Archive:

Language: Bahasa Indonesia

Pentingnya Penataan Sistem Pelayanan Kesehatan di Indonesia

Farmasi UGM – Fakultas Farmasi UGM kembali selenggarakan webinar skala nasional pada tanggal 28 Juli 2020 lalu. Tema yang diangkat pada webinar kali ini adalah mengenai penelitian kefarmasian di bidang farmasi sosial dengan tajuk ‘Research in Social Pharmacy and its Contribution for Health Care’. Kali ini, Farmasi UGM menghadirkan empat pembicara yang memiliki latar belakang bidang farmasi sosial dan komunitas, diantaranya Dr. apt. Dwi Endarti, M.Sc., Dr. apt. Satibi, M.Si., Dr. apt. Susi Ari Kristina, M.Kes., serta apt. Niken Nur Widyakusuma, M.Sc.

Dengan dimoderatori oleh apt. Anna Wahyuni W., MPH, Ph.D., acara tersebut berlangsung selama hampir tiga jam dengan banyak membahas Sistem Pelayan Kesehatan di Indonesia, termasuk juga manajemen pelayanan dan pengelolaan data yang tepat. Adapun Dwi Endarti dalam kesempatan kali ini menyampaikan materi terkait ‘Implementation of Pharmacoeconomic Analysis on Drug Selection’. Lebih lanjut Dwi menjabarkan tentang pentingnya manajemen obat-obatan karena akan sangat berhubungan dengan sistem pelayanan kesehatan. “Apalagi dalam pelayanan kesehatan, obat-obatan menyerap porsi anggaran yang cukup tinggi”, ungkap Dwi.

Mengamini hal tersebut, Satibi juga mengatakan bahwa ketersediaan obat merupakan salah satu indikator keberhasilan dalam sistem pelayanan kesehatan. Dalam materi yang diwakannya berjudul ‘The Importance of Inventory Control Management for Supporting Avaibillity of Medicine’, Satibi meluruskan dalam sebuah grafik data bahwa kenyataan di lapangan, manajemen ketersediaan obat di Indonesia sering kali belum maksimal. “Nyatanya, walau tidak semua, namun ada beberapa tempat pelayanan kesehatan yang memiliki item stock berlebih, sehingga menyebabkan inventory yang berlebihan”, kata Satibi.

Permasalahan-permasalahan yang kerap muncul dalam kaitannya dengan manajemen obat-obatan di suatu pelayanan kesehatan sering kali sama, baik itu perihal stok maupun proses distribusi obat dari produsen ke para pengguna. Di sini, big data sangat berperan untuk mengumpulkan informasi-informasi penting dari berbagai tempat dan wilayah di Indonesia sehingga pendistribusian obat-obatan dapat dilakukan secara tepat sesuai dengan kebutuhan. Terlebih didukung dengan perkembangan teknologi informatika yang cukup mumpuni, sehingga bukan tidak mungkin hal tersebut dapat direalisasikan. Lebih jauh lagi, Niken dalam materi yang dibawakannya yang berjudul ‘Big Data in Pharmacy Research: Challenges and Opportunities’ menegaskan bahwa big data sangat berguna untuk kebutuhan analisis permasalahan, dalam hal ini kaitannya dengan riwayat penyakit yang pernah diderita oleh masyarakat serta manajemen obat-obatan di fasilitas kesehatan di Indonesia.

Pada farmasi sosial sendiri, selain aspek-aspek yang berkaitan dengan manajemen obat-obatan, sebuah pelayanan kesehatan juga seharusnya melingkupi primary care. Dalam materi ‘Expanding role of Pharmacist in Primary Care’, Susi menjelaskan bahwa suatu pelayanan kesehatan harusnya mencakup pelayan yang lebih luas. Tidak hanya berkaitan dengan obat, namun juga psikis dan mental pasien, serta kesehatan sosial dan wellbeing. “Contoh sederhananya adalah pelayanan Posyandu, disana kita juga harus memberikan edukasi tambahan seperti nutrisi ataupun permasalahan-permasalahan kesehatan umum diluar penyakit-penyakit tertentu”, terang Susi. Tentunya hal ini juga tidak terlepas dari tugas utama farmasis dalam memberikan edukasi tentang penggunaan obat-obatan itu sendiri.

