Archive:

Language: Bahasa Indonesia

Prof. Kuswandi : Resistensi Bakteri terhadap Antibiotika Kian Meningkat

Bulan Juni lalu dunia sempat digemparkan dengan munculnya bakteri Escherichia coli yang telah merenggut 26 jiwa di Jerman dan 1 orang di Swedia. Sejak mewabahnya bakteri tersebut, tercatat 3.235 kasus yang dilaporkan di Jerman, 72 di antaranya menderita sindrom uremik hemolitik, penyakit yang mengancam jiwa karena mengancurkan ginjal dan sistem syaraf. Bakteri E. coli diidentifikasi sebagai E. coli enterohaemorhagic (EHEC) yang didalamnya mengandung gen yang kebal terhadap antibiotika. “Dewasa ini kasus resistensi bakteri terhadap antibiotika kian meningkat. Beberapa bakteri berbahaya yang mengancam kelangsungan hidup manusia mampu berkelit dari setiap antibiotika yang digunakan dokter dalam pengobatan,” kata Prof. Dr. M. Kuswandi Tirtodiharjo, S.U., M.Phil., Apt. saat dikukuhkan dalam jabatan Guru Besar pada Fakultas Farmasi UGM, Kamis (22/12) di Balai Senat UGM.

Data tahun 2010 menunjukkan 79% strain E.coli resisten terhadap ampisilin, sedangkan 30% strain resisten terhadap siprofloksasin. Pada tahun 1999-2000 di Amerika terjadi kasus sebanyak 43% infeksi S. aureus resisten terhadap metisilin. Beberapa bakteri berbahaya, seperti Mycobacterium turbercolosis dan Pseudomonas aeruginosa, tahan terhadap pemberian antibiotika. “Kekebalan bakteri terhadap antibiotika menyebabkan angka kematian penyakit menular kembali meningkat,” jelasnya.

Dalam pidato berjudul “Strategi Mengatasi Bakteri yang Resisten terhadap Antibiotika”, Kuswandi menyampaikan bakteri memiliki gen resisten dari hewan. Sebagian besar pemakaian antibiotika justru bukan untuk mengbobati penyakit infeksi pada manusia, melainkan untuk tujuan lain. Di Amerika, setiap tahun antibiotika digunakan 13 sampai 15 juta kilogram dan dari jumlah tersebut hanya 20% dipakai untuk pengobatan manusia. Sementara itu, sisanya dipakai untuk keperluan pertanian dan ternak, bukan untuk pengobatan. “Hal inilah yang menjadi awal pemakaian antibiotika yang tidak tepat sehingga menyebabkan terjadinya transmisi penyakit dari hewan ke manusia,” terangnya.

Antibiotika biasa dipakai sebagai bahan tambahan dalam makanan hewan ternak, bahan pengawet makanan yang berasal dari hewan, bahan pencampur dalam pengolahan sperma untuk inseminasi buatan dan untuk merendam telur yang akan ditetaskan. Penggunaan antibiotika pada ternak yang tidak terkontrol akan menyebabkan sejumlah kerugian, seperti hipersensitifitas, superinfeksi, resistensi bakteri terhadap antibiotika, gangguan keseimbangan bakteri floral dalam pencernaan, serta residu antibiotika dalam makanan dari hewan. “Adanya residu obat termasuk antibiotika dalam bahan makanan termasuk daging akan menyebabkan ditolaknya daging tersebut oleh negara pengimpor. Oleh karena itu disarankan agar tidak digunakan antibiotika untuk pengawetan makanan,” ujar pria kelahiran Purwokerto, 8 Februari 1951 ini.

Gen resisten juga berasal dari mutasi spontan, mikrobia yang memproduksi antibiotika, dan global travelling. Gen resisten juga bisa berasal dari lingkungan. Hasil penelitian US Geological Survey memperlihatkan 22% air sungai mengandung sejumlah antibiotika yang mampu membuat bakteri menjadi resisten. Menurutnya, terdapat sejumlah upaya yang dapat ditempuh untuk mencegah atau memperlama munculnya bakteri resisten terhadap antibiotika. Beberapa di antaranya adalah mengontrol pasien terinfeksi dan memonitor pemakaian antibiotika, pengawasan pemakaian antibiotika di bidang pertanian dan peternakan, memberi kombinasi antibiotika untuk pengobatan infeksi, juga kombinasi antibiotika dengan senyawa yang menyerang mekanisme biokimiawi yang menyebabkan bakteri resisten.

