Yogyakarta, 24 Juli 2026 — Program Doktor Ilmu Farmasi, Fakultas Farmasi, Universitas Gadjah Mada (UGM), menyelenggarakan ujian tertutup disertasi Ni Luh Putu Vidya Paramita pada Jumat, 17 Juli 2026. Ujian tertutup dilaksanakan secara hybrid di Ruang Multimedia I, Unit IX, Gedung Pascasarjana Fakultas Farmasi UGM. Dalam ujian tersebut, Vidya mempertahankan disertasi berjudul “Optimization of Nontuberculous Mycobacteria (NTM) Biofilm Formation and Its Application as a Bioassay Model in Bioprospecting of Indonesian Marine Bacteria.”

Dalam ujian tertutup tersebut, Vidya turut melibatkan penguji internasional, yaitu Profesor Charles Bodet dari Faculty of Health, Laboratory Inflammation, Epithelial Tissues and Cytokines, University of Poitiers, Prancis. Keterlibatan penguji dari luar negeri menghadirkan perspektif ilmiah yang lebih luas sekaligus memperkuat atmosfer akademik dan jejaring internasional di lingkungan Program Doktor Ilmu Farmasi, Fakultas Farmasi UGM.
Ujian dipimpin oleh Prof. Dr.rer.nat. Nanang Fakhrudin, M.Si., Apt., selaku ketua tim penguji. Tim promotor terdiri atas Prof. Dr.rer.nat. apt. Triana Hertiani, S.Si., M.Si., dari Fakultas Farmasi UGM, sebagai promotor; Prof. dr. Titik Nuryastuti, M.Si., Ph.D., Sp.MK(K), dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM, sebagai kopromotor I; serta Dr.rer.nat. Linda Sukmarini, M.Eng., dari Pusat Riset Mikrobiologi Terapan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), sebagai kopromotor II.
Tim penguji lainnya terdiri atas Prof. Dr. apt. Erna Prawita Setyowati, M.Si. dan Dr. apt. Indah Purwantini, S.Si., M.Si., dari Fakultas Farmasi UGM; Prof. Dr. Puspita Lisdiyanti, M.Agr.Chem., dari Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN; serta Prof. Dr. apt. Mustofa, M.Kes., dari FK-KMK UGM.
Riset disertasi ini memiliki keterhubungan erat dengan ekosistem keilmuan Indonesian Biofilm Research Collaboration Center (IBRCC), atau Pusat Kolaborasi Riset (PKR) Biofilm, yaitu wadah kolaborasi penelitian riset biofilm yang melibatkan peneliti lintas institusi. Seluruh anggota tim promotor, bersama Prof. Puspita Lisdiyanti dan Prof. Mustofa yang bertindak sebagai penguji, merupakan bagian dari PKR Biofilm. Keterlibatan para peneliti tersebut memperlihatkan kesinambungan kolaborasi antara UGM dan BRIN dalam pengembangan penelitian biofilm di Indonesia.
Dalam sidang tersebut, promovendus memaparkan latar belakang, metode, hasil, kebaruan, dan kontribusi ilmiah penelitiannya. Paparan kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab dan diskusi ilmiah bersama tim penguji.
Mengembangkan Model Pellicle Biofilm NTM untuk Penapisan Ekstrak Aktif
Penelitian Vidya berangkat dari permasalahan infeksi yang disebabkan oleh nontuberculous mycobacteria (NTM), yaitu kelompok bakteri yang banyak ditemukan di lingkungan, termasuk dalam air dan sistem perpipaan. Kemampuan NTM membentuk biofilm menjadi salah satu faktor yang mendukung persistensinya di lingkungan serta meningkatkan toleransinya terhadap antibiotik dan bahan disinfektan. Kondisi tersebut menyebabkan infeksi biofilm NTM sulit diberantas.