Sistem pelayanan kesehatan di Indonesia saat ini sudah memasuki fase yang lebih maju. Sehingga penataan manajemen dan pengelolaan data kefarmasian dari seluruh tempat fasilitas kesehatan di Indonesia menjadi sangat krusial untuk menuju sistem pelayanan yang lebih baik lagi (Humas FA/ Yeny)

Kepala BSN: 1.421 Laboratorium Penguji Sudah Terakreditasi

Kepala Badan Standardisasi Nasional (BSN) Indonesia, Drs. Kukuh Syaefudin Achmad, M.Sc., mengatakan sebanyak 1.421 laboratorium penguji sudah mendapat akreditasi dari lembaga Komite Akreditasi Nasional. “Sejak 1998 hingga sekarang ini laboratorium pengujian yang sudah diakreditasi oleh KAN sebanyak 1.421 laboratorium,” kata Kukuh dalam  Webinar Standardization and Quality Assurance in Chemical Analysis Laboratories yang diselenggarakan Fakultas Farmasi UGM, Rabu (29/7).

Selain laboratorium pengujian, ada juga 321 laboratorium kalibrasi, 75 laboratorium medik dan 24 laboratorium penyelenggara uji profisiensi yang sudah mendapat akreditasi. Menurutnya, laboratorium yang sudah mendapat standardisasi dan penyesuaian dari KAN ini berarti sudah diakui secara internasional. “Proses akreditasi laboratorium yang dilakukan oleh KAN sudah diakui lembaga internasional,” paparnya.

Menurutnya, laboratorium perlu mendapat pengakuan standardisasi sesuai dengan amanat UU No. 20 Tahun 2014 tentang Standardisasi dan Penilaian Kesesuaian. “Standardisasi dikelola BSN lalu akreditasi dikelola KAN, sedangakan metrologinya juga dari BSN,” ujaranya.

Laboratorium yang lolos penilaian akreditasi nantinya akan mendapat SNI ISO 17025 dan diantaranya memenuhi kriteria penilaian kompetensi, ketidakberpihakan dan konsistensi pengoperasian laboratorium, dan digunakan untuk konfirmasi atau pengakuan kompetensi oleh customer.

Dosen Farmasi Universitas Surabaya, Prof. Dr. Gunawan Indrayanto, mengatakan metode validasi yang diterapkan dalam sebuah laboratorium bisa mendorong peningkatan kualitas jaminan mutu dari standardisasi laboratorium industri obat, makanan dan kosmetik. Meski demikian, kemampuan SDM, metode dan material yang diuji juga saling memengaruhi. “Jika analisis baku dan alat yang digunakan bagus, namun bahan yang digunakan tidak bagus juga tidak akan berguna,” katanya.

Dosen Farmasi UGM, Prof. Dr. Sudibyo Martono, mengatakan proses dokumentasi dan pelacakan sampel perlu dikedepankan oleh laboratorium analisis kimia agar bisa mendapat pengakuan dan kepercayaan dari pengguna.” Dokumentasi menjadi penting bila mana ada orang ingin tahu pekerjaan spesifik yang sudah dilakukan, kita sampaikan SOP, metode dan analisis kerja dengan tata cara pekerjaan yang dilakukan sehingga layak dipercaya,” katanya.

Penulis   : Gusti Grehenson
Sumber : Portal UGM

Alumnus Farmasi UGM Ungkap Hal yang Perlu Diperhatikan Sebelum Mengkonsumsi Obat Herbal

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Beberapa waktu belakangan, obat herbal kembali populer, terutama ketika pandemi virus corona mulai melanda Indonesia.

Pasalnya, obat yang berasal dari bahan alam ini dianggap memiliki khasiat, salah satunya adalah menjaga daya tahan tubuh.

Namun demikian, masyarakat mesti mengetahui tata cara memilih obat herbal secara tepat.

Hal ini dibahas oleh alumnus Fakultas Farmasi UGM, Drs. Bambang Priyambodo dalam akun You Tube pribadinya.

Menurut Bambang, obat tradisional atau herbal memang memiliki keunggulan dibanding obat kimia.

Misalnya, efek samping yang relatif kecil jika penggunaannya dilakukan dengan tepat.

