Yogyakarta, 18 Februari 2026 – Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM) kembali memperkuat jejaring riset internasionalnya melalui program research exchange mahasiswa. Kali ini, Nazira Aydin Hatif, mahasiswa International Undergraduate Program (IUP) angkatan 2021, berhasil melaksanakan penelitian kolaboratif bersama University of Otago, Selandia Baru. Penelitian ini berfokus pada pengembangan sistem Bioluminescence Resonance Energy Transfer (BRET) berbasis teknologi NanoLuc dan HaloTag pada model ragi Saccharomyces cerevisiae. Penelitian ini dilaksanakan di bawah bimbingan Apt. Setyowati Triastuti Utami, Ph.D., serta merupakan hasil kolaborasi bersama Dr. Erwin Lamping dari Sir John Walsh Research Institute dan Prof. Richard David Cannon dari Faculty of Dentistry, University of Otago.
Riset ini berangkat dari pesatnya perkembangan teknologi NanoBRET, sebuah teknologi berbasis cahaya yang memungkinkan peneliti mengamati bagaimana protein saling berinteraksi di dalam sel hidup. Sistem ini bekerja dengan menggabungkan dua komponen utama yaitu NanoLuc dan HaloTag yang menghasilkan sinyal cahaya ketika dua protein target berada dalam jarak yang sangat dekat. Meskipun menawarkan sensitivitas tinggi, pemanfaatan teknologi ini masih terbatas pada sistem sel mamalia.
Oleh karena itu, melalui kolaborasi ini, tim peneliti berupaya mengadaptasi teknologi NanoBRET agar dapat diterapkan pada ragi S. cerevisiae, organisme model yang banyak digunakan dalam riset biologi dasar. Adaptasi dilakukan dengan memodifikasi sistem ekspresi menggunakan galur ragi khusus serta plasmid yang telah disesuaikan, sehingga teknologi ini berpotensi untuk diaplikasikan di luar sistem sel mamalia. Selain pencapaian utama tersebut, tim peneliti juga berupaya menggunakan terminator sintetik sebagai elemen genetik buatan yang direkayasa untuk memiliki efisiensi lebih tinggi dibandingkan terminator alami. Langkah ini merupakan bagian dari upaya untuk turut berkontribusi dalam bidang biologi sintetik.
Hasil penelitian ini diharapkan mampu menghasilkan organisme model baru yang unggul untuk penelitian dasar, khususnya dalam mengkaji mekanisme interaksi protein serta resistensi antijamur dan antimikroba. Kontribusi ini sekaligus memperkuat peran Fakultas Farmasi UGM dalam pengembangan sains global dan inovasi di bidang kesehatan.
Secara lebih luas, riset ini turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 3 (Good Health and Well-being) melalui pengembangan dasar ilmiah penanggulangan resistensi antimikroba, SDG 4 (Quality Education) melalui penguatan kapasitas riset mahasiswa dalam jejaring global, serta SDG 17 (Partnerships for the Goals) melalui kolaborasi strategis antara Fakultas Farmasi dan University of Otago dalam mendorong inovasi kesehatan berbasis sains.


