Yogyakarta, 21 Agustus 2026 — Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) yang tergabung dalam Tim PKM-RE BRANOVATE mengembangkan plester transdermal berbasis nanoemulsi ekstrak bekatul beras putih sebagai kandidat terapi dislipidemia pada sindrom metabolik. Inovasi ini menggabungkan pemanfaatan bekatul sebagai hasil samping penggilingan padi dengan teknologi penghantaran obat berbasis nanoemulsi transdermal. Penelitian tersebut saat ini telah memasuki tahap setelah formulasi dan karakterisasi nanoemulsi serta pembuatan plester, dengan tahapan selanjutnya berupa uji pelepasan dan pengujian in vivo.
Pengembangan inovasi ini dilatarbelakangi oleh dislipidemia yang merupakan salah satu komponen sindrom metabolik dan berkaitan dengan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular. Sindrom metabolik merupakan kumpulan gangguan metabolik yang dapat meliputi dislipidemia, hiperglikemia, hipertensi, dan obesitas. Pada kondisi dislipidemia, peningkatan kadar kolesterol total, trigliserida, dan low-density lipoprotein (LDL) dapat berkontribusi terhadap pembentukan plak aterosklerosis.
Selama ini, statin menjadi salah satu terapi utama untuk menurunkan kadar lipid. Namun, menurut tim, terapi jangka panjang masih memiliki sejumlah tantangan, termasuk efek samping dan kebutuhan akan sistem penghantaran alternatif. Kondisi tersebut mendorong BRANOVATE untuk mengeksplorasi bahan alam yang berpotensi dikembangkan sebagai kandidat terapi dislipidemia sekaligus menawarkan pendekatan penghantaran obat yang berbeda.
Bekatul beras putih (Oryza sativa L.) dipilih sebagai bahan penelitian karena mengandung berbagai komponen bioaktif, salah satunya γ-oryzanol. Sejumlah penelitian yang menjadi landasan ide menunjukkan potensi γ-oryzanol dalam membantu memperbaiki profil lipid. Namun, pemanfaatan bekatul sebagai kandidat obat menghadapi tantangan dalam penghantaran dan bioavailabilitas sehingga tim mengembangkan ekstrak bekatul dalam sistem nanoemulsi sebelum diformulasikan menjadi plester transdermal.
Dalam penelitian tersebut, nanoemulsi dikembangkan untuk menghasilkan sistem penghantaran dengan ukuran droplet nano dan karakteristik fisik yang dapat dioptimalkan. Tim menggunakan Miglyol sebagai fase minyak, Tween 80 sebagai surfaktan, propilen glikol sebagai kosurfaktan, serta isopropil alkohol sebagai penetration enhancer. Formula kemudian dikarakterisasi berdasarkan pH, viskositas, ukuran dan distribusi partikel, serta potensial zeta sebelum diformulasikan ke dalam matriks plester transdermal berbasis hydroxypropyl methylcellulose (HPMC). Gliserin digunakan sebagai plasticizer, sedangkan natrium metabisulfit digunakan sebagai antioksidan.
Untuk tahap uji in vivo, penelitian melibatkan 25 ekor tikus jantan yang dibagi secara acak ke dalam lima kelompok, yaitu kontrol normal, kontrol negatif sindrom metabolik, kontrol positif dengan statin, kelompok plester plasebo, dan kelompok perlakuan plester nanoemulsi ekstrak bekatul. Model sindrom metabolik dibentuk melalui induksi lemak dan streptozotocin-natrium (STZ-Na). Efektivitas perlakuan selanjutnya akan dievaluasi melalui perubahan parameter profil lipid, terutama kolesterol total, trigliserida, dan LDL.
Hingga tahap pelaporan kemajuan, tim telah menyelesaikan preparasi dan ekstraksi bekatul serta analisis awal ekstrak. Tim juga telah melakukan profiling awal menggunakan kromatografi lapis tipis (KLT), dilanjutkan dengan optimasi formulasi, karakterisasi nanoemulsi, dan pembuatan plester. Selanjutnya, tim akan menyelesaikan uji pelepasan dan pengujian in vivo untuk mengevaluasi perubahan profil lipid pada hewan uji.

Ketua Tim BRANOVATE, Fauzia Amrina Rosyada, menjelaskan bahwa kekuatan utama inovasi tersebut terletak pada integrasi bahan alam lokal dengan teknologi penghantaran obat. Menurutnya, tim tidak hanya berupaya mengeksplorasi kandidat bahan aktif untuk dislipidemia, tetapi juga mengembangkan sistem penghantaran yang dapat menjawab tantangan formulasi dan menjadi landasan bagi pengembangan lebih lanjut.
“Sindrom metabolik menjadi perhatian karena tidak hanya melibatkan gangguan gula darah, tetapi juga gangguan profil lipid atau dislipidemia yang dapat meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular. Di tengah permasalahan tersebut, kami melihat limbah bekatul beras putih memiliki kandungan yang berpotensi membantu memperbaiki profil lipid. Namun, pemanfaatannya secara oral masih memiliki keterbatasan bioavailabilitas, sehingga kami mengembangkan bekatul dalam bentuk nanoemulsi transdermal,” ujarnya.
Tim BRANOVATE terdiri atas Fauzia Amrina Rosyada dan Elvira Nathania Ardiani dari Program Studi Farmasi angkatan 2023, Aurora Khanifa Jati dan Cika Aida Pusparani dari Program Studi Farmasi angkatan 2024, serta Najwa Rachma Marsanti dari Program Studi Kedokteran angkatan 2025. Penelitian ini didampingi oleh Dr. apt. Adhyatmika dari Universitas Gadjah Mada. Tim menargetkan hasil penelitian ini dapat menjadi bukti praklinis awal bagi pengembangan sistem penghantaran berbasis bekatul serta membuka peluang pemanfaatan hasil samping pertanian menjadi inovasi farmasi bernilai tambah.
Pengembangan BRANOVATE juga mendukung kontribusi UGM terhadap Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera) melalui pengembangan kandidat terapi untuk gangguan metabolik, SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) melalui pengembangan teknologi penghantaran obat, serta SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) melalui upaya meningkatkan nilai guna bekatul sebagai hasil samping penggilingan padi.
Penulis: Tim BRANOVATE PKM-RE 2026 | Reportase: Tim BRANOVATE PKM-RE 2026