Selain itu, komponen dalam satu bahan obat herbal memiliki efek saling mendukung.

“Obat herbal juga bagus untuk pengobatan penyakit degenratif, karena penggunaan obat herbal lebih cocok untuk pemakaian jangka panjang dengan efek samping minimal,” ungkap GM Manufacture PT Air Mancur ini.

Kendati demikian, ada dosis yang mesti ditepati jika mengonsumsi obat herbal.

Misalnya, kata Bambang, mengonsumsi air seledri secara berlebihan dapat menurunkan tekanan darah secara drastis.

“Demikian pula penggunaan gambir untuk menghentikan diare, kalau lebih dari satu ruas ibu jari bisa menyebabkan sembelit atau konstipasi.”

“Konsumsi minyak jarak juga bisa menyebabkan iritasi saluran pencernaan dan kehilangan cairan tubuh.”

“Meniran yang bisa digunakan untuk imunomodulator, jika lebih dari satu genggam dan dikonsumsi dalam jangka panjang bisa menyebabkan iritasi ginjal,” imbuhnya.

Lebih lanjut, Bambang mengimbau masyarakat yang meracik obat tradisional sendiri agar jangan sampai salah memilih bahan.

Agar khasiat dari tanaman herbal bisa keluar, masyarakat perlu memperhatikan proses pengolahannya.

“Misalnya daun dewa yang digunakan untuk berbagai macam penyakit dan daun sambungnyowo yang bisa digunakan untuk obat kanker. Bentuk daunnya sama sehingga sulit untuk memilih dalam keadaan kering.”

Agar bisa mengonsumsi obat-obatan herbal dengan aman, Bambang memberikan beberapa tips, seperti menggunakan obat tradisional yang sudah terbukti keamanannya.

Indikator keamanan ini adalah dari tulisan POM TR atau TI untuk jamu, POM HT untuk Obat Herbal Terstandar, dan POM FF untuk fitofarmaka. (Ez/-Th)

Sumber : kagama.co

Laboratorium Farmakoterapi dan Farmasi Klinik Selenggarakan Webinar Tentang Interaksi Obat dalam Praktik Kefarmasian

Farmasi UGM – Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada melalui Laboratorium Farmakoterapi dan Farmasi Klinik kembali menyelenggarakan webinar di tengah masa Pandemi Covid-19 ini. Webinar yang kedua ini diselenggarakan pada hari Sabtu 25 Juli 2020 melalui platform Zoom Webinar. Laboratorium yang dipimpin oleh Prof. Dr. apt. Djoko Wahyono, SU. tersebut kali ini membawakan sebuah tema yang tampaknya telah sangat dinanti-nanti oleh para sejawat apoteker se-Indonesia, yaitu “Penatalaksanaan Interaksi Obat dalam Praktik Kefarmasian”.

Pada webinar yang kedua ini, tema “Penatalaksanaan Interaksi Obat dalam Praktik Kefarmasian” disajikan dalam bentuk tiga paparan materi dari tiga orang narasumber yang berbeda. Laboratorium Farmakoterapi dan Farmasi Klinik masih menggunakan konsep yang sama dengan webinar pertama, yaitu kombinasi narasumber akademisi dan praktisi untuk menyeimbangkan antara muatan teoritis dan praktis bagi para peserta. Pada webinar yang dimoderatori oleh apt. Woro Harjaningsih, Sp.FRS. kali ini, narasumber akademisi yang dihadirkan adalah apt. Mawardi Ihsan, M.Sc. yang merupakan seorang staf pengajar muda dan Dr. apt. Fita Rahmawati, Sp.FRS. yang merupakan staf pengajar senior dari Fakultas Farmasi, sedangkan narasumber praktisi yang dihadirkan adalah apt. Mustaruddin, M.Sc. yang merupakan seorang apoteker farmasi klinik di bangsal penyakit dalam RSUP Dr. Sardjito, Yogyakarta.

