Yogyakarta, 19 Oktober 2026 — Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM) menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Pembahasan dan Review Formularium Obat Hewan Indonesia” pada Senin (19/10) di Auditorium Gedung APSLC Lantai 8, Fakultas Farmasi UGM. Kegiatan ini menjadi forum diskusi ilmiah lintas pemangku kepentingan untuk menelaah substansi dan menyusun rekomendasi penyempurnaan Formularium Obat Hewan Indonesia. Melalui kegiatan ini, Fakultas Farmasi UGM berupaya mendukung tersedianya acuan penggunaan obat hewan yang berbasis bukti ilmiah, sesuai kebutuhan pelayanan veteriner, dan selaras dengan regulasi yang berlaku.
Obat hewan memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan dan kesejahteraan hewan, meningkatkan produktivitas peternakan, serta mendukung pengendalian penyakit hewan dan perlindungan kesehatan masyarakat. Penggunaannya perlu memperhatikan aspek mutu, keamanan, efektivitas, dan rasionalitas agar manfaat terapi dapat dicapai tanpa menimbulkan risiko yang tidak diinginkan. Dalam konteks tersebut, Formularium Obat Hewan Indonesia diharapkan menjadi salah satu acuan bagi tenaga profesional dan pemangku kepentingan dalam memilih serta menggunakan obat hewan sesuai indikasi, spesies sasaran, dan kebutuhan terapi.
FGD ini melibatkan sekitar 30 peserta dari berbagai institusi dan latar belakang, termasuk Kementerian Pertanian Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Direktorat Kesehatan Hewan, Pusat Veteriner Farma (Pusvetma), Fakultas Farmasi UGM, dan Fakultas Kedokteran Hewan UGM. Kegiatan ini juga melibatkan akademisi dan peneliti bidang farmasi veteriner, akademisi kedokteran hewan, dokter hewan praktisi, apoteker, organisasi profesi, serta pemangku kepentingan terkait lainnya. Keterlibatan berbagai pihak diharapkan dapat memperkaya proses telaah melalui perpaduan perspektif akademik, regulasi, dan praktik pelayanan kesehatan hewan.

Pembahasan mencakup struktur dan sistematika formularium, pengelompokan serta penamaan obat, bentuk dan kekuatan sediaan, hingga kelengkapan informasi penggunaan obat. Peserta juga menelaah kesesuaian daftar obat berdasarkan indikasi, spesies sasaran, dosis, rute pemberian, kontraindikasi, efek samping, dan masa henti obat (withdrawal period) apabila relevan. Selain itu, aspek efikasi, keamanan, mutu, serta bukti ilmiah menjadi bagian penting dalam menilai kesesuaian informasi obat dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan kebutuhan pelayanan veteriner.
Salah satu isu strategis yang turut menjadi perhatian adalah penggunaan antimikroba secara bijak untuk mengendalikan antimicrobial resistance (AMR) atau resistansi antimikroba. Penggunaan antibiotik yang tidak tepat dapat berkontribusi terhadap meningkatnya resistansi, sehingga diperlukan pemilihan dan penggunaan antimikroba yang rasional serta pemantauan yang memadai. Melalui pembahasan ini, penyempurnaan formularium diharapkan dapat turut mendukung penerapan prinsip antimicrobial stewardship dalam praktik kesehatan hewan.
Selain menelaah substansi daftar obat, peserta juga membahas kebutuhan obat berdasarkan kelompok hewan, meliputi hewan ternak, hewan kesayangan, hewan akuatik, dan kelompok lain sesuai kebutuhan pelayanan veteriner. Kesesuaian informasi dalam formularium dengan peraturan perundang-undangan, klasifikasi dan registrasi obat hewan, serta Farmakope Obat Hewan Indonesia (FOHI) turut menjadi perhatian. Proses diskusi diarahkan untuk mengidentifikasi informasi yang perlu ditambahkan, disesuaikan, dikurangi, atau dikaji lebih lanjut sebagai dasar penyusunan rekomendasi.

Melalui paparan pengantar, presentasi bahan formularium, telaah terarah, dan diskusi antarpeserta, FGD ini diharapkan menghasilkan masukan yang komprehensif serta rencana tindak lanjut untuk penyempurnaan Formularium Obat Hewan Indonesia. Kolaborasi antara akademisi, pemerintah, tenaga profesional, dan praktisi menjadi bagian penting untuk memastikan bahwa acuan tersebut dapat menjawab kebutuhan di lapangan sekaligus mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan regulasi. Dengan demikian, formularium diharapkan dapat mendukung penggunaan obat hewan yang lebih tepat, aman, efektif, dan bertanggung jawab.
Kegiatan ini sejalan dengan komitmen Fakultas Farmasi UGM dalam mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 (Good Health and Well-Being) melalui dukungan terhadap pengendalian penyakit hewan dan perlindungan kesehatan masyarakat, termasuk upaya pengendalian resistansi antimikroba. Kegiatan ini juga berkaitan dengan SDG 12 (Responsible Consumption and Production) melalui dorongan penggunaan obat hewan secara rasional dan bertanggung jawab, serta SDG 17 (Partnerships for the Goals) melalui kolaborasi lintas institusi dan profesi dalam penyempurnaan acuan penggunaan obat hewan di Indonesia.
Penulis: Tiara | Foto: Rizqi Vazrin