Kuswandi menambahkan untuk menghancurkan bakteri yang resisten terhadap antibiotika dapat dilakukan dengan membuat vaksin untuk melawan bakteri tersebut. Pada strategi ini, vaksin berisi protein bakteri yang dapat memompa antibiotika keluar dari sel bakteri. Melalui vaksin tersebut, tubuh seseorang akan mengembangan respon imun terhadap bakteri yang resisten dan akibatnya bakteri akan dihancurkan. Selain itu, strategi penggunaan bakteriofag/virus bakteri, mengisolasi obat dari tanaman serta membuat antibiotika secara sintetik yang terbalik diyakini mampu memperlama munculnya resistensi bakteri.

Sumber : Portal UGM

Industri Farmasi Indonesia Masih Tertinggal

Industri farmasi di Indonesia sampai saat ini masih tertinggal dengan kemajuan industri farmasi di luar negeri. Penyebab tertinggalnya industri farmasi Indonesia itu antara lain karena masih banyak penelitian berbasis kimiawi dan bioteknologi di tingkat perguruan tinggi yang belum dikembangkan pada skala industri. Selain penelitian yang minim dan baru pada skala perguruan tinggi untuk bahan sintetik obat-obat kimia itu saat ini masih banyak yang diimpor dari luar negeri.
“Bahan sintetik kimia obat-obatan hampir 90% masih kita impor sehingga menjadi kendala. Selain itu banyak penelitian yang berbasis kimia maupun bioteknologi saat ini masih terbatas pada skala perguruan tinggi dan belum dikembangkan di dunia industri,”papar Direktur Utama PT.Kimia Farma (Persero) Tbk, Syamsul Arifin, pada sambutannya usai penandatanganan nota kesepahaman bersama dengan Rektor UGM Prof.Ir.Sudjarwadi, M.Eng.Ph.D di R.Sidang Pimpinan UGM, Jumat (16/12).

Syamsul mengakui dari tahun ke tahun perkembangan obat-obatan di Indonesia terus berkembang pesat. Mulai dari obat yang berbasis herbal, kimia, bioteknologi bahkan stem cell (sel punca). Agar tidak tertinggal dengan perkembangan IPTEK PT. Kimia Farma menurut Syamsul juga terus mengikuti perkembangan dan kemajuan industri obat-obatan di dunia. Bahkan pihaknya telah mengekspor kina ke beberapa negara sebagai obat modern penyakit malaria.

“Jika dilihat siklusnya nampaknya penyakit malaria bisa kembali lagi sehingga kita kembangkan kina ini bahkan diekspor,”urai Syamsul.

Dengan kerjasama yang dijalin dengan UGM, Syamsul juga berharap akan lebih banyak lagi penelitian terkait kimia maupun obat-obatan yang bisa dikembangkan pada dunia industri sehingga akan bermanfaat bagi masyarakat.

Sementara itu Rektor UGM Prof.Ir.Sudjarwadi, M.Eng., Ph.D dalam sambutannya juga menyambut baik kerjasama yang dijalin dengan PT.Kimia Farma Tbk. Persoalan kesehatan menurut Sudjarwadi akan selalu menjadi hal yang penting seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk dunia. Harapannya melalui kerjasama ini UGM ke depan akan lebih baik lagi dalam memberikan pelayanan termasuk berkontribusi di bidang kesehatan.

“Misalnya di tahun 2050 mendatang persoalan kesehatan tentu menjadi hal yang sangat penting seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk dunia yang bisa mencapai 350 juta jiwa. UGM berharap akan semakin baik dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat termasuk di bidang kesehatan,”tutur Sudjarwadi.