Paparan materi yang pertama disampaikan oleh apt. Mawardi Ihsan dengan judul “Kajian Penatalaksanaan Interaksi Obat-obat” yang bersifat teoritis sebagai pembuka untuk paparan materi kedua yang bersifat praktis yaitu “Studi Kasus Interaksi Obat-obat dalam Praktik Kefarmasian” yang disampaikan oleh apt. Mustaruddin. Keduanya diharapkan dapat menyeimbangkan pengetahuan teoritis dan praktis sehingga para peserta dapat lebih memahami prinsip dan penerapan interaksi obat-obat dalam praktik kefarmasian. Dilanjutkan setelahnya, yaitu paparan materi yang ketiga, apt. Fita Rahmawati menyampaikan ilmu yang sangat bermanfaat kepada para peserta dengan judul “Interaksi Obat pada Sediaan Parenteral”. Ketiga paparan materi dari narasumber tersebut diharapkan dapat menyempurnakan wawasan para peserta berkaitan dengan interaksi obat.

Pada webinar yang kedua ini, tingkat antusiasme peserta sudah tinggi sejak sebelum pelaksanaan webinar yang ditandai dengan jumlah peserta yang mendaftar sebanyak 477. Kemudian ketika pelaksanaan webinar, antusiasme peserta masih tetap tinggi yang ditunjukkan dengan rerata jumlah peserta yang mengikuti webinar berjumlah sekitar 300 orang yang dengan kata lain persentase kehadiran peserta adalah sebesar 63%. Antusiasme peserta ternyata tidak berhenti hanya sampai di situ karena pada akhir acara, jumlah pertanyaan yang masuk sangat banyak sehingga tidak semua pertanyaan dapat dijawab secara langsung pada sesi diskusi pada akhir webinar.
Semoga Laboratorium Farmakoterapi dan Farmasi Klinik, Fakultas Farmasi, Universitas Gadjah Mada dapat terus bermanfaat bagi masyarakat dan apoteker Indonesia melalui webinar-webinar selanjutnya. (Humas FA UGM)

Serba-Serbi Webinar Farmasi UGM

Farmasi UGM. Webinar merupakan singkatan dari kata web dan seminar, sebuah seminar yang dilakukan dengan melalui web atau aplikasi tertentu (platform) berbasis internet. Dengan pelaksanaan webinar, kita bisa melakukan kegiatan seminar, konferen, talkshow, focus group discussion melalui sebuah video conferencing platform yang berbasis internet, tanpa harus menggunakan ruang meeting, keterlibatan banyak panitia pelaksana serta waktu persiapan lebih efisien.

Sebenarnya ide webinar Farmasi UGM adalah untuk mengisi waktu bagi sivitas akademik di masa-masa pandemi covid-19, dan sharing ilmu, pengetahuan dan pengalamannya dalam rangka edukasi kepada publik. Di samping itu, webinar merupakan metode yang bisa digunakan menggantikan kegiatan-kegiatan rutin di fakultas yang bersifat luar jaringan yaitu Seminar Pascasarjana, Seminar Dosen Muda, Pelatihan, Conference, Kuliah Tamu dll. Level pelaksanaan web seminar tersebut bisa bersifat nasional maupun internasional. Contoh webinar nasional adalah Webinar on Pharmacy Education : How to Keep Productivity in Publication during Covid-19 Pandemic?, Webinar New Perspective on Drug Discovery and Development in Industrial Revolution 4.0, Webinar on Standardization and Quality Assurance in Chemical Analysis Laboratories. Contoh webinar internasional adalah Webinar Pharmacy Education to Covid-19 : Know What to Do and be Prepared (kerjasama dengan ASEAN PharmNET dan Senior Experten Services Germany), Webinar Systematic Review and Meta Analysis in Pharmacy Practice (kerjasama dengan Faculty of Pharmacy, Mahidol University, Thailand). Selama bulan Juni dan Juli 2020, total webinar yang sudah diselenggarakan sebanyak 23 acara.

