Waisai, 9 Juli 2026 — Tuberkulosis (TB) masih menjadi salah satu penyakit menular yang memerlukan perhatian serius di Indonesia. Keberhasilan pengobatan TB tidak hanya bergantung pada ketersediaan obat, tetapi juga pada kepatuhan pasien dalam menjalani terapi secara rutin selama sedikitnya enam bulan. Tingginya risiko putus obat dapat menyebabkan kegagalan pengobatan hingga munculnya resistensi obat. Oleh karena itu, peran Pengawas Menelan Obat (PMO) menjadi salah satu komponen penting dalam mendukung keberhasilan terapi pasien tuberkulosis.
Sebagai bentuk kontribusi dalam mendukung program eliminasi TB, Tim KKN-PPM Universitas Gadjah Mada Periode II Tahun 2026 Unit Sorai Waisai berkolaborasi dengan Puskesmas Waisai menyelenggarakan program Kader Sigap Tuberkulosis: Pembinaan PMO Posyandu Flamboyan pada Kamis (9/7) di Ruang Yudha, Kodim 1805 Raja Ampat. Kegiatan ini diikuti oleh kader Posyandu Flamboyan, Ketua Persit KCK Cabang XLI Kodim 1805 Raja Ampat, serta dokter dan tenaga kesehatan Puskesmas Waisai. Posyandu Flamboyan dipilih sebagai mitra karena merupakan posyandu pertama di Distrik Kota Waisai yang telah menerapkan Integrasi Layanan Primer (ILP), sehingga penguatan kompetensi kader menjadi bagian penting dalam mendukung pelayanan kesehatan primer yang lebih komprehensif.
Kegiatan diawali dengan pelaksanaan pre-test untuk mengetahui tingkat pengetahuan awal peserta mengenai tuberkulosis. Selanjutnya, Faqih Fikri Nuryanto, mahasiswa Fakultas Farmasi UGM angkatan 2023 menyampaikan materi mengenai penyakit tuberkulosis yang meliputi penyebab, mekanisme penularan, gejala, pencegahan, serta pentingnya deteksi dini. Materi kemudian dilanjutkan secara khusus memaparkan peran dan tanggung jawab kader sebagai Pengawas Menelan Obat (PMO), termasuk strategi mendampingi pasien agar tetap patuh menjalani pengobatan hingga tuntas.
“Tuberkulosis merupakan penyakit infeksi yang memerlukan pengobatan rutin selama minimal enam bulan. Oleh karena itu, kepatuhan pasien menjadi kunci utama untuk mencapai kesembuhan sekaligus mencegah terjadinya resistensi obat. Dalam proses tersebut, kader tuberkulosis memiliki peran yang sangat penting sebagai pendamping dan Pengawas Menelan Obat (PMO). Saya berharap pelatihan ini dapat memperkuat peran kader dalam mendampingi pasien agar tetap patuh menjalani pengobatan hingga tuntas, sehingga bersama-sama kita dapat mendukung tercapainya Indonesia Bebas Tuberkulosis 2030,” ujar Faqih Fikri Nuryanto, sekaligus anggota Tim KKN-PPM UGM Sorai Waisai.
Tidak hanya memperoleh materi, peserta juga terlibat aktif dalam sesi diskusi bersama Tim KKN-PPM UGM dan tenaga kesehatan Puskesmas Waisai. Berbagai pengalaman mengenai pendampingan pasien TB di lingkungan sekitar menjadi topik utama yang dibahas, termasuk mekanisme penularan penyakit, upaya pencegahan, hingga tantangan menjaga kepatuhan pasien selama menjalani terapi. Diskusi berlangsung interaktif dan menjadi wadah berbagi pengalaman antara kader dengan tenaga kesehatan.
Sebagai bentuk evaluasi, kegiatan ditutup dengan post-test berbasis studi kasus untuk mengukur pemahaman peserta terhadap materi yang telah disampaikan. Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan pengetahuan peserta yang tercermin dari perolehan nilai post-test yang lebih baik dibandingkan pre-test. Tingginya antusiasme kader selama mengikuti rangkaian kegiatan juga menunjukkan besarnya komitmen mereka untuk berperan aktif dalam mendampingi pasien tuberkulosis di masyarakat.
Melalui kegiatan ini, diharapkan kapasitas kader dalam mendampingi pasien tuberkulosis dapat semakin meningkat sehingga mampu mendukung keberhasilan pengobatan dan menekan risiko putus obat maupun resistensi. Program ini turut berkontribusi terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera) melalui penguatan upaya promotif dan preventif dalam pengendalian tuberkulosis, SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan pengetahuan dan kompetensi kader kesehatan sebagai agen edukasi di masyarakat, serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui kolaborasi antara Tim KKN-PPM UGM, Puskesmas Waisai dan Posyandu Flamboyan dalam memperkuat pelayanan kesehatan berbasis masyarakat. Melalui sinergi tersebut, program ini menjadi wujud nyata kontribusi Tim KKN-PPM UGM dalam mendukung percepatan eliminasi tuberkulosis serta mewujudkan target Indonesia Bebas Tuberkulosis 2030.
Penulis: Faqih Fikri Nuryanto | Editor: Fathul | Foto: TIM KKN-PPM UGM Sorai Waisai Periode II Tahun 2026



