Archive:

Language: Bahasa Indonesia

Pakar UGM: Jangan Mudah Percaya Klaim Penemuan Obat Covid-19

Beberapa hari terakhir publik ramai membicarakan klaim penemuan antibodi yang disebut dapat mencegah dan menyembuhkan pasien yang terinfeksi Covid-19.

Guru Besar Fakultas Farmasi UGM, Prof. Zullies Ikawati, Ph.D., Apt., menyampaikan bahwa masyarakat tidak perlu mudah percaya terhadap klaim semacam ini karena penemuan obat bukan sesuatu yang mudah.

“Jika ada berita-berita yang mengklaim penemuan obat Covid-19, jangan cepat percaya, karena penemuan obat Covid-19 tidak semudah itu. Carilah info-info berimbang pada lembaga-lembaga yang terpercaya seperti Badan POM,” ucapnya.

Lebih lanjut ia menerangkan, pernyataan penemuan antibodi Covid-19 yang berasal dari herbal merupakan istilah yang tidak tepat, karena antibodi sendiri adalah suatu protein yang dibentuk oleh sistem imun ketika menghadapi paparan antigen/patogen, bisa berupa virus, bakteri, jamur, dan lainnya, termasuk terhadap virus Covid-19.

“Jadi kalau ada orang yang mengklaim menemukan atau menciptakan antibodi, tentu itu hal yang sangat tidak tepat,” imbuhnya.

Antibodi, terangnya, adalah senyawa yang dihasilkan oleh sel-sel imun, yaitu oleh sel limfosit B yang bekerja melawan antigen. Dalam hal Covid-19, yang bisa disebut sebagai produk antibodi adalah plasma convalescent yang berasal dari pasien Covid-19 yang sudah sembuh.

“Pasien Covid-19 yang sudah sembuh akan memiliki antibodi terhadap Covid-19, nah ini yang kemudian diisolasi plasma darahnya lalu ditransfusikan kepada pasien sakit, di mana plasma darah ini mengandung antibodi Covid-19,” terang Zullies.

Dalam konteks lain, suatu antibodi bisa diisolasi dari makhluk hidup dan mungkin dikemas menjadi satu sediaan, misalnya Anti bisa ular (ABU). Serum anti bisa ular dibuat dengan cara memberikan bisa ular ke dalam tubuh hewan, seperti kuda atau domba.

Proses penemuan vaksin dan obat, papar Zullies, adalah proses yang berbeda. Obat bisa berasal dari senyawa kimia atau diisolasi dari herbal, atau sumber lain. Obat memiliki target tertentu pada tubuh manusia. Namun sebelum dicobakan ke manusia, calon obat harus menjalani dulu serangkaian uji pre-klinik pada hewan atau pada sel, selain itu juga harus diuji keamanannya.

Sedangkan vaksin sendiri bukanlah obat, melainkan suatu senyawa berupa antigen yang lemah yang bekerja memicu produksi antibodi pada tubuh orang yang divaksin.

Untuk vaksin Covid, maka bisa dibuat antigen berupa keseluruhan virus yang dilemahkan atau bagian dari virus yang kemudian ditempelkan pada virus pembawa lain, atau berupa mRNA virus SARSCoV2. Orang yang menerima vaksin ini akan menghasilkan antibodi terhadap virus Covid, sehingga menjadi lebih kebal dan tidak mudah terinfeksi.

“Penelitian tentang vaksin di Indonesia sudah dimulai di Lembaga Eijkman bekerja sama dengan PT Bio Farma, tetapi prosesnya masih panjang untuk sampai ke pasar,” katanya.

Penulis: Gloria
Sumber : Portal UGM

Farmasi UGM Selenggarakan Webinar International Tentang Uji BABE

Farmasi UGM – Pengembangan obat nasional merupakan salah satu prioritas pemerintah Indonesia. Bila obat-obatan dapat diproduksi sendiri di dalam negeri maka hal ini akan mengurangi ketergantungan Indonesia pada impor untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Selain itu, obat-obatan juga dapat disediakan dengan harga yang lebih murah sehingga mengurangi beban asuransi kesehatan nasional secara umum. Untuk suatu produk obat baru dapat dipasarkan, obat ini harus melalui berbagai pengujian, salah satunya adalah uji bioavailabilitas dan bioekuivalensi (BABE). Pengujian ini diperlukan untuk memastikan ketersediaan hayati obat di dalam tubuh saat obat tersebut diberikan, utamanya melalui saluran cerna (diminum), dimana rute administrasi ini merupakan yang paling banyak digunakan oleh masyarakat. Namun, berbagai macam permasalahan ketersediaan hayati ini seringkali dihadapi oleh departemen penelitian dan pengembangan pada industri farmasi, mulai dari aspek penelitian, pengujian, dan perizinannya.

