Yogyakarta, 13 September 2025 – Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM) kembali mengukuhkan posisinya sebagai pionir dalam inovasi farmasi berbasis biodiversitas Nusantara. Tim mahasiswa yang diketuai oleh Naafi’ Noor Nafiza Novikh dengan anggota Wimala Sephastika berhasil meraih Juara 2 dalam cabang lomba Esai Ilmiah pada ajang bergengsi Joglosepur Pharmacy Competition (JPC) X PHARMACOPE UNS 2025.
JPC X PHARMACOPE 2025 merupakan kompetisi kefarmasian tingkat regional Jogja–Solo–Semarang–Purwokerto yang diselenggarakan oleh Fakultas Farmasi Universitas Sebelas Maret (UNS). Tahun ini, kompetisi tersebut mengusung tema “Mengangkat Potensi Biodiversitas Nusantara sebagai Basis Inovasi Modern untuk Menjawab Tantangan Kesehatan Masyarakat Menuju SDGs 2030.”
Tim Farmasi UGM menyajikan karya esai ilmiah berjudul “HEPASOL: Suplemen Hepatoprotektif Softgel SNEDDS Ekstrak Kunyit–VCO Berbasis Biodiversitas Nusantara yang Berkelanjutan untuk Pencegahan Efek Samping Hepatotoksisitas Terapi Tuberkulosis.” Inovasi ini mengedepankan pemanfaatan bahan alam lokal, yakni ekstrak kunyit dan Virgin Coconut Oil (VCO), yang diformulasikan menggunakan sistem penghantaran obat modern Self-Nanoemulsifying Drug Delivery System (SNEDDS) dalam bentuk softgel.
Ide aplikatif ini menawarkan solusi terapi pendamping untuk melindungi organ hati pasien dari efek samping toksik yang sering muncul akibat penggunaan obat antituberkulosis (OAT) dalam jangka panjang. Dengan mengangkat isu kesehatan nasional (TBC) dan memadukannya dengan teknologi farmasi modern, tim Farmasi UGM berhasil menorehkan prestasi gemilang diantara peserta dari berbagai perguruan tinggi di wilayah Joglosepur.
Prestasi ini memiliki dampak nyata dalam mendukung implementasi Sustainable Development Goals (SDGs). Inovasi “HEPASOL” berkontribusi langsung pada SDGs 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera dengan menawarkan solusi pendamping untuk mengurangi efek samping hepatotoksisitas dari terapi Tuberkulosis, sehingga meningkatkan keselamatan dan kepatuhan pasien dalam pengobatan penyakit menular yang menjadi prioritas kesehatan global. Selain itu, upaya ini sejalan dengan SDGs 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab melalui pemanfaatan berkelanjutan dan peningkatan nilai tambah dari biodiversitas lokal Nusantara seperti kunyit dan VCO. Sementara itu, pengembangan formulasi SNEDDS menegaskan kontribusi pada SDGs 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur dengan memajukan riset dan teknologi di bidang farmasi.
Fakultas Farmasi UGM menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas prestasi yang diraih oleh Naafi’ Noor Nafiza Novikh dan Wimala Sephastika. Fakultas Farmasi berharap capaian ini menjadi motivasi bagi mahasiswa lain untuk terus mengembangkan ide-ide inovatif dan ilmiah guna memperkuat eksistensi Farmasi UGM di kancah nasional dan internasional.



