Bantul, 14 Oktober 2026 – Penyakit infeksi seperti diare, cacingan, dan infeksi kulit masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang erat kaitannya dengan sanitasi lingkungan dan kebiasaan hidup sehari-hari, mulai dari kebiasaan cuci tangan, kualitas air minum, pengelolaan jamban dan sampah, hingga keamanan makanan. Selain kebiasaan hidup bersih, pola makan yang baik turut menjaga daya tahan tubuh. Dua hal yang dekat dengan keseharian ini menjadi bagian dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat Departemen Kimia Farmasi (DKF), Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada, di Pendopo Padukuhan Sompok, Kelurahan Sriharjo, Kapanewon Imogiri, Kabupaten Bantul, pada Rabu (14/10).
Mengangkat tema “Penyuluhan Sanitasi Lingkungan dalam Pencegahan Penyakit Infeksi serta Praktik Pembuatan Minuman Kesehatan”, kegiatan ini memadukan edukasi kesehatan lingkungan dengan keterampilan membuat kombucha dan yogurt. Warga diajak memahami hubungan antara kebersihan lingkungan, penyediaan makanan sehat, keamanan pangan, dan kesehatan keluarga melalui penyuluhan, tanya jawab, serta praktik.

Kegiatan diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, dilanjutkan sambutan dari Carik Sriharjo, Kuswoyo, SH., dan dibuka oleh Wakil Dekan Bidang Keuangan, Aset, dan Sumber Daya Manusia Fakultas Farmasi UGM, Prof. Dr. ret. nat. apt. Endang Lukitaningsih, M.Si. Kegiatan yang didanai Hibah Pengabdian kepada Masyarakat Fakultas Farmasi UGM ini diinisiasi oleh Ketua Panitia, Prof. Dr. apt. Rumiyati, M.Si., sebagai kelanjutan pendampingan DKF bagi masyarakat Sompok. Pada tahun sebelumnya, DKF telah menyelenggarakan kegiatan peningkatan sanitasi dan edukasi kebersihan di wilayah tersebut.
Pada sesi pertama, Prof. Dr. apt. Ratna Asmah Susidarti, M.Si. menyampaikan materi sanitasi lingkungan dalam pencegahan penyakit infeksi. Pembahasan mencakup penggunaan air yang aman, pemeliharaan jamban, kebersihan tangan, keamanan makanan, pengelolaan sampah, serta pengendalian nyamuk dan hewan pembawa penyakit. Melalui contoh sehari-hari, warga diajak mengenali bagaimana kuman dapat berpindah dari tangan ke makanan, atau dari lingkungan tercemar ke sumber air. Kebiasaan mencuci tangan dengan sabun, menyimpan air minum dalam wadah bersih dan tertutup, serta memisahkan makanan mentah dari makanan matang menjadi langkah sederhana untuk membantu memutus rantai penularan.
Perhatian juga diberikan pada penggunaan bahan kimia rumah tangga. Warga diingatkan untuk membaca petunjuk pemakaian, menggunakan produk sesuai peruntukannya, dan tidak sembarangan mencampur bahan pembersih. Pengelolaan sampah serta pemberantasan tempat perkembangbiakan nyamuk turut dibahas sebagai bagian dari upaya menjaga lingkungan rumah tetap sehat.

Sesi berikutnya beralih ke penjelasan dan praktik pembuatan kombucha, dipandu oleh Dr. apt. Riris Istighfari Jenie, M.Sc. bersama tim. Kombucha merupakan minuman hasil fermentasi teh manis menggunakan SCOBY (Symbiotic Culture of Bacteria and Yeast), yaitu kultur simbiotik bakteri dan khamir. Warga diperkenalkan pada proses menyiapkan teh manis, mendinginkannya, menambahkan SCOBY dan cairan starter, hingga melakukan fermentasi. Kebersihan tangan, alat, dan wadah menjadi benang merah yang menghubungkan praktik ini dengan materi sanitasi sebelumnya. Kombucha dengan tanda kontaminasi, seperti seperti tumbuhnya kapang (jamur berbulu) berwarna hijau, biru, atau hitam, atau berbau busuk, tidak boleh dikonsumsi.
Selain proses pembuatannya, materi juga membahas kandungan senyawa bioaktif dan potensi manfaat kombucha. Bukti ilmiah manfaatnya pada manusia masih terus diteliti, sehingga minuman fermentasi ini perlu ditempatkan sebagai bagian dari pola makan sehat dan bukan pengganti pengobatan. Gizi seimbang, aktivitas fisik, dan istirahat yang cukup tetap menjadi dasar menjaga kesehatan tubuh.
Kegiatan ini mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), terutama SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui edukasi pencegahan penyakit, serta SDG 6: Air Bersih dan Sanitasi Layak melalui pembahasan air yang aman dan kebersihan rumah tangga. Materi pengelolaan sampah dan penggunaan bahan kimia secara bijak juga sejalan dengan SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab.
Melalui perpaduan penyuluhan dan praktik, pengetahuan dari kampus diharapkan semakin mudah diterapkan di rumah. Dari menjaga kebersihan tangan hingga menyiapkan minuman secara higienis, warga dapat mengambil peran dalam membangun kebiasaan sehat bagi keluarga dan lingkungan Sompok.
Penulis: Raisatun Nisa dan Siti Nurul Hidayah | Foto: Tim PKM DKF



