Empat Mahasiswa Farmasi UGM Raih Lima Prestasi pada Rx Tournament 2nd Edition

Yogyakarta, 22 September 2026 – Empat mahasiswa Program Studi Sarjana Farmasi, Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM), yang tergabung dalam Tim B19 BEM KMFA UGM, berhasil meraih sejumlah prestasi dalam Rx Tournament 2nd Edition yang diselenggarakan oleh International Pharmaceutical Students’ Federation (IPSF). Keempat mahasiswa tersebut adalah Hanindita Nafisa Sudiarso (24/541975/FA/14515), Audita Zahra Amalia (24/539874/FA/14485), Gilbrania Claudiahrahma Azkanova (24/541737/FA/14508), dan Zefanya Bindy Sugiarto (24/542587/FA/14533).

Rx Tournament 2nd Edition merupakan kompetisi di bidang kefarmasian yang menguji pengetahuan dan keterampilan mahasiswa melalui berbagai kategori, meliputi Compounding Event (CE), Clinical Skills Event (CSE), Industrial Skills Event (ISE), Patient Counselling Event (PCE), dan Pharmacy Profession Awareness Campaign (PPAC). Kompetisi ini diikuti oleh mahasiswa dari berbagai negara dan universitas. Pada tahap awal, peserta mengikuti seleksi berupa pengerjaan 50 soal secara daring. Dari 35 tim yang mendaftar, lima tim kemudian terpilih untuk melaju ke babak final.

Kelima tim finalis tersebut berasal dari berbagai institusi dan organisasi mahasiswa farmasi, yaitu Tim B5 dari BEM KMFA UGM, Indonesia; Tim B19 dari BEM KMFA UGM, Indonesia; Tim B8 dari PANS, Nigeria; Tim B11 dari MyPSA, Malaysia; serta Tim B30 yang merupakan kolaborasi mahasiswa dari FoP Nepal, MyPSA Malaysia, BEM FF UNAIR Indonesia, dan BEM KMFA UGM Indonesia.

Pada babak final, seluruh tim diberikan study case mengenai Mr. Jericho S. Martin, seorang pasien laki-laki berusia 45 tahun dengan diabetes melitus tipe 2 yang belum terkontrol. Kasus tersebut juga melibatkan sejumlah permasalahan kesehatan lain, seperti hipertensi, dislipidemia, obesitas, gangguan bipolar, dan gejala awal neuropati perifer. Kondisi pasien didukung oleh data klinis berupa tekanan darah 165/90 mmHg, HbA1c 9,0%, glukosa darah puasa 12,8 mmol/L, serta mikroalbuminuria.

Berdasarkan study case tersebut, peserta mengikuti serangkaian Final Round Events yang dirancang untuk mengukur kemampuan mahasiswa dalam menerapkan pengetahuan dan keterampilan kefarmasian secara menyeluruh. Dalam Compounding Event (CE), peserta menyelesaikan permasalahan terkait peracikan sediaan, termasuk perhitungan bahan, penerapan teknik geometric dilution, serta pemilihan alat yang sesuai dalam proses compounding.

Pada Clinical Skills Event (CSE), peserta dituntut menganalisis kondisi pasien dan menyusun SOAP Note sebagai dasar dalam menentukan pelayanan kefarmasian. Rencana pelayanan mencakup rekomendasi terapi farmakologis dan nonfarmakologis, penentuan parameter monitoring, pemberian konseling kepada pasien, serta penyusunan rencana tindak lanjut.

Sementara itu, Industrial Skills Event (ISE) berfokus pada pengembangan konsep health software yang dapat mendukung pengelolaan penyakit kronis secara berkelanjutan. Peserta merancang berbagai fitur yang ditujukan bagi pasien maupun tenaga kesehatan, menyusun desain antarmuka untuk perangkat mobile dan desktop, menentukan alur sistem, serta mempertimbangkan penerapannya pada kondisi dengan keterbatasan sumber daya.

Pada Patient Counselling Event (PCE), peserta diuji dalam kemampuan berkomunikasi dan memberikan konseling kepada pasien melalui video simulasi pelayanan kefarmasian. Adapun Pharmacy Profession Awareness Campaign (PPAC) menguji kemampuan peserta dalam menyusun kampanye mengenai peran apoteker dalam mendukung pasien dengan penyakit kronis. Kampanye tersebut menekankan bahwa peran apoteker tidak terbatas pada kegiatan dispensing, tetapi juga mencakup pelayanan kefarmasian yang mendukung keberhasilan terapi dan peningkatan kualitas hidup pasien.

Melalui rangkaian kompetisi tersebut, Tim B19 berhasil meraih sejumlah pencapaian. Tim B19 meraih juara kedua pada Compounding Event (CE) dan Clinical Skills Event (CSE), juara ketiga pada Pharmacy Profession Awareness Campaign (PPAC), serta menjadi finalis dengan peringkat keempat pada Patient Counselling Event (PCE) dan peringkat kelima pada Industrial Skills Event (ISE).

Keikutsertaan Tim B19 dalam Rx Tournament 2nd Edition juga sejalan dengan upaya pengembangan kompetensi kefarmasian yang berkontribusi pada pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Penguasaan keterampilan klinis, konseling pasien, dan pengelolaan penyakit kronis mendukung SDG 3: Good Health and Well-being, sementara pengembangan health software dan pemanfaatan teknologi dalam pelayanan kesehatan berkaitan dengan SDG 9: Industry, Innovation and Infrastructure. Kegiatan edukasi dan peningkatan kesadaran mengenai profesi apoteker turut mendukung SDG 4: Quality Education melalui pengembangan pembelajaran berbasis kompetensi. Selain itu, keterlibatan mahasiswa dalam kompetisi yang mempertemukan peserta dari berbagai institusi dan negara mencerminkan semangat SDG 17: Partnerships for the Goals, khususnya melalui kolaborasi dan pertukaran pengetahuan dalam pendidikan kefarmasian.

Pencapaian tersebut menunjukkan kemampuan mahasiswa dalam mengintegrasikan pengetahuan kefarmasian dengan keterampilan compounding, klinis, komunikasi pasien, pemanfaatan teknologi, serta kerja sama tim. Prestasi Tim B19 dalam Rx Tournament 2nd Edition diharapkan dapat menjadi pengalaman yang memperkaya proses pembelajaran mahasiswa sekaligus mendorong mahasiswa Farmasi UGM untuk terus mengembangkan kompetensi dan berpartisipasi dalam kegiatan akademik maupun kompetisi kefarmasian di tingkat nasional dan internasional.

Share this post
Type Keyword to Search