Untuk berkontribusi pada penyelesaian masalah ini, Fakultas Farmasi UGM khususnya Laboratorium Farmasi Fisik, Departemen Farmasetika, menyelenggarakan webinar internasional bertajuk ‘The 1st webinar on physical pharmacy and biopharmaceutics: BABE studies, a revisit on the aspects of Physical Pharmacy and Biopharmaceutics’. Webinar ini menghadirkan tiga pembicara dari berbagai institusi, yaitu Prof. Dr. Donald W. Miller dari Departemen Farmakologi dan Terapi, Universitas Manitoba Kanada, Drs. apt. Victor Siringoringo dari PT Deltomed, dan Prof. Dr. apt. Akhmad Kharis Nugroho, M.Si. dari Fakultas Farmasi UGM. Pada acara pembukaan oleh Dekan Fakultas Farmasi UGM, Prof. Dr. apt. Agung Endro Nugroho, M.Si. menyampaikan bahwa acara webinar ini mendukung kerangka kerja Fakultas Farmasi UGM yang sejak tahun 2017 telah memiliki laboratorium pengujian BABE yang terakreditasi nasional.

Pada sesi seminar, Miller menyampaikan berbagai halangan yang harus dihadapi suatu obat untuk dapat mencapai target dan berefek farmakologis. Pada sesi kedua, pembicara Victor menyampaikan berbagai pengalaman teknis di industri farmasi untuk pengembangan suatu obat pada uji BABE, beserta berbagai standar regulasi yang harus dipenuhi. Terakhir, Kharis menyampaikan berbagai metode modeling berbasis populasi yang dapat digunakan dalam translasi obat kaitannya dalam studi bioavailabilitas dan bioekuivalensi.

Webinar ini tergolong sukses, dengan tercatat sebanyak 855 peserta yang berpartisipasi hingga mengikuti post test untuk memperoleh 2 SKP dari Ikatan Apoteker Indonesia (IAI). Webinar ini diselenggarakan melalui dua platform secara paralel, yaitu melalui Zoom Webinar dan Youtube Live oleh Kanal Pengetahuan Fakultas (KPF) Farmasi UGM. Hingga saat berita ini ditulis, webinar melalui Youtube telah ditonton hingga sebanyak 2400 kali, menunjukkan atensi yang tinggi dari masyarakat farmasi Indonesia pada topik BABE dalam pengembangan obat ini, bahkan setelah webinar telah selesai. Diharapkan hasil dari diskusi dalam webinar ini dapat terus dimanfaatkan sebagai salah satu acuan pengetahuan dan wawasan bagi masyarakat. (Adhyat/HumasFAUGM)

Virtual Fashion Show Alat Pelindung Diri : Kontribusi Farmasi UGM di Balik Layar Peragaan APD

Farmasi UGMVirtual Fashion Show Alat Pelindung Diri yang diproduksi oleh Usaha Mikro Kecil (UMK) di Yogyakarta sukses digelar pada tanggal 1 Agustus 2020 kemarin. Ada enam UMK yang memproduksi Alat Pelindung Diri (APD) yang diperagakan langsung oleh dokter dan perawat dari Rumah Sakit Sardjito dan para dokter muda yang sedang menempuh Pendidikan di Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FKKMK) UGM. Event ini diselenggarakan berkat kolaborasi antara Sonjo (Sambatan Jogja), GM Production dan IDPhotobook dan disiarkan langsung di studio GM Production. Sonjo adalah komunitas kemanusiaan untuk peduli pada pandemic Covid-19 yang bermarkas di Yogyakarta, anggotanya sendiri berada di banyak kota. Di samping kegiatan virtual fashion show APD, dilangsungkan juga penyerahan album memori perjuangan para Tenaga Kesehatan di Rumah Sakit dalam menangani pasien Covid-19 dari IDPhotobook kepada Direktur Rumah Sakit Sardjito dan Dekan FKKMK UGM. Ini merupakan simbol bentuk apresiasi dari masyarakat atas perjuangan para tenaga kesehatan, khususnya pada masa pandemi saat ini.

