Archive:

Language: Bahasa Indonesia

Perlunya Peningkatan Sistem Imun pada Pandemi COVID-19

Farmasi UGM – Awal tahun 2020 dunia digegerkan dengan berita mewabahnya penyakit yang disebut corona virus disease 19 (COVID-19) yang mulai merebak di Wuhan, Cina. Tidak disangka, dalam waktu 4 bulan wabah yang disebabkan oleh virus SARS-CoV2 ini sudah menjangkau seluruh dunia (213 negara, area, atau teritori), termasuk Indonesia (data per April 2020). Di seluruh dunia penyakit ini sudah menginfeksi sekitar hampir 2 juta orang dengan kematian mencapai lebih dari 100 ribu kasus. Bila dilihat, kematian akibat  lebih banyak terjadi pada pasien lanjut usia. Selain itu, keparahan COVID-19 juga lebih banyak dijumpai pada individu-individu yang sedang atau pernah memiliki riwayat penyakit diabetes, jantung dan penyakit kronis lainnya. Yang menarik, tidak semua pasien COVID-19 menunjukkan gejala, atau hanya menunjukkan gejala yang ringan saja. Hal ini diduga akibat perbedaan kekuatan sistem imun tubuh, dimana pada usia dewasa muda, sistem imun lebih kuat daripada pasien usia lanjut (1).

Penyakit akibat virus memang pada umumnya merupakan ‘self-limiting disease’ yang mengandalkan kekuatan pertahanan tubuh. Karena itu telah banyak dikampanyekan untuk meningkatkan daya tahan tubuh untuk mencegah tertularnya infeksi virus, dan kalaupun tertular, tubuh akan kuat melawannya. Seperti apa sebenarnya sistem pertahanan tubuh manusia itu dan bagaimana ia bekerja?. Kajian ini akan membahas bagaimana sistem imun/pertahanan tubuh kita bekerja pada kondisi normal dan kondisi terserang virus, faktor-faktor yang mempengaruhi sistem imun, serta makanan, minuman atau obat-obatan yang dapat digunakan untuk meningkatkannya.

Pengertian sistem imun dan respon imun terhadap infeksi virus

1. Apakah sistem imun itu?

Sistem imun adalah sistem daya tahan tubuh terhadap serangan substansi asing yang terpapar ke tubuh kita. Substansi asing tersebut bisa berasal dari luar maupun dalam tubuh sendiri. Contoh subtansi asing yang berasal dari luar tubuh (eksogen) misalnya bakteri, virus, parasit, jamur, debu, dan serbuk sari. Sedangkan substansi asing dari dalam tubuh dapat berupa sel-sel mati atau sel-sel yang berubah bentuk dan fungsinya. Substansi-substansi asing tersebut disebut imunogen atau antigen (2).

Apabila imunogen terpapar ke tubuh kita, maka tubuh kita akan meresponnya dengan membentuk respon imun dari sistem imun. Sistem imun secara harfiah merupakan sistem pertahanan diri yang menguntungkan, tetapi dalam kondisi tertentu dapat menimbulkan keadaan yang merugikan.

Respon imun terbagi menjadi 2 fase, yaitu fase respon imun alami (innate imunity) dan fase respon imun adaptif (adaptive immunity). Respon imun alami akan terjadi pada awal terpaparnya imunogen ke tubuh kita. Apabila sistem imun alami ini bisa mempertahankan tubuh dari serangan imunogen, maka kita tidak akan menderita sakit (fase pertama). Sebaliknya, apabila sistem imun alami tidak bisa mempertahankan terhadap serangan imunogen, maka kita akan sakit/terinfeksi (fase kedua).

Sel-sel tubuh yang bertugas dalam sistem imun (sel-sel sistem imun) adalah kelompok sel-sel darah putih (leukosit). Dalam menjalankan tugasnya sel-sel  leukosit ini terbagi menjadi 2 kelompok. Kelompok pertama berperan dalam sistem imun alami, antara lain sel makrofag, sel neutrofil, sel eosinofil, dan sel dendritik; yang disebut sel APC (antigen presenting cells). Sel-sel APC merupakan sel yang bertugas mengenali dan mengolah imunogen, yang nantinya akan diserahkan ke sel-sel yang berperan dalam respon imun adaptif. Selain sel APC, ada sel NK (natural killer) yang berperan dalam respon imun alami. Kelompok sel kedua merupakan sel-sel yang berperan dalam respon imun adaptif, yaitu sel limfosit B (yang menghasilkan antibodi) dan sel limfosit T yang berperan menghasilkan sitokin. Sitokin ini akan mengaktifkan sel-sel yang berperan dalam sistem imun untuk lebih aktif dalam mempertahankan tubuh terhadap serangan mikroba yang sifat infektifnya tinggi, seperti bakteri gram negatif, bakteri gram positif, dan virus[2].

2. Bagaimana respon imun terhadap infeksi virus?

Ketika virus menginfeksi seseorang (inang), artinya virus tersebut menyerang sel-sel pada tubuh inang sehingga virus tersebut bertahan ‘hidup’ dan memperbanyak diri (bereplikasi) di dalam sel inang[3]. Secara umum, ada 3 mekanisme respon imun untuk mengeliminasi infeksi virus, yang akan dijabarkan sebagai berikut.