Pelaksanaan web seminar menggunakan video conferencing platform Zoom versi webinar dan disiarkan secara live melalui channel youtube Kanal Pengetahuan Fakultas (KPF) Farmasi UGM. Pelaksanaan web seminar tersebut tidak lepas dari peran Kanal Pengetahuan Fakultas (KPF) Farmasi UGM dan Unit Urusan Internasional (UUI) Farmasi UGM. Kanal Pengetahuan Fakultas (KPF) Farmasi UGM adalah salah satu unit yang merupakan wadah pengembangan kualitas sumber daya sivitas akademika (terutama mahasiswa) di bidang softskill, atau keterampilan pendukung akademik di bidang videografi, fotografi, dan jurnalistik. Melalui KPF, sarana dan prasana yang digunakan untuk mendukung pelaksanaan webinar Fakultas Farmasi UGM adalah camera camcoder, beberapa jenis lighting, microphone, led tv, laptop, ruang multimedia dan studio yang nyaman. Peralatan yang digunakan sudah memenuhi standar untuk membuat sebuah video pembelajaran, video profil, dokumenter dan acara-acara di Fakultas. “Pelaksanaan webinar sebagai sarana untuk menyebarkan pengetahuan sejalan dengan tujuan dari Kanal UGM sebagai menara air yang mengalir ke seluruh pelosok tanah air”, ujar Gatot Sadewo, ST, MSc selaku Kepala Seksi Akademik dan Kemahasiswaan.

Menurut Sidiq Fatony, A.Md.Kom, staf jurnal dan juga anggota Kanal Pengetahuan Farmasi, metode webinar ini sangat inovatif dan bermanfaat di era teknologi modern jaman sekarang. Namun, masih perlu dimaksimalkan lagi, karena teknologi akan terus berkembang jadi apa salahnya memanfaatkan teknologi informasi yang ada dari sekarang. “Saya sebagai tim (yang mempersiapkan webinar) lebih mudah untuk mempersiapkan daripada seminar yang biasanya diselenggarakan oleh fakultas secara luar jaringan”, tambahnya. Dr. Susi Ari Kristina (Ketua Unit Urusan Internasional Farmasi UGM), selaku koordinator umum webinar menyampaikan bahwa webinar sangat membantu di dalam menjaga kegiatan-kegiatan akademik dan pendukung akademik tetap bisa berjalan, dan bahkan dengan metode webinar, jumlah kegiatan-kegiatan tersebut cenderung meningkat. “Semoga bermanfaat dan menjadi keberkahan pada masa pandemi covid-19 ini” (Humas FA UGM).

Softskill Sebagai Penguat Integritas Lulusan Apoteker UGM

Farmasi UGM – Program Studi Profesi Apoteker (PSPA) mengadakan kegiatan pengembangan softskill secara intensif pada tanggal 19-21 Juli 2020. Mengusung tema ‘Metamorphosing Disadvantages into Self-Investment’, PSPA mengundang narasumber-narasumber yang berpengalaman, antara lain apt. Linda Dimyati, S.Si., M.M., Ratih Widyastuti, S.Psi., apt. Didik Sugiarto, S.Si., I Made Andi Arsana, Ph.D., dan Ir. Muhammad Mahmud. Selain itu, diselenggarakan pula workshop oleh tim Upgrad.id, mengenai kiat-kiat mempersiapkan diri menghadapi job interview.

Dalam acara yang berlangsung secara daring tersebut, ketua prodi profesi apoteker, Dr. apt. Ika Puspitasari, berpesan agar para peserta tetap mengambil substansi dari apa yang disampaikan para pemateri softskill. “Pentingnya menanamkan softskill agar dapat mencetak lulusan apoteker yang handal, profesional, dan menjadi leading di bidangnya”, imbuh Prof. Dr. apt. Agung Endro Nugroho, dekan Fakultas Farmasi.

Hari pertama kegiatan softskill diisi oleh dua orang pemateri. Pada sesi satu Bu Ratih menyampaikan materi tentang personal branding. Kemudian dilanjutkan materi oleh Ibu Linda yang juga sekaligus alumni Fakultas Farmasi UGM. Beliau menyampaikan tentang career insight bagi apoteker di Rumah Sakit. Keeseokan harinya, disampaikan materi enterpreneurship oleh Pak Didik dan materi public speaking oleh Pak Andi yang merupakan dosen Geodesi UGM.