Kegiatan virtual fashion show APD ini disaksikan oleh para produsen APD dan dihadiri oleh Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Bapak Teten Masduki, Perwakilan RI di beberapa negara sahabat seperti Jerman, Jepang, UK, Belanda, Chekoslowakia, Australia, Tiongkok, Afrika Selatan, Korea, Washington, New Zealand, Rusia, Mexico, Kamboja, Vietnam, Myanmar, serta beberapa Lembaga Pemerintah seperti BPPT, BKKBN, Kementrian BUMN, Dinas Kesehatan, Dinas Perindustrian dan masih banyak lagi. Kegiatan ini utamanya untuk membangkitkan kembali roda perekonomian bagi UMK produsen APD dan tentunya memproduksi APD yang dapat dimanfaatkan oleh Nakes dengan aman.

Faktor kualitas APD yang dihasilkan oleh produsen harus benar-benar aman. Fakultas Farmasi UGM melalui layanan pengujian water resistance dengan metode AATCC 42 telah melakukan pengujian APD yang ditampilkan dalam Virtual Fashion Show. Endang Lukitaningsih selaku Wakil Dekan Bidang Penelitian, Pengabdian Masyarakat, Kerjasama dan Alumni Fakultas Farmasi UGM turut berjalan di atas cat walk dan menutup fashion show dengan menerangkan uji keamanan APD yang telah dilakukan. Secara terpisah diterangkan oleh Endang bahwa water resistance ini dipilih sebagai salah satu parameter yang dikerjakan, mengingat dengan water resistance dapat sekaligus memprediksikan ukuran pori-pori bahan APD. Bila bahan APD tidak dapat ditembus air, maka virus apalagi bakteri tentu tidaklah dapat menembus APD karena ukuran virus dan bakteri lebih besar dari ukuran molekul air. Cara menjahit pun menjadi hal yang harus diperhatikan. Dengan teknik sealing di jahitan, akan mengurangi risiko kebocoran di daerah ini. Beberapa APD yang ditampilkan juga telah mendapatkan ijin edar dari Kemenkes.

Kegiatan fashion show kemudian diikuti dengan paparan secara online dari Bapak Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah, Dinas Kesehatan DI-Yogyakata, Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustian Yogyakarta, Deputy Director General Economic Research and Regional Cooperation Department-Asian Development Bank, Director Global Partnership and Resources Mobilization-Islamic Development Bank serta dilanjutkan dengan diskusi dari para peserta talk show online. (Humas Farmasi)

Sarasehan Daring Pertama Fakultas Farmasi UGM: “Sinergi Pemerintah dan Masyarakat Kecamatan Ngablak dalam Pencegahan Covid-19”

Farmasi UGM – Tahun 2020 merupakan tahun ke – 3 bagi Fakultas Farmasi bekerja sama dalam program pengabdian kepada masyarakat di Kecamatan Ngablak. Membawa program edukasi keamanan dan penanganan bahaya pestisida sintetik, edukasi kesehatan kepada lansia, dan merintis pertanian organik bersama kader petani milennial setempat, telah menciptakan ikatan antara Tim Pengabdian dengan warga setempat. Sedianya tahun 2020 Fakultas Farmasi UGM bertekad meneruskan program yang menitik beratkan pada pilot project pertanian organik dengan komoditas utama stroberi. Namun Maret 2020, pemerintah resmi mengumumkan status pandemik Covid-12, sehingga program tersebut tertunda.

Tak ingin absen dari peran edukasi bagi warga kecamatan Ngablak, Tim Pengabdian Masyarakat Fakultas Farmasi yang dipimpin Dr.rer.nat. RR. Endang Lukitaningsih, M.Si., Apt. bersama kader pengabdian masyarakat setempat, M. Ikhsanudin, S.Pd., menyelenggarakan sarasehan daring bagi jajaran pemerintah dan warga kecamatan Ngablak. Sarasehan bertajuk ‘Sinergi Pemerintah dan Masyarakat Kecamatan Ngablak dalam Pencegahan Covid-19’ terlaksana pada kamis, 14 Mei 2020 dengan menghadirkan pembicara dosen Fakultas Farmasi UGM yaitu Dr.rer.nat. RR. apt. Endang Lukitaningsih, M.Si., apt. Muvita Rina Wati, M.Sc., dan apt. M. Novrizal Abdi Sahid, M.Eng. Empat fokus bahasan dalam sarasehan ini meliputi langkah pencegahan infeksi, penggunaan disinfektan yang tepat, pengondisian warga menyambut arus pemudik, dan mempersiapkan sarana pendukung bagi warga yang membutuhkan pengobatan maupun karantina pada masa pandemik.

