 Juni 2026. Pada babak penentuan tersebut, Austin bersaing ketat dengan para finalis terpilih dari berbagai negara dan benua, termasuk perwakilan dari regional Afrika, India, Selandia Baru, serta sesama perwakilan Indonesia.

Ide inovatif yang mengantarkan Austin memikat perhatian panel juri berangkat dari pengalamannya terkait Edukasi Interprofesional (IPE) semasa menempuh studi S1 dan saat menjalani praktik kerja profesi. Melihat adanya celah IPE yang belum terintegrasi dan belum optimal, Austin mengusulkan gagasan berupa panduan penyusunan dan pengintegrasian IPE ke dalam kurikulum farmasi. Adapun action plan yang dipresentasikan oleh Austin menekankan pada beberapa aspek krusial, di antaranya adalah tentang pentingnya pemahaman dan kerjasama antar profesi kesehatan dan konsistensi dalam perancangan dan implementasi IPE di lingkungan akademik maupun praktik. Melalui inovasinya ini, Austin berharap para calon apoteker di masa depan dapat dibekali dengan pemahaman IPE yang komprehensif, sehingga mampu menjembatani teori dan praktik kefarmasian, khususnya dalam kolaborasi pelayanan kesehatan interprofesional.

Keberhasilan Austin dalam mencetuskan ide integrasi kurikulum ini merupakan wujud nyata dukungan sivitas akademika Fakultas Farmasi UGM terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Gagasan action plan ini secara langsung berkontribusi pada pencapaian SDG 4 tentang Pendidikan Bermutu melalui upaya penyempurnaan kurikulum pendidikan farmasi agar lebih relevan dengan tantangan dunia kerja. Di samping itu, integrasi edukasi interprofesional yang baik di bangku kuliah akan bermuara pada kesiapan tenaga kefarmasian dalam mewujudkan pelayanan kesehatan kolaboratif dan terpadu, sejalan dengan visi SDG 3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera.

Penulis : Gilang Editor : Fathul

Share this post
Type Keyword to Search