Pada hari terakhir, dilaksanakan simulasi job interview dan LGD (Leaderless Group Discussion) dengan mitra Upgrad.id. Dan agenda softskill ditutup oleh materi oleh Ir. Muhammad Mahmud, direktur utama Kawasan Industri Makasar. Beliau menyampaikan bahwa poin penting dari suatu promosi jabatan adalah ‘trust’. Dari acara ini semoga dapat menjadi gambaran bagi mahasiswa PSPA dalam mempersiapkan diri masuk ke dunia kerja. (Yusuf Patria)

Basic Philosophy of Drug Discovery and Development

Farmasi UGM – Fakultas Farmasi UGM undang Deputi bidang pengawasan obat tradisional, suplemen kesehatan dan kosmetik BPOM RI, Dra. Apt. Mayagustina Andarini, M.Sc., pada opening remark webinar bertajuk Basic Philosophy of Drug Discovery and Development. Acara yang terselanggara pada 20 Juli 2020 tersebut  turut menghadirkan pula para peneliti Fakultas Farmasi UGM untuk menjadi pemateri, seperti Prof. Drs. apt. Sugiyanto, SU, PhD., serta Dr. apt. Arief Nurrochmad, M.Si., M.Sc., dan Dr. apt. Nunung Yuniarti, M.Si.

Sebagaimana tema yang diangkat dalam judul webinar kali ini, dalam opening remark Mayagustina juga mengingatkan bahwa obat tidak hanya dari bahan sintesis saja, namun juga bahan alam. Terlebih, mengingat Indonesia yang memiliki sumber bahan bagi obat-obatan herbal yang sangat kaya. Hal ini sangat menguntungkan bagi Indonesia karena keterseiaan obat kelak tidak hanya bergantung pada obat-obatan sintetik yang bahannya lebih terbatas. BPOM sendiri memiliki peran yang cukup krusial dalam pengawalan penggunaan obat-obatan di Indonesia. Beberapa diantaranya yaitu, evaluasi data efikasi, penyediaan informasi produk untuk tenaga kesehatan dan masyarakat, pemantauan efek samping obat, hingga membangun kerja sama penta helix. Mayagustina juga menegaskan bahwa farmakologi, toksikologi, dan drug discovery tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Sehingga dalam proses penemuan dan pengembangan obat baru sudah tentu harus memperhatikan step by step dari cara pembuatan obatan yang baik dan benar.

Sugiyanto juga mengamini hal tersebut. Dalam proses penemuan calon obat, ada baiknya para peneliti tidak melewatkan tahap-tahap penting, seperti menetapkan tujuan dari apa yang ingin ditemukan nanti, serta manfaat apa yang akan didapat oleh pasien jika obat tersebut telah didapatkan formulasinya. “Tidak semua obat yang bahkan sudah diidentifikasikan senyawa penuntunya, profile, juga compound nya dapat di dikembangkan dengan sukses”, kata Sugiyanto.

Di Indonesia sendiri, rata-rata drug discovery merupakan hasil dari penelitian yang kemudian dikembangkan. Dalam prosesnya nanti, peran toksikologi sangat penting untuk melihat pengaruh formula obat tersebut bagi organisme hidup. “Dari hasil pengamatan toksikologi ini nantinya akan digunakan untuk membuat desain obat”, terang Arief Nurrochmad.

Selama hampir dua jam, peserta webinar disuguhkan materi-materi menarik serta kesempatan untuk berinteraksi langsung dalam tanya jawab perihal drug discovery dengan dimoderatori oleh Drh. Retno Murwanti, MP, PhD. Di sesi terakhir, Nunung Yuniarti turut pula menyampaikan tentang Pharmacological Approach to Establish the Efficacy and Mechanism of New Drugs. (Humas FA/ Yeny)

Laboratorium Farmakoterapi dan Farmasi Klinik Fakultas Farmasi UGM Selenggarakan Webinar Penerapan Farmakovigilans dalam Praktik Kefarmasian

Farmasi UGM – Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada selenggarakan webinar pada Jumat 17 Juli 2020. Kali ini panitia penyelenggara webinar dari Fakultas Farmasi adalah salah laboratorium keilmuan yang berada di dalamnya, yaitu Laboratorium Farmakoterapi dan Farmasi Klinik. Laboratorium yang dikepalai oleh Prof. Dr. apt. Djoko Wahyono, SU., tersebut berkomitmen untuk tetap mengabdi, beraktualisasi, dan berkontribusi kepada apoteker se-Indonesia dalam pengembangan kompetensi apoteker di area pelayanan farmasi atau farmasi klinik.