Usai penandatanganan nota kesepahaman bersama itu acara kemudian dilanjutkan dengan tukar menukar cinderamata dan ramah-tamah. Nampak hadir dalam acara itu Wakil Rektor Senior Bidang Pendidikan, Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Prof. Dr. Retno Sunarminingsih, Apt., M.Sc., Ketua LPPM UGM Prof. Dr. Techn. Ir. Danang Parikesit, M.Sc., Dosen Farmasi UGM Prof. Dr. Edy Meiyanto, M.Si., Apt. serta dosen Teknik Mesin dan Industri UGM, Ir. Alva Edy Tontowi, M.Sc., Ph.D.

Sumber : Portal UGM

Prof. Sugeng: Metode Konvensional Untuk Identifikasi Senyawa Tak Memadai

Pada awalnya identifikasi suatu senyawa dilakukan dengan mengamati reaksi-reaksi kimia, yaitu dengan cara mendestruksi senyawa yang diidentifikasi. Kemudian hasil destruksi dipergunakan untuk menyimpulkan molekul asal. Selain dilakukan reaksi-reaksi kimia pada gugus fungsional yang ada pada molekul itu.

Menurut Prof. Dr. Sugeng Riyanto, M.S., Apt dalam proses identifikasi pada umumnya dicari reaksi-reaksi yang dapat diamati. Cara-cara ini awalnya cukup memadai, namun setelah diketemukan sedemikian banyak senyawa baru, dan struktur molekulnya meningkat menjadi lebih rumit, maka metode konvensional ini menjadi tidak memadahi lagi. Meskipun demikian metode ini masih sering digunakan sebagai pelengkap identifikasi. “Seandainya metode konvensional ini masih dipergunakan untuk menentukan struktur molekul senyawa baru, new compounds, niscaya pekerjaan itu tentu akan membutuhkan waktu yang lama,” ujar Prof. Sugeng Riyanto di Balai Senat, Rabu (14/12) saat dikukuhkan sebagai Guru Besar Fakultas Farmasi UGM.

Oleh karena itu sebagai penggantinya untuk identifikasi suatu senyawa sebaiknya dipergunakan metode spektroskopi. Sebab metode spektroskopi menjadi metode mutakhir untuk elusida struktur molekul. Spektroskopi sendiri merupakan bidang ilmu yang mempelajari interaksi antara gelombang elektromagnetik dengan materi. “Dengan spektroskopi ataupun spektrofotometri, jelas berarti melibatkan foton atau gelombang elektromagnetik berinteraksi dengan materi,” tutur pria kelahiran Bojonegoro, 4 Oktober 1951.

Kata Sugeng Riyanto untuk keperluan elusidasi struktur suatu senyawa maka diperlukan spektroskopi ultraviolet-visibel, inframerah, resonansi magnetic nuklir dan spektroskopi massa. Sementara sampel yang dibutuhkan adalah senyawa murni dengan bobot lebih kurang 10 miligram. “Data spektroskopi ini berupa spektra untuk diinterprestasikan dan informasi dari data ini saling mendukung untuk dapat disimpulkan struktur molekulnya,” jelas suami Nanik Suharyani, ayah dua anak yang mengucap pidato “Peran Spektroskopi Pada Identifikasi Kandungan Tanaman Obat”.

Lebih lanjut Dosen Bagian Kimia Farmasi, Fakultas farmasi UGM menjelaskan identifikasi senyawa menggunakan reaksi-reaksi kimia memiliki banyak keterbatasan dan tidak seteliti dan setepat metode spektroskopi. Identifikasi secara konvensional untuk senyawa yang struktur molekulnya rumit memerlukan waktu yang lama hingga berbulan-bulan dan malah mungkin struktur molekulnya tidak dapat ditemukan. “Metode spektroskopi sangat diperlukan, karena untuk identifikasi senyawa pada publikasi Jurnal Internasional yang baik harus disertakan data spektroskopi, terlebih bila senyawa tersebut baru, new compounds,” jelas Sugeng.