Jenis-jenis disinfektan

Camat Ngablak Imam Wisnu Kusuma, S.STP., MM. memfasilitasi sarasehan daring pertama ini melalui video conference Webex. Sarasehan dihadiri oleh seluruh kepala desa, kepala dinas instansi se-Kecamatan Ngablak, Kapolsek, Danramil dan sebagian warga. Camat Ngablak mengungkapkan rasa syukurnya atas hadirnya Fakultas Farmasi UGM dalam mencerahkan informasi bagi aparat dan warga Kecamatan Ngablak di masa pandemik. Maraknya hoax yang beredar di jejaring sosial tak ayal meresahkan warga dan membuat banyak strategi pencegahan dan penanggulangan infeksi menjadi resisten terhadap informasi yang benar dari pemerintah. Hadirnya sarasehan dari Fakultas Farmasi berperan dalam mengonfirmasi isu – isu tersebut.

Fakultas Farmasi UGM bertekad akan terus hadir bagi warga dan pemerintah Kecamatan Ngablak dalam mendukung program – program utamanya bagi peningkatan kesehatan. Tak hanya berkaitan dengan obat, kosmetik, dan makanan, Fakultas Farmasi UGM turut serta dalam ikut mendukung pertanian sehat yang meminimalisir risiko dampak lingkungan dan bagi kesehatan petani dan warga sekitar akibat penggunaan zat kimia dalam pestisida sintetik. (Muvita)

Pentingnya Penataan Sistem Pelayanan Kesehatan di Indonesia

Farmasi UGM – Fakultas Farmasi UGM kembali selenggarakan webinar skala nasional pada tanggal 28 Juli 2020 lalu. Tema yang diangkat pada webinar kali ini adalah mengenai penelitian kefarmasian di bidang farmasi sosial dengan tajuk ‘Research in Social Pharmacy and its Contribution for Health Care’. Kali ini, Farmasi UGM menghadirkan empat pembicara yang memiliki latar belakang bidang farmasi sosial dan komunitas, diantaranya Dr. apt. Dwi Endarti, M.Sc., Dr. apt. Satibi, M.Si., Dr. apt. Susi Ari Kristina, M.Kes., serta apt. Niken Nur Widyakusuma, M.Sc.

Dengan dimoderatori oleh apt. Anna Wahyuni W., MPH, Ph.D., acara tersebut berlangsung selama hampir tiga jam dengan banyak membahas Sistem Pelayan Kesehatan di Indonesia, termasuk juga manajemen pelayanan dan pengelolaan data yang tepat. Adapun Dwi Endarti dalam kesempatan kali ini menyampaikan materi terkait ‘Implementation of Pharmacoeconomic Analysis on Drug Selection’. Lebih lanjut Dwi menjabarkan tentang pentingnya manajemen obat-obatan karena akan sangat berhubungan dengan sistem pelayanan kesehatan. “Apalagi dalam pelayanan kesehatan, obat-obatan menyerap porsi anggaran yang cukup tinggi”, ungkap Dwi.

Mengamini hal tersebut, Satibi juga mengatakan bahwa ketersediaan obat merupakan salah satu indikator keberhasilan dalam sistem pelayanan kesehatan. Dalam materi yang diwakannya berjudul ‘The Importance of Inventory Control Management for Supporting Avaibillity of Medicine’, Satibi meluruskan dalam sebuah grafik data bahwa kenyataan di lapangan, manajemen ketersediaan obat di Indonesia sering kali belum maksimal. “Nyatanya, walau tidak semua, namun ada beberapa tempat pelayanan kesehatan yang memiliki item stock berlebih, sehingga menyebabkan inventory yang berlebihan”, kata Satibi.

Permasalahan-permasalahan yang kerap muncul dalam kaitannya dengan manajemen obat-obatan di suatu pelayanan kesehatan sering kali sama, baik itu perihal stok maupun proses distribusi obat dari produsen ke para pengguna. Di sini, big data sangat berperan untuk mengumpulkan informasi-informasi penting dari berbagai tempat dan wilayah di Indonesia sehingga pendistribusian obat-obatan dapat dilakukan secara tepat sesuai dengan kebutuhan. Terlebih didukung dengan perkembangan teknologi informatika yang cukup mumpuni, sehingga bukan tidak mungkin hal tersebut dapat direalisasikan. Lebih jauh lagi, Niken dalam materi yang dibawakannya yang berjudul ‘Big Data in Pharmacy Research: Challenges and Opportunities’ menegaskan bahwa big data sangat berguna untuk kebutuhan analisis permasalahan, dalam hal ini kaitannya dengan riwayat penyakit yang pernah diderita oleh masyarakat serta manajemen obat-obatan di fasilitas kesehatan di Indonesia.

