Yogyakarta, 24 Agustus 2026 – Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM) menyelenggarakan seminar secara hybrid bertajuk “Implementasi Quality by Design (QbD) pada Industri Obat Bahan Alam Skala Kecil: Dari Empiris ke Scientific-Based Formulation” pada Senin (24/8). Kegiatan ini menjadi wadah bagi akademisi, praktisi industri, regulator, dan mahasiswa untuk memperkuat pemahaman serta penerapan pendekatan berbasis sains dalam pengembangan produk obat bahan alam.
Pemanfaatan obat bahan alam di Indonesia saat ini berada pada fase transisi dari warisan budaya yang banyak berbasis data empiris menuju komoditas kesehatan modern yang dikembangkan secara scientific-based. Seiring meningkatnya tren back to nature secara global, industri obat bahan alam memiliki peluang ekonomi yang besar. Namun, industri skala kecil masih menghadapi tantangan berupa tingginya variabilitas bahan baku alam yang dapat memengaruhi konsistensi mutu antar batch produksi. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya perubahan paradigma dalam proses manufaktur, dari pendekatan Quality by Testing yang berfokus pada pengujian kualitas di akhir proses menuju pendekatan Quality by Design (QbD) yang membangun kualitas sejak tahap awal perancangan produk. Melalui QbD, pengembangan formulasi dilakukan berdasarkan pemahaman terhadap keterkaitan antara karakteristik bahan, parameter proses, dan atribut mutu produk, sehingga risiko kegagalan produksi dapat diminimalkan sekaligus meningkatkan efisiensi proses.

Seminar ini diselenggarakan untuk memperkenalkan penerapan QbD sebagai pendekatan yang relevan dalam menjembatani formulasi berbasis empiris menuju scientific-based formulation. Peserta diperkenalkan pada konsep Critical Quality Attributes (CQA), Critical Material Attributes (CMA), dan Critical Process Parameters (CPP) sebagai bagian penting dalam merancang dan mengendalikan mutu produk sejak tahap pengembangan. Selain membahas konsep QbD, kegiatan juga mencakup materi mengenai regulasi Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik (CPOTB), dasar formulasi dan inkompatibilitas pada bahan alam, serta prinsip dan penerapan kontrol kualitas produk bahan alam. Untuk memperkuat pemahaman peserta, seminar dilengkapi dengan studi kasus yang mencakup identifikasi CQA dan CMA serta analisis sederhana dalam pengembangan formulasi bahan alam berbasis QbD.
Kegiatan ini menghadirkan Ketua Gabungan Pengusaha Jamu (GP Jamu), Jony Yuwono, MBA., sebagai keynote speaker. Kehadiran beliau memberikan perspektif industri mengenai pengembangan dan penguatan daya saing industri jamu dan obat bahan alam di Indonesia, khususnya dalam menghadapi tuntutan standardisasi mutu dan transformasi menuju industri berbasis sains. Seminar ini juga menghadirkan narasumber dari bidang akademik dan industri. apt. Agus Santosa, S.Farm., selaku Ketua Himpunan Apoteker Seminat Obat Tradisional, membawakan materi “Membangun Industri Obat Tradisional Berbasis Mutu: Integrasi Praktik Lapangan dan Kepatuhan CPOTB”. Dari Fakultas Farmasi UGM, Prof. Dr. apt. Teuku Nanda Saifullah Sulaiman, M.Si., selaku Kepala Laboratorium Teknologi Farmasi UGM, menyampaikan materi mengenai Implementasi QbD pada Formulasi Bahan Alam. Sementara itu, Dr.Eng. apt. Khadijah, M.Si., yang juga merupakan Dosen Laboratorium Teknologi Farmasi UGM, membahas Formulasi dan Inkompatibilitas Bahan Alam, serta apt. Farida Nur Aziza, S.Farm., MGMP, menyampaikan materi mengenai Kontrol Kualitas Produk Bahan Alam.

Seminar ini menyasar berbagai pemangku kepentingan dalam pengembangan obat bahan alam, meliputi pelaku Usaha Mikro Obat Tradisional (UMOT) dan Usaha Kecil Obat Tradisional (UKOT), akademisi, mahasiswa farmasi, praktisi industri farmasi dan bahan alam, serta regulator. Melalui kegiatan ini, peserta diharapkan tidak hanya memperoleh pemahaman konseptual, tetapi juga mampu mengaplikasikan prinsip QbD secara praktis dalam pengembangan dan pengendalian mutu produk bahan alam. Penyelenggaraan seminar ini juga turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3: Good Health and Well-Being melalui penguatan mutu, keamanan, dan pengembangan produk kesehatan berbahan alam; SDG 4: Quality Education melalui peningkatan kapasitas akademisi, mahasiswa, dan praktisi; SDG 8: Decent Work and Economic Growth melalui penguatan daya saing industri obat bahan alam skala kecil; SDG 9: Industry, Innovation and Infrastructure melalui penerapan inovasi dan pendekatan berbasis sains dalam proses formulasi; serta SDG 17: Partnerships for the Goals melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, industri, dan pemangku kepentingan dalam pengembangan obat bahan alam yang bermutu dan berkelanjutan.