Sayang harga instrumen untuk pemeriksaan spektroskopi ini memang tidak murah, untuk spektrofotometer UV-Vis dan inframerah sudah banyak laboratorium kimia yang memiliki, namun yang masih memprihatinkan adalah Perguruan Tinggi di Indonesia banyak yang belum memiliki NMR dengan resolusi tinggi. “Sehingga hal ini menjadi kendala peneliti untuk publikasi bila penelitiannya hingga ke tingkat molekuler,” pungkasnya.

Sumber : Portal UGM

Abilawa, Es Krim Temulawak Olahan Mahasiswa Farmasi UGM

Tokoh Abilawa tentunya tidak asing lagi di telinga para pecinta wayang. Ya, Abilawa merupakan nama samaran dari salah satu tokoh Pandawa yakni Bima/Werkudoro. Namun, Abilawa yang satu ini sebenarnya bukanlah sosok yang gagah perkasa yang bersenjatakan kuku Ponconoko.

Abilawa ini adalah sebuah inovasi produk es krim berbahan temulawak yang diberi label awal bisnis temulawak atau disingkat dengan “Abilawa” . Abilawa lahir dari tangan-tangan kreatif sejumlah mahasiswa Farmasi UGM yang terdorong untuk membuat produk alternatif berbahan temulawak yang selama ini banyak dimanfaatkan sebagai bahan baku obat tradisional. Mereka adalah Topan Sawitra, Ina Rahmawati, Arum Setianingrum, Widi, dan Khairul Ikhsan yang belum lama ini telah menyelesaikan pendidikan profesi farmasi.

“Pada 14 Juli 2005, Pemerintah RI mencanangkan gerakan nasional minum temulawak (GNMT) yang salah satu tujuannya adalah meningkatkan penggunaan temulawak secara luas oleh masyarakat dalam upaya meningkatkan kesehatan. GNMT inilah yang menginspirasi kami untuk menciptakan sebuah produk olahan berbahan dasar temulawak yaitu es krim. Selain itu kami juga melihat temulawak ini memiliki peluang usaha yang besar untuk dikembangkan dalam dunia industri,” terang Khairul Ikhsan dalam acara Riset Week baru-baru ini di Kampus UGM.

Khairul menyebutkan Abilawa merupakan es krim sarat gizi karena mimiliki kandungan kurkumin yang tinggi. Zat kurkumin diketahui bermanfaat menjaga kesehatan hati (hepatoprotektor), anti oksidan, serta menambah nafsu makan.

Pembuatan es krim ini cukup sederhana, seperti membuat es krim pada umumnya. Dalam membuat es krim digunakan 0,5 kg serbuk temulawak yang diolah dengan mencampurkan dengan air panas kemudian disaring. Selanjutnya air saringan ditambahkan dengan jeruk nipis dan didinginkan. Hasil olahan dari temulawak ini kemudian diolah bersama dengan bahan es krim lain yaitu susu sapi, gula, garam, emulsifier, dan stabilizer.

“Dalam membuat es krim Abilawa ini kami menggunakan bahan eskrim yang sudah jadi yang dijual dipasaran untuk selanjutnya diolah bersama dengan temulawak,” jelasnya.
Dalam satu kali produksi, mereka mampu menghasilkan 60 cup es krim ukuran 100 ml. Lima sekawan ini melempar Abilawa ke pasaran dengan harga Rp. 2.500 per cup-nya. Untuk satu kali pemasaran mereka mampu menjual hingga 100 cup es krim.

Produk yang sudah dilaunching pada 2009 lalu ini, sementara baru di pasarkan di Pasar Minggu Pagi (Sunmor) UGM. Guna memperluas pangsa pasar kedepannya mereka akan menjalin kerjasama dengan Apotek dan Herbal Corner.

Inovasi produk ini tak hanya berhasil memberikan alternatif pilihan rasa bagi penggemar es krim, tetapi juga telah berhasil menghantarkan Ikhsan dan rekan-rekan memperoleh juara III dalam Pekan Ilmiah Mahasiswa Farmasi Indonesia (PIMFI) 2009.