Pada farmasi sosial sendiri, selain aspek-aspek yang berkaitan dengan manajemen obat-obatan, sebuah pelayanan kesehatan juga seharusnya melingkupi primary care. Dalam materi ‘Expanding role of Pharmacist in Primary Care’, Susi menjelaskan bahwa suatu pelayanan kesehatan harusnya mencakup pelayan yang lebih luas. Tidak hanya berkaitan dengan obat, namun juga psikis dan mental pasien, serta kesehatan sosial dan wellbeing. “Contoh sederhananya adalah pelayanan Posyandu, disana kita juga harus memberikan edukasi tambahan seperti nutrisi ataupun permasalahan-permasalahan kesehatan umum diluar penyakit-penyakit tertentu”, terang Susi. Tentunya hal ini juga tidak terlepas dari tugas utama farmasis dalam memberikan edukasi tentang penggunaan obat-obatan itu sendiri.

Sistem pelayanan kesehatan di Indonesia saat ini sudah memasuki fase yang lebih maju. Sehingga penataan manajemen dan pengelolaan data kefarmasian dari seluruh tempat fasilitas kesehatan di Indonesia menjadi sangat krusial untuk menuju sistem pelayanan yang lebih baik lagi (Humas FA/ Yeny)

Kepala BSN: 1.421 Laboratorium Penguji Sudah Terakreditasi

Kepala Badan Standardisasi Nasional (BSN) Indonesia, Drs. Kukuh Syaefudin Achmad, M.Sc., mengatakan sebanyak 1.421 laboratorium penguji sudah mendapat akreditasi dari lembaga Komite Akreditasi Nasional. “Sejak 1998 hingga sekarang ini laboratorium pengujian yang sudah diakreditasi oleh KAN sebanyak 1.421 laboratorium,” kata Kukuh dalam  Webinar Standardization and Quality Assurance in Chemical Analysis Laboratories yang diselenggarakan Fakultas Farmasi UGM, Rabu (29/7).

Selain laboratorium pengujian, ada juga 321 laboratorium kalibrasi, 75 laboratorium medik dan 24 laboratorium penyelenggara uji profisiensi yang sudah mendapat akreditasi. Menurutnya, laboratorium yang sudah mendapat standardisasi dan penyesuaian dari KAN ini berarti sudah diakui secara internasional. “Proses akreditasi laboratorium yang dilakukan oleh KAN sudah diakui lembaga internasional,” paparnya.

Menurutnya, laboratorium perlu mendapat pengakuan standardisasi sesuai dengan amanat UU No. 20 Tahun 2014 tentang Standardisasi dan Penilaian Kesesuaian. “Standardisasi dikelola BSN lalu akreditasi dikelola KAN, sedangakan metrologinya juga dari BSN,” ujaranya.

Laboratorium yang lolos penilaian akreditasi nantinya akan mendapat SNI ISO 17025 dan diantaranya memenuhi kriteria penilaian kompetensi, ketidakberpihakan dan konsistensi pengoperasian laboratorium, dan digunakan untuk konfirmasi atau pengakuan kompetensi oleh customer.

Dosen Farmasi Universitas Surabaya, Prof. Dr. Gunawan Indrayanto, mengatakan metode validasi yang diterapkan dalam sebuah laboratorium bisa mendorong peningkatan kualitas jaminan mutu dari standardisasi laboratorium industri obat, makanan dan kosmetik. Meski demikian, kemampuan SDM, metode dan material yang diuji juga saling memengaruhi. “Jika analisis baku dan alat yang digunakan bagus, namun bahan yang digunakan tidak bagus juga tidak akan berguna,” katanya.

Dosen Farmasi UGM, Prof. Dr. Sudibyo Martono, mengatakan proses dokumentasi dan pelacakan sampel perlu dikedepankan oleh laboratorium analisis kimia agar bisa mendapat pengakuan dan kepercayaan dari pengguna.” Dokumentasi menjadi penting bila mana ada orang ingin tahu pekerjaan spesifik yang sudah dilakukan, kita sampaikan SOP, metode dan analisis kerja dengan tata cara pekerjaan yang dilakukan sehingga layak dipercaya,” katanya.

Penulis   : Gusti Grehenson
Sumber : Portal UGM

Alumnus Farmasi UGM Ungkap Hal yang Perlu Diperhatikan Sebelum Mengkonsumsi Obat Herbal

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Beberapa waktu belakangan, obat herbal kembali populer, terutama ketika pandemi virus corona mulai melanda Indonesia.