Webinar tersebut direncanakan untuk diselenggarakan secara berkelanjutan sebagaimana Program Pengembangan Pendidikan Apoteker atau yang juga dikenal Continuous Professional Development bagi apoteker. Pada webinar Laboratorium Farmakoterapi dan Farmasi Klinik yang pertama ini, tema besar yang diangkat adalah ‘Penerapan Farmakovigilans dalam Praktik Kefarmasian’ dan disajikan dengan paparan materi dari tiga orang narasumber dan ditutup dengan sesi tanya-jawab. Tingkat antusiasme peserta dalam webinar tersebut dinilai tinggi karena jumlah peserta riil yang mengikuti webinar adalah sekitar 200 orang dari sekitar 300 orang pendaftar (67%).

Paparan materi yang pertama disampaikan oleh apt. Fivy Kurniawati, M.Sc. yang merupakan salah satu staf pengajar Fakultas Farmasi UGM yang menekuni bidang ilmu farmasi klinik dengan topik yang disampaikan yaitu Kajian Umum Farmakovigilans: Deteksi ADR. Paparan materi yang kedua disampaikan oleh apt. Woro Harjaningsih, Sp.FRS. yang juga merupakan salah satu staf pengajar Fakultas Farmasi UGM yang menekuni bidang ilmu farmakoterapi gangguan saraf dan gangguan kesehatan jiwa dengan topik Kajian Efek Samping Obat-Obat Anti-Psikotik. Pada paparan materi yang ketiga, apt. Budi Raharjo, Sp.FRS. yang merupakan seorang apoteker senior dan praktisi farmasi klinik di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo, Purwokerto menyampaikan topik Studi Kasus Efek Samping Obat dalam Praktik Kefarmasian Antusiasme peserta tetap tinggi sampai akhir acara yang ditandai dengan jumlah peserta yang tetap berada di kisaran 200 dan banyaknya pertanyaan yang masuk. Namun demikian, karena keterbatasan waktu yang ada, maka tidak semua pertanyaan dapat dijawab secara langsung pada kesempatan tersebut.

Semoga Laboratorium Farmakoterapi dan Farmasi Klinik, Fakultas Farmasi, Universitas Gadjah Mada dapat terus bermanfaat bagi masyarakat dan apoteker Indonesia melalui webinar-webinar selanjurnya. (Mawardi/Humas FA UGM)

Komputasi Bantu Penemuan dan Pengembangan Obat

Pengembangan obat terus dilakukan untuk menghasilkan produk yang bermanfaat bagi umat manusia. Kendati begitu, pengembangan obat membutuhkan tahapan proses yang panjang dan tidak mudah. Bahkan, perlu waktu hingga bertahun-tahun dan memakan biaya besar.

“Proses penemuan obat cukup kompleks, bisa sampai 8-16 tahun. Tidak hanya lama, tetapi juga butuh biaya besar untuk bisa merilis 1 molekul obat,”terang Guru Besar Sekolah Farmasi ITB, Prof. Apt., Daryono H. Tjahjono, Ph.D., dalam seminar daring New Perspective on Drugs Discovey and Development in Industrial Revolution 4.0 yang diselenggarakan Fakultas Farmasi UGM, Kamis (16/7).

Namun begitu, dia menyebutkan  metode komputasi atau pemanfaatan komputer dapat membantu proses efisiensi dalam penemuan obat. Untuk menghasilkan 1 molekul dengan percobaan standar biaya yang dibutuhkan rata-rata sebesar 18 triliun.

“Dengan bantuan komputasi biaya bisa jadi setengahnya. Kemajuan komputasi baik software maupun hardwaree sangat berpengaruh dalam efisiensi penemuan obat ini,”terangnya.

Selain itu, dengan metode komputasi juga dapat memangkas waktu dalam menyaring ribuan molekul dan menemukan senyawa potensial yang bisa digunakan sebagai obat baru. Dia mencontohkan metode tersebut telah dipakai dalam membantu menemukan senyawa yang berpotensi untuk mencegah penyakit tidur atau tripanosomiasis yang menjadi penyakit endemik di Afrika. Melalui komputasi berhasil menemukan sekitar 3-5 senyawa yang potensial dari 4.803 senyawa yang diteliti.