Sumber : Portal UGM

BEM Farmasi UGM Gelar Lomba Khusus Siswa Tuna Netra

Keterbatasan fisik bukan jadi halangan untuk berkreasi. Meski memiliki penglihatan kurang sempurna, pelajar tuna netra juga memiliki bakat di sisi lain. Bakat tersebut dapat berupa seni, budaya maupun keterampilan yang lain. Kemampuan ini pun dapat mereka tuangkan dalam sejumlah ajang, lomba keterampilan dan seni yang ada.

Keunggulan itulah coba ditunjukkan oleh sejumlah pelajar SMP Yayasan Kesejahteraan Tuna Netra Islam (Yaketunis) Yogyakarta. Mereka mengikuti kegiatan Lomba Kesenian dan Ketrampilan yang diadakan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Farmasi UGM di SMP Yaketunis, Minggu (9/10).

Para siswa tampak bersemangat mengikuti sejumlah ajang perlombaan. Sikap antusias itu misalnya ditunjukkan oleh Mukhlisin, yang memiliki bakat seni berupa menulis dan membaca puisi. Dalam kesempatan tersebut, siswa 18 tahun ini membacakan puisi karyanya yang berjudul Kampung Halamanku.

Di hadapan para dewan juri, Mukhlisin mencoba menyuarakan suara hatinya tentang kondisi kampung halamannya di Godean, Sleman, DIY. Ia menilai, saat ini fidak ada lagi hamparan sawah yang ia temui semasa kecil. “Sekarang sudah berganti dengan perumahan dan pertokoan, saya prihatin dengan kondisi ini,” katanya kepada Tribun Jogja.

Mukhlisin membutuhkan waktu 10 menit untuk membuat karya tersebut. Ia pun baru membuatnya pada Minggu pagi. Melalui puisi yang ia bacakan dengan penuh penghayatan tersebut, ia berujar ingin menyampaikan sebuah pesan sosial pada pemerintah. Ia berharap, kondisi serta pemandangan alam yang dimiliki suatu desa dapat tetap terjaga kelestariannya.

“Alhamdulillah, akhirnya saya bisa mencurahkan perasaan melalui puisi ini,” lanjut Mukhlisin. Di sudut lain sekolah, tampak sejumlah siswa-siswi yang mengikuti lomba memasak. Ardina, siswi Yaketunis salah satunya, juga berkesempatan untuk membuat sebuah puding yang dilombakan dalam kegiatan tersebut.

Meski mengaku baru kali pertama membuat puding, namun ia yakin dapat menghasilkan kreasi puding yang istimewa. la pun bersyukur karena dapat menuangkan keinginannya untuk membuat sebuah kreasi puding.

“Paling susah ya cuma mengira-ngira ukuran gula dan serbuk pudingnya, tapi semoga saja pas” kata siswi asal Wonogiri itu.

Febriana selaku Penanggungjawab acara menuturkan, kegiatan tersebut sengaja untuk mewadahi kreasi para siswa tuna netra. Ia menilai, meski para pelajar ini memiliki kekurangan, mereka memiliki bakat dan keterampilan yang tak kalah dibanding pelajar normal.

“Terbukti mereka juga bisa menyanyi, baca puisi, tartil Alquran dan memasak yang kami adakan,” kata mahasiswi Fakultas Farmasi UGM ini.

Sumber : Tribun Jogja 10 Oktober 2011

Fakultas Carikan Beasiswa

Setiap mahasiswa yang terdaftar di UGM, khususnya di Fakultas Farmasi diupayakan untuk tidak berhenti. Lebih-lebih hanya karena masalah biaya. Karena, fakultas akan mencarikan beasiswa. Hal tersebut disampaikan Dekan Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof Dr Marchaban DESS Apt saat upacara dies natalis Fakultas Farmasi UGM ke-65 di Gedung Grha Sabha Pramana UGM, beberapa waktu lalu (1/10).

Marchaban juga menyampaikan Fakultas Farmasi UGM telah meluluskan 5.733 apoteker, 406 magister, dan 16 Doktor. “Meski sudah banyak lulusan, kita tidak ingin terlena. Karena masih banyak hal yang harus dikembangkan, salah satunya mengenai penjaminan mutu akademik,” kata Marchaban.

