Yogyakarta, 12 September 2026 — Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM) menyelenggarakan Webinar Nasional “Sepsis di ICU: Peran Strategis Apoteker dalam Mengoptimalkan Luaran Klinis Pasien” pada Sabtu (12/9). Kegiatan yang dilaksanakan secara daring melalui Zoom Meeting ini mengusung tema “Meningkatkan Peran Klinis Apoteker dalam Optimalisasi Pemantauan Terapi Obat pada Pasien Sepsis di ICU Berbasis Evidence-Based Practice.” Webinar tersebut menjadi wadah bagi tenaga kesehatan, khususnya apoteker, untuk memperkuat kompetensi dalam memberikan pelayanan farmasi klinik pada pasien kritis secara komprehensif dan berbasis bukti ilmiah.
Sepsis merupakan kondisi kegawatdaruratan medis yang ditandai dengan disfungsi organ yang mengancam jiwa akibat respons tubuh yang tidak terkontrol terhadap infeksi. Pada pasien yang dirawat di Intensive Care Unit (ICU), kondisi tersebut membutuhkan penanganan yang cepat, tepat, dan terintegrasi karena pasien umumnya menerima berbagai jenis terapi obat dalam waktu bersamaan. Kompleksitas terapi dan perubahan kondisi fisiologis pasien kritis juga dapat meningkatkan risiko Drug Related Problems (DRPs), interaksi obat, efek samping, ketidaktepatan dosis, serta masalah efektivitas dan keamanan terapi.
Dalam konteks tersebut, apoteker memiliki peran penting sebagai bagian dari tim multidisiplin di ICU, salah satunya melalui kegiatan Pemantauan Terapi Obat (PTO). Pemantauan terapi secara sistematis diperlukan untuk memastikan obat yang diberikan memiliki efektivitas dan keamanan yang optimal sesuai dengan kondisi individual pasien. Oleh karena itu, webinar ini membahas berbagai aspek farmakoterapi pasien sepsis dengan pendekatan evidence-based practice, mulai dari penggunaan antibiotik hingga terapi suportif dan keselamatan penggunaan obat.
Webinar diikuti oleh 150 peserta yang berasal dari berbagai latar belakang, meliputi apoteker rumah sakit, dosen dan akademisi farmasi, mahasiswa profesi apoteker, mahasiswa Magister Farmasi Klinik, serta tenaga kesehatan lainnya. Kehadiran peserta dari berbagai kelompok tersebut mencerminkan pentingnya kolaborasi dan peningkatan kapasitas tenaga kesehatan dalam penanganan pasien sepsis di ICU. Melalui kegiatan ini, peserta mendapatkan pembekalan mengenai tata laksana sepsis, individualisasi farmakoterapi, antimicrobial stewardship, keamanan obat, terapi nutrisi, serta pemantauan terapi obat.
Materi pertama disampaikan oleh Dr. apt. Widyati, M.Clin.Pharm. melalui topik “Principles of Antibiotic Therapy for Infections in ICU Patients”. Materi tersebut membahas prinsip pemilihan dan penggunaan antibiotik secara rasional pada pasien kritis dengan mempertimbangkan kebutuhan terapi dan kondisi klinis pasien. Pembahasan juga menekankan pentingnya penggunaan antibiotik yang tepat untuk meningkatkan efektivitas terapi sekaligus mendukung upaya pengendalian resistensi antimikroba.
Selanjutnya, Prof. Dr. apt. Ika Puspitasari, M.Si. membawakan materi “From Standard Dose to Precision Pharmacotherapy in ICU”. Materi ini membahas perubahan paradigma dari penggunaan dosis standar menuju precision pharmacotherapy yang mempertimbangkan kondisi individual pasien kritis. Peserta diperkenalkan pada perubahan farmakokinetik dan farmakodinamik pada pasien sepsis, individualisasi dosis berdasarkan fungsi organ, serta optimalisasi regimen terapi untuk meningkatkan efektivitas dan keamanan penggunaan obat.
Aspek keselamatan penggunaan obat dibahas melalui materi “High-Alert Medication Safety in ICU” yang disampaikan oleh apt. Anggraini Citra R.B., M.Clin.Pharm. Materi tersebut mengulas penggunaan obat high-alert pada pasien sepsis, termasuk vasopressor, sedatif, analgesik opioid, antikoagulan, dan elektrolit konsentrat yang membutuhkan perhatian khusus dalam penggunaannya. Selain itu, peserta mendapatkan pemahaman mengenai strategi pencegahan medication error, pemantauan terapi, serta peran apoteker dalam memastikan keamanan penggunaan obat dan keselamatan pasien.
Pembahasan berikutnya berfokus pada aspek nutrisi dan terapi suportif melalui materi “Nutrition & Supportive Pharmacotherapy in Sepsis” yang disampaikan oleh dr. Rahma Kusumawardhani, Sp.GK. Materi ini membahas pentingnya pemenuhan kebutuhan nutrisi pada pasien sepsis serta penerapan dukungan nutrisi enteral dan parenteral dalam perawatan pasien kritis. Integrasi terapi nutrisi dan farmakoterapi suportif diharapkan dapat mendukung proses pemulihan sekaligus mengoptimalkan luaran terapi pada pasien sepsis.

Setelah sesi pemaparan materi, webinar dilanjutkan dengan studi kasus (case study) yang dirancang secara interaktif. Dalam sesi tersebut, peserta diajak menganalisis kasus pasien sepsis di ICU, mengidentifikasi DRPs, serta menyusun rekomendasi pemantauan terapi obat berdasarkan kondisi klinis pasien. Sesi ini dipandu oleh fasilitator berpengalaman, sehingga peserta dapat mengaplikasikan pengetahuan yang diperoleh dari sesi sebelumnya dalam konteks kasus klinis.
Melalui webinar ini, Fakultas Farmasi UGM mendorong peningkatan kompetensi dan profesionalisme apoteker dalam menjalankan pelayanan farmasi klinik yang komprehensif, kolaboratif, dan berorientasi pada keselamatan pasien. Pemahaman yang lebih kuat mengenai farmakoterapi presisi, penggunaan antibiotik yang rasional, keamanan obat high-alert, serta terapi nutrisi dan suportif diharapkan dapat membantu apoteker memberikan rekomendasi terapi yang lebih tepat bagi pasien sepsis. Pada akhirnya, penguatan peran klinis apoteker diharapkan dapat berkontribusi terhadap optimalisasi terapi, penurunan risiko medication error dan DRPs, serta peningkatan luaran klinis pasien di ICU.
Kegiatan ini turut mendukung SDG 3 (Good Health and Well-Being) melalui peningkatan kualitas dan keselamatan pelayanan kesehatan bagi pasien kritis. Selain itu, kegiatan mendukung SDG 4 (Quality Education) melalui penguatan kompetensi tenaga kesehatan berbasis evidence-based practice.