Hingga saat ini, metode pembentukan dan pengujian biofilm NTM belum sepenuhnya terstandardisasi. Kondisi ini antara lain disebabkan oleh keragaman spesies NTM serta beragamnya metode yang digunakan untuk membentuk biofilm, bahkan pada galur NTM yang sama. Di lingkungan, NTM juga mampu membentuk pellicle biofilm, termasuk pada sistem perpipaan dan dalam kondisi nutrisi terbatas.
Pellicle biofilm merupakan salah satu fenotipe biofilm NTM yang penting secara fisiologis dan relevan dengan kondisi lingkungan. Meskipun karakteristiknya telah banyak dideskripsikan, penelitian yang mengadaptasi pembentukan pellicle biofilm NTM ke dalam uji mikrotiter plate yang terstandardisasi untuk uji potensi antibiofilm masih terbatas.
Atas dasar permasalahan tersebut, penelitian ini berfokus pada optimalisasi kondisi pembentukan pellicle biofilm NTM untuk menghasilkan model yang stabil dan reproducible. NTM yang digunakan dalam penelitian merupakan bagian dari koleksi biobank infeksius Departemen Mikrobiologi FK-KMK UGM.
Model biofilm yang telah dioptimalkan kemudian diaplikasikan sebagai metode bioasai dalam kegiatan bioprospeksi bakteri laut Indonesia. Kegiatan ini bertujuan mengeksplorasi metabolit yang dihasilkan oleh bakteri laut sebagai sumber kandidat senyawa antimikobakteri dan antibiofilm.

Dalam penelitiannya, Vidya mengembangkan model pellicle biofilm berskala mikro menggunakan mikroplat 96 sumuran. Sejumlah parameter dievaluasi, meliputi jenis medium, kepadatan inokulum, lama inkubasi, volume kultur, dan metode pembentukan biofilm.
Tahapan uji pembentukan mencakup pengambilan medium yang mengandung sel planktonik, pencucian biofilm, pewarnaan menggunakan kristal violet, serta pengambilan cairan hasil pewarnaan dengan teknik mikropipet. Optimalisasi berbagai parameter tersebut dilakukan untuk memperoleh biomassa biofilm yang stabil dan dapat diukur secara konsisten.
Model yang dihasilkan selanjutnya digunakan untuk menyeleksi ekstrak bakteri laut yang berasal dari Lombok, Indonesia, dan tersimpan dalam koleksi BRIN. Dari proses penapisan tersebut, ekstrak A21-064 menunjukkan potensi aktivitas. Ekstrak ini dihasilkan oleh bakteri laut galur SPL 22-64 yang teridentifikasi memiliki kedekatan dengan Nocardia sp.
Analisis profil metabolit menggunakan liquid chromatography–high-resolution mass spectrometry (LC-HRMS) menunjukkan keberadaan sejumlah senyawa yang dianotasi secara putatif sebagai dipeptida siklik dari kelompok diketopiperazina.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa pengembangan model biofilm NTM tidak hanya penting untuk memahami karakteristik pembentukan biofilm, tetapi juga berpotensi mendukung penapisan sumber daya hayati laut Indonesia dalam pencarian kandidat senyawa antibiofilm baru terhadap NTM.
Mendukung Pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan
Penelitian ini turut berkontribusi terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera. Kontribusi tersebut diwujudkan melalui pengembangan metode penapisan kandidat senyawa antimikobakteri dan antibiofilm yang pada masa mendatang berpotensi mendukung upaya penanganan infeksi yang berkaitan dengan NTM.
Pengembangan model bioasai berskala mikro dan protokol pembentukan pellicle biofilm juga sejalan dengan SDG 9 tentang Industri, Inovasi, dan Infrastruktur. Model yang dikembangkan berpotensi mendukung proses penapisan ekstrak secara lebih efisien dan dalam jumlah yang lebih banyak, sekaligus membuka peluang pengembangan metode tersebut menjadi inovasi yang dapat dimanfaatkan dalam penelitian lanjutan.