Menurutnya, sistem penjaminan mutu akademik di Fakultas Farmasi untuk program S1 didukung pedoman akademik. Pedoman akademik yang dimiliki Fakultas Farmasi UGM adalah Buku Panduan Akademik, Dokumen ISO 9001 : 2008 yang meliputi Panduan Mutu, Prosedur Mutu, dan lnstruksi Kerja.

Dalam kesempatan tersebut, Marchaban juga membacakan sejarah singkat berdirinya Fakultas Farmasi UGM. Ini dimulai tanggal 27 September 1946 di Klaten, di mana saat itu masih bernama Perguruan Tinggi Ahli Obat (PTAO).

Sementara itu, Ketua Panitia dies natalis, Prof Dr Djoko Wahyono SU Apt memaparkan prioritas utama Fakultas Farmasi UGM. Yakni peningkatan riset dan pengabdian terhadap masyarakat dalam bidang pengembangan obat herbal dan suplemen, peningkatan penelitian pada program pascasarjana, dan peningkatan kualitas staf akademik dalam menunjang kegiatan pendidikan dan penelitian di Fakultas Farmasi UGM.

“Contoh konkritnya adalah kerja sama yang dilakukan Fakultas Farmasi UGM dengan KP4 UGM dalam melakukan pemberdayaan petani tanaman obat. Kegiatan ini meliputi pelatihan dan pemberdayaan petani obat melalui KKN PPM, Training of Trainers (ToT), dan pameran produk obat herbal dan kunjungan studi banding ke instansi pengembang obat herbal,” ungkap Djoko.

Sumber : Radar Jogja 5 Oktober 2011

Industri Obat Bahan Alam Tumbuh Pesat

Industri obat bahan alam (herbal) terus tumbuh seiring kepercayaan masyarakat dunia terhadap manfaat obat berbahan baku dari alam dan semangat back to nature atau kembali ke alam. Oleh karena itu, pembinaan harus cermat dan tepat agar industri obat bahan alam bisa tumbuh maksimal.

Prof Dr Marchaban Apt, Dekan Fakultas Farmasi UGM menyampaikan hal itu saat silaturahmi dengan Dirut PT BP SKH Kedaulatan Rakyat, dr Gun Samawi yang didampingi Direktur Keuangan KR, Imam Satriadi, Kamis (29/9). Selain Prof Marchaban, rombongan dari Farmasi UGM ini terdiri Prof Dr Wahyono SU Apt, Dr Rishadi Apt MSPH, Dr Agung Endro Nugroho MSi Apt dan Prof Dr Djoko Wahyono.

Tumbuhnya industri obat bahan alam ini menjadikan peluang tersendiri di ilmu kefarmasian. Bahkan, peminat mahasiswa untuk masuk ke Fakultas Farmasi UGM dengan konsentrasi bahan alam terus meningkat. “Animo mahasiswanya cukup tinggi,” kata Prof Marchaban.

Menandai Lustrum XIII-Reuni VIII dan HUT ke-65, Fakultas Farmasi menggelar serangkaian kegiatan dengan tema ‘Merajut Jejaring Alumni, Peduli Kesehatan Bangsa’. Mulai dari pameran industri dan pelayanan kefarmasian di Graha Saba Pramana, Jumat (30/9) hingga musyawarah alumni.

“Kegiatan puncaknya pergelaran wayang kulit di halaman Fakultas Farmasi dengan dalang Ki Enthus Susmono mengambil lakon Dewaruci, Sabtu (1/10),” kata Prof Marchaban, seraya mengatakan, untuk jumlah alumninya sampai saat ini sudah ada 5.573 orang yang tersebar di Indonesia.

Fakultas Farmasi lahir 27 September 1946 di Klaten dengan nama Perguruan Tinggi Ahli Obat (PTAO). Fakultas Farmasi beberapa kali berpindah dari satu tempat ke tempat lain, dan akhirnya tahun 1977 menetap di Sekip Utara UGM.