“Metode ini saat ini juga digunakan untuk menemukan senyawa potensial untuk membantu mencegah virus corona SARS-Cov-2,”terangnya.

Sementara Pakar herbal sekaligus Guru Besar Fakultas Farmasi UGM, Prof. Dr. Apt., Suwijiyo Pramono, dalam kesempatan tersebut menyampaikan potensi besar tanaman herbal yang dimiliki Indonesia. Kendati begitu, potensi yang ada belum tereksplorasi dengan baik.

“Ada 30 ribu spesies tanaman yang tumbuh dari Sabang sampai Merauke dan 3 ribu diantaranya merupakan komponen jamu kita. Lalu, 300 spesies tanaman telah digunakan industri herbal, masih banyak yang belum tereksplorasi,” paparnya.

Oleh sebab itu, dia mengatakan perlunya dilakukan eksplorasi secara tepat dan efektif. Beberapa diantaranya seperti tidak mengekspor bahan mentah­, menetapkan strategi untuk eksplorasi secara efisien, seleksi prioritas dari program eksplorasi.

Berikutnya, memberikan kesempatan pada industri untuk memproduksi produk tanaman obat berdasarkan riset dari lembaga pendidikan tinggi dengan fasilitasi pemerintah. Langkah tersebut perlu dilakukan untuk menetapkan riset yang baik dan berorientasi pada produk.

Peneliti dan dosen Fakultas Farmasi UGM, Dr. Apt., Hilda Ismail, Ph.D.,  memaparkan tentang pengalaman dalam pengembangan parasetamol memanfaatan produk industri petrokimia. Selain itu, dia juga menyampaikan tentang  strategi kemandirian bahan baku obat dari hulu dan hilir dengan memanfaatkan bahan alam keberadaanya cukup berlimpah di tanah air.

Penulis: Ika
Foto: shuterstock.com
Sumber : Portal UGM

Pakar UGM : Boleh Kumur dengan PVP-I Tapi Jangan Lupakan Masker dan Cuci Tangan

Belakangan ini baru ramai dibahas tentang potensi dari antiseptik yang mengandung Povidone Iodine (PVP-I) yang bisa membunuh virus corona baru, SARS-CoV-2.

Menurut dokter spesialis paru Rumah Sakit Akademik (RSA) UGM, dr. Siswanto, Sp.P., dari beberapa riset in vitro di laboratorium maupun in vivo menunjukkan bahwa PVP-I memang mampu membunuh virus SARS-CoV-2, SARS-CoV-1 maupun MERS-CoV.

Ia menjelaskan dengan rajin berkumur dan bergalgle dengan cairan yang mengandung PVP-I diyakini akan mengurangi virus di area orofaring (mulut dan tenggorokan) karena pelepasan virus (viral sheeding) di daerah tersebut cukup tinggi.

Dengan berkumur atau dengan nasal irigasi, kata Siswanto, bisa mengurangi penyebaran virus SARS-CoV-2.

“ Dalam PVP-I selain dapat dipergunakan untuk antiseptik kulit juga aman untuk berkumur ataupun gargle. Kandungan untuk antiseptik kulit sekitar 10 persen sedangkan untuk kumur 0,5-1 persen,”katanya, Sabtu (1/7).

Menurutnya, pasien di RSA UGM yang terkonfirmasi positif corona juga sudah diterapi rutin dengan kumur-kumur/gargling dengan Povidone Iodine.

Senada dengan itu, Guru Besar Fakultas Farmasi UGM, Prof. Dr. Zullies Ikawati, Apt., mengatakan PVP-I bisa digunakan misalnya untuk obat kumur (khusus untuk yang merupakan sediaan obat kumur).

Menurutnya, baik pula bagi tenaga kesehatan yang berisiko tertular dari pasien Covid-19 sering berkumur dengan antiseptik yang mengandung PVP-I ini.

“Disamping pakai masker, jaga jarak, cuci tangan, kalau mau nambah berkumur juga baik-baik saja, tapi tidak harus. Berkumur itu kan temasuk bagian menjaga kebersihan juga. Jadi, sebagai penambah dari protokol kesehatan yang sudah ada,”kata Zullies.

Penulis: Satria
Foto: Okezone.com
Sumber : Portal UGM