Eksplorasi bakteri laut Indonesia dalam penelitian ini turut bersinggungan dengan SDG 14 tentang Ekosistem Lautan, khususnya dalam mendorong pemanfaatan keanekaragaman hayati laut secara bertanggung jawab dan berkelanjutan untuk menghasilkan pengetahuan dan kandidat senyawa bioaktif bernilai kesehatan.
Sementara itu, keterlibatan peneliti dari UGM, BRIN, dan Universiy of Poitiers, serta keterhubungan penelitian dengan PKR Biofilm, memperkuat implementasi SDG 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. Kolaborasi tersebut mempertemukan keahlian di bidang farmasi, mikrobiologi, biofilm, dan bioprospeksi dalam menjawab permasalahan kesehatan melalui pendekatan lintas disiplin dan lintas institusi.
Memperkuat Kolaborasi Riset dan Internasionalisasi Pendidikan Doktor
Keterlibatan Professor Charles Bodet sebagai penguji internasional mencerminkan komitmen Program Doktor Ilmu Farmasi dalam meningkatkan mutu akademik dan memperkuat internasionalisasi pendidikan doktor. Kehadiran akademisi dari institusi luar negeri memungkinkan penelitian mahasiswa doktoral dievaluasi melalui perspektif yang lebih luas dan berdasarkan standar ilmiah internasional.
Keterlibatan penguji internasional tersebut sekaligus memperluas jejaring keilmuan yang telah terbangun melalui kolaborasi para peneliti dalam PKR Biofilm (IBRCC). Pertemuan antara jejaring riset nasional dan perspektif akademik internasional membuka peluang bagi pengembangan penelitian biofilm NTM melalui kerja sama lintas institusi dan lintas negara.
Selain memberikan masukan mengenai metodologi dan interpretasi hasil penelitian, diskusi dalam ujian turut membahas relevansi biologis model biofilm yang dikembangkan, keterbatasan penelitian, serta peluang pengembangannya pada masa mendatang.
Penelitian ini telah menghasilkan dua publikasi pada jurnal internasional bereputasi, satu presentasi dalam seminar internasional, serta satu draf protokol yang direncanakan untuk didaftarkan sebagai paten. Protokol tersebut memuat metode pembentukan pellicle biofilm Mycobacterium fortuitum pada mikroplat 96 sumuran.
Protokol ini menjadi salah satu kebaruan penelitian karena memungkinkan pembentukan pellicle biofilm dalam waktu yang lebih singkat dibandingkan dengan sejumlah metode yang telah dipublikasikan sebelumnya untuk jenis galur NTM yang sama. Selain itu, metode tersebut menggunakan kondisi inkubasi berskala mikro sehingga berpotensi mendukung penapisan ekstrak dalam jumlah lebih banyak secara efisien.
Setelah melalui pemaparan, diskusi, dan proses pengujian, Ni Luh Putu Vidya Paramita dinyatakan lulus dan berhak memperoleh gelar Doktor dalam bidang Ilmu Farmasi dengan tetap memenuhi ketentuan akademik yang berlaku.
Keberhasilan tersebut diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi perkembangan penelitian biofilm, khususnya dalam pengembangan metode pengujian biofilm NTM. Penelitian ini juga membuka peluang pemanfaatan keanekaragaman bakteri laut Indonesia secara bertanggung jawab sebagai sumber kandidat senyawa antimikobakteri dan antibiofilm.
Melalui sinergi pendidikan doktor, kolaborasi lintas institusi, dan pengembangan inovasi berbasis keanekaragaman hayati Indonesia, penelitian ini diharapkan dapat memperkuat kontribusi perguruan tinggi dan lembaga riset dalam menjawab tantangan kesehatan di tingkat nasional maupun global.
Penulis: Vidya | Foto: Vidya | Editor: Fathul