Sumber : Kedaulatan Rakyat 30 September 2011

Dies Natalis Ke-65 Fakultas Farmasi UGM ; Lulusan Apoteker Tunggu Kerja 6 Bulan

Sampai September 2011 Fakultas Farmasi UGM telah meluluskan 5.733 apoteker, 406 magister dan 16 doktor. Para lulusan telah menduduki posisi-posisi penting, baik di industri farmasi, rumah sakit, pemerintahan, pendidikan, apotik, maupun tempat-tempat lainnya. Waktu studi mahasiswa S1 tergolong cepat rata-rata kurang dari 4,5 tahun terpendek di UGM.

“Indeks prestasi kumulatif (IPK) rata-rata di atas 3,0 waktu tunggu lulusan untuk mendapat pekerjaan di bawah 6 bulan. Output lulusan yang dihasilkan di antaranya, persentase lama studi tepat 8 semester atau 66,68 persen,” kata Dekan Fakultas Farmasi UGM Prof Dr Marchaban DESS Apt, Sabtu (1/10) dalam peringatan Dies Natalis ke-65 Fakultas Farmasi yang berdiri 27 September 1946.

Peringatan Dies Natalis ke-65 dengan mitra SKH Kedaulatan Rakyat ini dihadiri antara lain para pimpinan fakultas dan universitas, dosen, karyawan, sekitar 600 alumni, Dirut PT BP KR dr Gun Nugroho Samawi, Komisaris Utama Drs HM Romli dan para purna karyawan. Pidato dies disampaikan Drs Djoko Sujono Apt MBA dengan judul ‘Perubahan Lanskap Industri Farmasi Global’.

Menurut Prof Marchaban, lama lulusan tunggu untuk pekerjaan pertama 1 bulan, persentase lulusan dengan IPK di atas 3,00 tercatat 60,63 persen. Selama ini tidak ada mahasiswa yang drop out, tetapi ada yang mengundurkan diri. “Pengguna lulusan sering meminta langsung daftar lulusan ke fakultas untuk direkrut atau mengadakan tes rekrutmen di fakultas,” kata Prof Marchaban.

Dalam pidato dies Djoko Sujono mengatakan, beberapa gelombang perubahan besar sedang terjadi, makin lama makin kuat. Perubahan tentu membawa peluang dan ancaman bagi industri farmasi Indonesia. Karena itu perlunya perubahan paradigma regulasi pendidikan dan praktek kefarmasian di Indonesia dan sebagai bidang usaha farmasi dikenal dengan karakteristik khas.Pada dasarnya upaya tersebut mencakup tiga aspek, yaitu memperbesar kue di dalam negeri dengan tetap mengedepankan kepentingan masyarakat pasien. Meningkatkan daya saing industri di luar dan meningkatkan daya saing intelektual. “Mengingat sifatnya regulated dan padat ilmu maka apapun perubahan yang dilakukan tidak lepas dari aspek regulasi dan pembangunan SDM keilmuan,” kata Djoko Sujono.

Sumber : Kedaulatan Rakyat 3 Oktober 2011

Alumnus UGM Napak Tilas dengan Andhong

Alumnus UGM akan bernostalgia mengunjungi tempat bersejarah dengan menggunakan andhong. Demikian dikatakan sekretaris umum Lustrum XIII Fakultas Farmasi UGM Dr. Agung Endro Nugroho, M.Si., Apt. saat menjelaskan kegiatan napak tilas yang dilaksanakan dalam rangka Lustrum XIII – Reuni VIII Fakultas Farmasi UGM 30 September – 1 Oktober 2011 nanti.

Ditemui disela-sela kesibukannya, beliau menjelaskan bahwa napak tilas tersebut akan mengunjungi tempat-tempat bersejarah, dimana Fakultas Farmasi UGM pernah berdiri, yakni dimulai dari Fakultas Farmasi UGM, IKIP Karang Malang, Ngasem hingga Sekip Jogjakarta.

“Dalam kegiatan tersebut para alumnus dan undangan akan menaiki andhong, yang bertujuan agar nostalgia akan ciri khas nuansa Jogja menjadi semakin kental,” kata Agung panggilan akrabnya.

