Mahasiswa Farmasi UGM Kembangkan ZELAVANT, Inovasi Pendukung Terapi Kanker Payudara Berbasis Tanaman Lokal

Yogyakarta, 30 September 2026 – Kanker payudara masih menjadi salah satu tantangan kesehatan yang membutuhkan pengembangan terapi secara berkelanjutan. Salah satu jenis yang menjadi perhatian adalah triple-negative breast cancer (TNBC), yaitu subtipe kanker payudara yang tidak memiliki reseptor estrogen (ER), progesteron (PR), maupun HER2. Karakteristik tersebut membuat pilihan terapi yang dapat ditargetkan menjadi lebih terbatas.

Dari permasalahan tersebut, lima mahasiswa Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM) mengembangkan ZELAVANT (Zeylanica for adjuvant), sebuah kandidat sistem penghantaran berbasis self-nanoemulsifying drug delivery system (SNEDDS) yang memanfaatkan ekstrak akar Plumbago zeylanica. Penelitian ini dilaksanakan melalui Program Kreativitas Mahasiswa RIset Eksakta (PKM-RE) 2026 dibawah bimbingan drh. Retno Murwanti, M.P., Ph.D

Tim terdiri atas Nasywa Zakia, Antonius Agni Bimantara, Kiara Mahesita Amellia, Fariza Ayu Nur Aini, dan Adinda Putri Az Zahra mengembangkan ZELAVANT sebagai kandidat adjuvan doksorubisin. Ide tersebut berangkat dari penggunaan doksorubisin sebagai salah satu agen kemoterapi pada kanker, sekaligus tantangan berupa toksisitas dan kemoresistensi yang dapat menyertai penggunaannya.

“Kami memilih topik ini karena kanker payudara memiliki prevalensi yang tinggi dan masih memiliki banyak tantangan dalam terapinya. Di sisi lain, pengembangan sediaan berbasis nano juga semakin berkembang. Kami melihat adanya peluang untuk menggabungkan keduanya dengan memanfaatkan tanaman yang ada di Indonesia,” ujar Nasywa, ketua tim ZELAVANT.

Tim kemudian memilih Plumbago zeylanica, atau yang dikenal sebagai Ki encok, sebagai sumber bahan aktif. Tanaman ini merupakan salah satu tanaman yang dapat ditemukan di Indonesia dan masih relatif kurang dimanfaatkan. Bagian akar dipilih karena diketahui memiliki kandungan plumbagin yang tinggi.

Plumbagin merupakan senyawa naftokuinon yang memiliki aktivitas antikanker, salah satunya melalui pengaruh terhadap jalur NF-κB. Jalur tersebut berkaitan dengan berbagai proses yang mendukung kelangsungan hidup sel kanker. Potensi tersebut menjadi dasar tim untuk mengeksplorasi ekstrak akar P. zeylanica sebagai pendamping doksorubisin.

Tantangan berikutnya adalah karakteristik plumbagin yang memiliki kelarutan air rendah. Untuk mengatasinya, tim mengembangkan ekstrak akar P. zeylanica dalam bentuk SNEDDS. Sistem tersebut memanfaatkan kombinasi minyak, surfaktan, dan kosurfaktan yang dapat membentuk nanoemulsi secara spontan ketika berada dalam lingkungan berair. Dengan pendekatan ini, tim berharap dapat membantu meningkatkan kelarutan dan penghantaran senyawa aktif.

Penelitian yang berlangsung selama Juni hingga September 2026 tersebut dilakukan melalui beberapa tahapan, mulai dari ekstraksi tanaman, karakterisasi ekstrak, pengembangan formula SNEDDS, hingga pengujian menggunakan model sel dan hewan. Tim juga melakukan studi in silico untuk mengeksplorasi interaksi plumbagin dengan target yang berkaitan dengan aktivitas antikanker. Salah satu bagian yang paling menarik bagi tim justru muncul ketika penelitian mulai memasuki tahap pengujian menggunakan model hewan. Sel kanker 4T1 digunakan untuk membentuk model tumor pada mencit sehingga tim dapat mengamati perkembangan tumor secara langsung.

Selain itu, kemampuan SNEDDS untuk membentuk nanoemulsi secara spontan ketika berada dalam artificial gastric fluid juga menjadi salah satu hal yang menarik bagi tim. Proses tersebut menunjukkan bagaimana kombinasi bahan yang secara sederhana terlihat seperti campuran biasa dapat dikembangkan menjadi sistem penghantaran dengan karakteristik nano.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa formulasi ekstrak dalam SNEDDS dapat dikembangkan dengan karakteristik yang mendukung penggunaannya sebagai sistem penghantaran. Pada pengujian biologis, kombinasi ekstrak P. zeylanica dalam SNEDDS dengan doksorubisin juga menunjukkan penekanan ekspresi NF-κB dan Bcl-2 dibandingkan kelompok tumor kontrol. Temuan tersebut menjadi dasar awal bagi pengembangan lebih lanjut ZELAVANT sebagai kandidat adjuvan doksorubisin. Melalui penelitian ini, tim berharap eksplorasi terhadap tanaman lokal dapat terus dikembangkan menjadi berbagai kandidat yang memiliki adjuvan doksorubisin yang masih membutuhkan penelitian lebih lanjut.

Terobosan yang diinisiasi oleh mahasiswa Fakultas Farmasi UGM ini berkontribusi langsung pada pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Inovasi ZELAVANT dalam mendukung efektivitas terapi kanker payudara sejalan dengan target SDG 3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera untuk mengurangi angka kematian akibat penyakit tidak menular. Selain itu, pemanfaatan tanaman lokal Ki encok (Plumbago zeylanica) yang diintegrasikan dengan teknologi formulasi nanoemulsi merepresentasikan wujud nyata dari SDG 9 tentang Industri, Inovasi, dan Infrastruktur. Melalui penelitian berkelanjutan ini diharapkan potensi kekayaan alam Indonesia dapat terus dieksplorasi menjadi berbagai kandidat bernilai farmasi tinggi yang mampu bersaing di kancah global.

Penulis: Nasywa Zakia | Editor: Fathul | Foto: Nasywa Zakia

Share this post
Type Keyword to Search