Pasalnya, obat yang berasal dari bahan alam ini dianggap memiliki khasiat, salah satunya adalah menjaga daya tahan tubuh.

Namun demikian, masyarakat mesti mengetahui tata cara memilih obat herbal secara tepat.

Hal ini dibahas oleh alumnus Fakultas Farmasi UGM, Drs. Bambang Priyambodo dalam akun You Tube pribadinya.

Menurut Bambang, obat tradisional atau herbal memang memiliki keunggulan dibanding obat kimia.

Misalnya, efek samping yang relatif kecil jika penggunaannya dilakukan dengan tepat.

Selain itu, komponen dalam satu bahan obat herbal memiliki efek saling mendukung.

“Obat herbal juga bagus untuk pengobatan penyakit degenratif, karena penggunaan obat herbal lebih cocok untuk pemakaian jangka panjang dengan efek samping minimal,” ungkap GM Manufacture PT Air Mancur ini.

Kendati demikian, ada dosis yang mesti ditepati jika mengonsumsi obat herbal.

Misalnya, kata Bambang, mengonsumsi air seledri secara berlebihan dapat menurunkan tekanan darah secara drastis.

“Demikian pula penggunaan gambir untuk menghentikan diare, kalau lebih dari satu ruas ibu jari bisa menyebabkan sembelit atau konstipasi.”

“Konsumsi minyak jarak juga bisa menyebabkan iritasi saluran pencernaan dan kehilangan cairan tubuh.”

“Meniran yang bisa digunakan untuk imunomodulator, jika lebih dari satu genggam dan dikonsumsi dalam jangka panjang bisa menyebabkan iritasi ginjal,” imbuhnya.

Lebih lanjut, Bambang mengimbau masyarakat yang meracik obat tradisional sendiri agar jangan sampai salah memilih bahan.

Agar khasiat dari tanaman herbal bisa keluar, masyarakat perlu memperhatikan proses pengolahannya.

“Misalnya daun dewa yang digunakan untuk berbagai macam penyakit dan daun sambungnyowo yang bisa digunakan untuk obat kanker. Bentuk daunnya sama sehingga sulit untuk memilih dalam keadaan kering.”

Agar bisa mengonsumsi obat-obatan herbal dengan aman, Bambang memberikan beberapa tips, seperti menggunakan obat tradisional yang sudah terbukti keamanannya.

Indikator keamanan ini adalah dari tulisan POM TR atau TI untuk jamu, POM HT untuk Obat Herbal Terstandar, dan POM FF untuk fitofarmaka. (Ez/-Th)

Sumber : kagama.co

Laboratorium Farmakoterapi dan Farmasi Klinik Selenggarakan Webinar Tentang Interaksi Obat dalam Praktik Kefarmasian

Farmasi UGM – Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada melalui Laboratorium Farmakoterapi dan Farmasi Klinik kembali menyelenggarakan webinar di tengah masa Pandemi Covid-19 ini. Webinar yang kedua ini diselenggarakan pada hari Sabtu 25 Juli 2020 melalui platform Zoom Webinar. Laboratorium yang dipimpin oleh Prof. Dr. apt. Djoko Wahyono, SU. tersebut kali ini membawakan sebuah tema yang tampaknya telah sangat dinanti-nanti oleh para sejawat apoteker se-Indonesia, yaitu “Penatalaksanaan Interaksi Obat dalam Praktik Kefarmasian”.

Pada webinar yang kedua ini, tema “Penatalaksanaan Interaksi Obat dalam Praktik Kefarmasian” disajikan dalam bentuk tiga paparan materi dari tiga orang narasumber yang berbeda. Laboratorium Farmakoterapi dan Farmasi Klinik masih menggunakan konsep yang sama dengan webinar pertama, yaitu kombinasi narasumber akademisi dan praktisi untuk menyeimbangkan antara muatan teoritis dan praktis bagi para peserta. Pada webinar yang dimoderatori oleh apt. Woro Harjaningsih, Sp.FRS. kali ini, narasumber akademisi yang dihadirkan adalah apt. Mawardi Ihsan, M.Sc. yang merupakan seorang staf pengajar muda dan Dr. apt. Fita Rahmawati, Sp.FRS. yang merupakan staf pengajar senior dari Fakultas Farmasi, sedangkan narasumber praktisi yang dihadirkan adalah apt. Mustaruddin, M.Sc. yang merupakan seorang apoteker farmasi klinik di bangsal penyakit dalam RSUP Dr. Sardjito, Yogyakarta.