Selain napak tilas, berbagai macam kegiatan juga akan dilaksanakan untuk mengisi lustrum-reuni, yakni Pharmacy-Expo yang berisi pameran industri kosmetik, jamu, makanan, minuman dan obat-obatan tradisional, pameran foto, welcome party, reuni dan musyawarah per-angkatan, tarian humor dari sanggar Didi Nini Towok, serta pertunjukan wayang kulit dengan dalang kondang yang sedang naik daun, Ki Enthus Susmono.

Acara utama Lustrum XIII – Reuni VIII Fakultas Farmasi UGM adalah pada peringatan Dies Fakultas Farmasi UGM ke-65, yang akan digelar di Grha Sabha Pramana UGM 1 Oktober mendatang.

Dalam acara tersebut akan diawali dengan sambutan dari Ketua Panitia Lustrum XIII – Reuni VIII, Prof. Dr. Djoko Wahyono, SU., Apt. dilanjutkan dengan pidato dies, film kilas balik Farmasi UGM, paduan suara mahasiswa, karawitan sivitas Farmasi UGM, dan penyerahan medali dan penghargaan bagi alumnus, dosen dan karyawan Fakultas Farmasi yang berprestasi.

Tema yang diangkat pada Lustrum XIII – Reuni VIII Fakultas Farmasi UGM adalah “Merajut Jejaring Alumni, Peduli Kesehatan Bangsa.” Makna dari tema diatas antara lain adalah untuk mengembangkan persaudaraan dan kesetiakawanan sesama alumni, mengembangkan profesi pada sesama almamater, khususnya dibidang farmasi, serta partisipasi alumni dalam peningkatan kesehatan bangsa.

Pada acara Lustrum-Reuni Fakultas Farmasi UGM kali ini akan dihadiri oleh Rektorat UGM, Dinas Kesehatan DIY, Ikatan Dokter Yogyakarta, Persatuan Dokter Gigi Indonesia, Ikatan Apoteker Indonesia dan Pengelola Apotik di seluruh DIY.

Sumber : Radar Jogja 25 September 2011

Mahasiswa Fakultas Farmasi UGM berhasil memperoleh Gold Medal & Best Award pada ajang International

Universitas Gadjah Mada kembali memperoleh prestasi di dunia Internasional dalam ajang International Invention and Innovation Exhibition (i-ENVEX) 2011 yang dilaksanakan di Kangar, Perlis, Malaysia 8-10 April 2011 lalu. i-ENVEX adalah kegiatan rutin yang dilaksanakan Universiti Malaysia Perlis setiap tahunnya yang di koordinasi oleh Malaysian Ministry of Higher Education (MOHE) dan Malaysian Ministry of Science, Technology and Innovation (MOSTI). Kegiatan tersebut tidak hanya diikuti oleh berbagai universitas dalam negeri Malaysia, tetapi juga dihadiri oleh Indonesia, Singapore, Thailand, Kamboja, Filipina, dan Saudi Arabia. Kegiatan ini merupakan sebuah event ilmiah yang memiliki tujuan untuk mendorong perkembangan ilmu di bidang sains dan teknologi.

Keikut sertaan wakil UGM dalam kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari perolehan gelar juara 1 dalam ajang Pemilihan Peneliti Remaja Indonesia (PPRI) 2010 bidang IPA lalu yang diselenggarakan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) ke taraf internasional. Dalam ajang ini UGM yang diwakili oleh Ameilinda Monikawati, mahasiswa Fakultas Farmasi UGM berhasil memperoleh Gold Medal sekaligus Best Award untuk kategori Biotechnology, Health & Chemicals melalui penelitiannya yang berjudul “Chemopreventive Activity of Ciplukan Herbs (Physalis angulata) on Breast Cancer: In Vitro and In Vivo Study”. Keikutsertaan UGM dalam event ini adalah suatu bukti bahwa UGM selalu mengikuti dan berkontribusi dalam kemajuan ilmu pengetahuan dalam taraf internasional.