Paparan materi yang pertama disampaikan oleh apt. Mawardi Ihsan dengan judul “Kajian Penatalaksanaan Interaksi Obat-obat” yang bersifat teoritis sebagai pembuka untuk paparan materi kedua yang bersifat praktis yaitu “Studi Kasus Interaksi Obat-obat dalam Praktik Kefarmasian” yang disampaikan oleh apt. Mustaruddin. Keduanya diharapkan dapat menyeimbangkan pengetahuan teoritis dan praktis sehingga para peserta dapat lebih memahami prinsip dan penerapan interaksi obat-obat dalam praktik kefarmasian. Dilanjutkan setelahnya, yaitu paparan materi yang ketiga, apt. Fita Rahmawati menyampaikan ilmu yang sangat bermanfaat kepada para peserta dengan judul “Interaksi Obat pada Sediaan Parenteral”. Ketiga paparan materi dari narasumber tersebut diharapkan dapat menyempurnakan wawasan para peserta berkaitan dengan interaksi obat.

Pada webinar yang kedua ini, tingkat antusiasme peserta sudah tinggi sejak sebelum pelaksanaan webinar yang ditandai dengan jumlah peserta yang mendaftar sebanyak 477. Kemudian ketika pelaksanaan webinar, antusiasme peserta masih tetap tinggi yang ditunjukkan dengan rerata jumlah peserta yang mengikuti webinar berjumlah sekitar 300 orang yang dengan kata lain persentase kehadiran peserta adalah sebesar 63%. Antusiasme peserta ternyata tidak berhenti hanya sampai di situ karena pada akhir acara, jumlah pertanyaan yang masuk sangat banyak sehingga tidak semua pertanyaan dapat dijawab secara langsung pada sesi diskusi pada akhir webinar.
Semoga Laboratorium Farmakoterapi dan Farmasi Klinik, Fakultas Farmasi, Universitas Gadjah Mada dapat terus bermanfaat bagi masyarakat dan apoteker Indonesia melalui webinar-webinar selanjutnya. (Humas FA UGM)

Serba-Serbi Webinar Farmasi UGM

Farmasi UGM. Webinar merupakan singkatan dari kata web dan seminar, sebuah seminar yang dilakukan dengan melalui web atau aplikasi tertentu (platform) berbasis internet. Dengan pelaksanaan webinar, kita bisa melakukan kegiatan seminar, konferen, talkshow, focus group discussion melalui sebuah video conferencing platform yang berbasis internet, tanpa harus menggunakan ruang meeting, keterlibatan banyak panitia pelaksana serta waktu persiapan lebih efisien.

Sebenarnya ide webinar Farmasi UGM adalah untuk mengisi waktu bagi sivitas akademik di masa-masa pandemi covid-19, dan sharing ilmu, pengetahuan dan pengalamannya dalam rangka edukasi kepada publik. Di samping itu, webinar merupakan metode yang bisa digunakan menggantikan kegiatan-kegiatan rutin di fakultas yang bersifat luar jaringan yaitu Seminar Pascasarjana, Seminar Dosen Muda, Pelatihan, Conference, Kuliah Tamu dll. Level pelaksanaan web seminar tersebut bisa bersifat nasional maupun internasional. Contoh webinar nasional adalah Webinar on Pharmacy Education : How to Keep Productivity in Publication during Covid-19 Pandemic?, Webinar New Perspective on Drug Discovery and Development in Industrial Revolution 4.0, Webinar on Standardization and Quality Assurance in Chemical Analysis Laboratories. Contoh webinar internasional adalah Webinar Pharmacy Education to Covid-19 : Know What to Do and be Prepared (kerjasama dengan ASEAN PharmNET dan Senior Experten Services Germany), Webinar Systematic Review and Meta Analysis in Pharmacy Practice (kerjasama dengan Faculty of Pharmacy, Mahidol University, Thailand). Selama bulan Juni dan Juli 2020, total webinar yang sudah diselenggarakan sebanyak 23 acara.

Pelaksanaan web seminar menggunakan video conferencing platform Zoom versi webinar dan disiarkan secara live melalui channel youtube Kanal Pengetahuan Fakultas (KPF) Farmasi UGM. Pelaksanaan web seminar tersebut tidak lepas dari peran Kanal Pengetahuan Fakultas (KPF) Farmasi UGM dan Unit Urusan Internasional (UUI) Farmasi UGM. Kanal Pengetahuan Fakultas (KPF) Farmasi UGM adalah salah satu unit yang merupakan wadah pengembangan kualitas sumber daya sivitas akademika (terutama mahasiswa) di bidang softskill, atau keterampilan pendukung akademik di bidang videografi, fotografi, dan jurnalistik. Melalui KPF, sarana dan prasana yang digunakan untuk mendukung pelaksanaan webinar Fakultas Farmasi UGM adalah camera camcoder, beberapa jenis lighting, microphone, led tv, laptop, ruang multimedia dan studio yang nyaman. Peralatan yang digunakan sudah memenuhi standar untuk membuat sebuah video pembelajaran, video profil, dokumenter dan acara-acara di Fakultas. “Pelaksanaan webinar sebagai sarana untuk menyebarkan pengetahuan sejalan dengan tujuan dari Kanal UGM sebagai menara air yang mengalir ke seluruh pelosok tanah air”, ujar Gatot Sadewo, ST, MSc selaku Kepala Seksi Akademik dan Kemahasiswaan.

Menurut Sidiq Fatony, A.Md.Kom, staf jurnal dan juga anggota Kanal Pengetahuan Farmasi, metode webinar ini sangat inovatif dan bermanfaat di era teknologi modern jaman sekarang. Namun, masih perlu dimaksimalkan lagi, karena teknologi akan terus berkembang jadi apa salahnya memanfaatkan teknologi informasi yang ada dari sekarang. “Saya sebagai tim (yang mempersiapkan webinar) lebih mudah untuk mempersiapkan daripada seminar yang biasanya diselenggarakan oleh fakultas secara luar jaringan”, tambahnya. Dr. Susi Ari Kristina (Ketua Unit Urusan Internasional Farmasi UGM), selaku koordinator umum webinar menyampaikan bahwa webinar sangat membantu di dalam menjaga kegiatan-kegiatan akademik dan pendukung akademik tetap bisa berjalan, dan bahkan dengan metode webinar, jumlah kegiatan-kegiatan tersebut cenderung meningkat. “Semoga bermanfaat dan menjadi keberkahan pada masa pandemi covid-19 ini” (Humas FA UGM).

Softskill Sebagai Penguat Integritas Lulusan Apoteker UGM

Farmasi UGM – Program Studi Profesi Apoteker (PSPA) mengadakan kegiatan pengembangan softskill secara intensif pada tanggal 19-21 Juli 2020. Mengusung tema ‘Metamorphosing Disadvantages into Self-Investment’, PSPA mengundang narasumber-narasumber yang berpengalaman, antara lain apt. Linda Dimyati, S.Si., M.M., Ratih Widyastuti, S.Psi., apt. Didik Sugiarto, S.Si., I Made Andi Arsana, Ph.D., dan Ir. Muhammad Mahmud. Selain itu, diselenggarakan pula workshop oleh tim Upgrad.id, mengenai kiat-kiat mempersiapkan diri menghadapi job interview.

Dalam acara yang berlangsung secara daring tersebut, ketua prodi profesi apoteker, Dr. apt. Ika Puspitasari, berpesan agar para peserta tetap mengambil substansi dari apa yang disampaikan para pemateri softskill. “Pentingnya menanamkan softskill agar dapat mencetak lulusan apoteker yang handal, profesional, dan menjadi leading di bidangnya”, imbuh Prof. Dr. apt. Agung Endro Nugroho, dekan Fakultas Farmasi.

Hari pertama kegiatan softskill diisi oleh dua orang pemateri. Pada sesi satu Bu Ratih menyampaikan materi tentang personal branding. Kemudian dilanjutkan materi oleh Ibu Linda yang juga sekaligus alumni Fakultas Farmasi UGM. Beliau menyampaikan tentang career insight bagi apoteker di Rumah Sakit. Keeseokan harinya, disampaikan materi enterpreneurship oleh Pak Didik dan materi public speaking oleh Pak Andi yang merupakan dosen Geodesi UGM.

Pada hari terakhir, dilaksanakan simulasi job interview dan LGD (Leaderless Group Discussion) dengan mitra Upgrad.id. Dan agenda softskill ditutup oleh materi oleh Ir. Muhammad Mahmud, direktur utama Kawasan Industri Makasar. Beliau menyampaikan bahwa poin penting dari suatu promosi jabatan adalah ‘trust’. Dari acara ini semoga dapat menjadi gambaran bagi mahasiswa PSPA dalam mempersiapkan diri masuk ke dunia kerja. (Yusuf Patria)