  • Melalui antibodi. Sebelum masuk menginfeksi ke dalam sel inang, virus dapat disingkirkan oleh antibodi. Antibodi adalah suatu protein yang secara spesifik mengenali antigen, termasuk virus, dan akan berikatan dengannya. Ikatan antibodi dengan virus akan membasmi virus dengan cara: (a) antibodi menetralisasi virus sehingga virus tidak lagi bisa menginfeksi sel inang; (b) beberapa antibodi dapat bekerja sekaligus bersamaan sehingga partikel virus berlekatan menjadi agregat (proses ini disebut aglutinasi) dan menjadi target yang jauh lebih mudah dikenali oleh sel-sel dalam sistem imun; (c) kompleks antibodi-virus akan berikatan pada reseptor permukaan sel sehinga mengaktivasi proses fagositosis, yaitu proses “penelanan” dan perusakan virus oleh sel fagosit (misalnya makrofag); dan (d) mengaktivasi sistem komplemen, yang pada akhirnya akan mengopsonisasi dan memfagositosis virus (3).
  • Mekanisme sitotoksik. Jika virus sudah masuk mengineksi ke dalam sel inang, sel-sel sistem imun tidak dapat “melihat” atau mendeteksi keberadaan virus tersebut sehingga tubuh tidak tahu jika sel inang telah terinfeksi. Untuk mengatasi hal tersebut, sistem imun memiliki suatu metode yang mampu memperlihatkan apa yang ada di dalam suatu sel dengan menggunakan suatu molekul protein yang dinamakan MHC kelas I (class I major histocompatibility complex). MHC kelas I ini bertugas mempresentasikan potongan protein (peptide) hasil produksi virus di dalam sel ke permukaan sel.Salah satu jenis sel limfosit T, yaitu sel T sitotoksik, mampu mengenali MHC pada sel yang telah terinfeksi virus. Proses interaksi sel T dengan MHC ini akan memicu sel T memproduksi senyawa yang akan membunuh sel yang terinfeksi virus tersebut[3].Namun demikian, virus memiliki kemampuan beradaptasi yang sangat tinggi, sehingga akhirnya juga dapat meloloskan diri dari deteksi oleh sel T, misalnya dengan cara menekan molekul MHC. Di sisi lain, sistem imun juga memiliki sel NK yang dapat mendeteksi sel yang memiliki jumlah molekul MHC jauh lebih sedikit dari ‘normal’. Sel NK ini juga akan mentarget sel tersebut yang terinfeksi virus tersebut dengan cara yang mirip dengan sel T sitotoksik[3].
  • Melalui interferon. Selain dengan mekanisme sitotoksik, sel inang yang terinfeksi virus tersebut akan memproduksi dan melepaskan molekul protein yang disebut Interferon menghambat replikasi virus di dalam sel inang. Selain itu, interferon juga berperan sebagai molekul sinyal yang akan “memperingatkan” sel-sel sehat di sekitar sel yang terinfeksi akan keberadaan virus. Sel-sel di sekitar sel yang terinfeksi ini akan “bersiaga” dengan meningkatkan jumlah MHC kelas I pada permukaannya, sehingga dapat diidentifikasi oleh sel T yang akan mentarget sel tersebut yang terinfeksi virus tersebut dengan cara yang mirip dengan sel T sitotoksik[3].

Faktor-faktor yang mempengaruhi sistem imun

1. Lingkungan lebih dominan dibandingkan genetik

Fungsi tubuh secara umum dapat dipengaruhi oleh 2 faktor, yaitu informasi genetik yang diturunkan dari kedua orang tua dan faktor lingkungan. Beberapa aktivitas sistem imun dipengaruhi oleh faktor genetik. Termasuk didalamnya adalah aktivitas pertama untuk eliminasi bakteri, jamur, dan virus. Komponen sistem imun yang dipengaruhi oleh keturunan ini bertanggung jawab terhadap pengenalan pertama yang terjadi segera saat bakteri, virus, atau jamur masuk ke dalam tubuh. Faktor kedua yang dapat mempengaruhi fungsi tubuh, termasuk fungsi pertahanan sistem imun adalah faktor lingkungan. Beberapa penelitian terbaru menunjukkan bahwa faktor lingkungan berperan sangat penting dalam perkembangan komponen sistem imun, terutama komponen yang bertanggung jawab terhadap pertahan tubuh dalam jangka yang panjang. Orang kembar yang memiliki komponen tubuh yang seharusnya bekerja identik pun akan memiliki kemampuan pertahanan tubuh yang berbeda bila lokasi tinggalnya berbeda. Komponen sistem imun yang dipengaruhi oleh faktor lingkungan ini bereaksi lebih lambat dalam menghadapi mikroba, bakteri, jamur, virus. Tetapi kemampuannya dalam mengeliminasi lebih spesifik, dan lebih bertahan lama (4).

2. Makanan

Makanan sehari-hari merupakan komponen yang paling utama yang membentuk diri kita. Hal ini tidak terkecuali untuk sistem imun tubuh. Sistem imun sangat dipengaruhi oleh makanan. Makanan yang kaya akan lemak dan gula atau biasa disebut western diet/makanan barat (seperti pada makanan cepat saji) cenderung menyebabkan stress pada sistem imun kita, sehingga mudah mengalami kerusakan dan menginisiasi penyakit. Makanan jenis ini akan meningkatkan produksi protein-protein yang menyebabkan kondisi stres tubuh.  Pola makanan barat akan menyebabkan kita rentan terhadap penyakit degeneratif/metabolik seperti jantung, kolesterol, dan diabetes. Banyak makanan yang baik dikonsumsi sehari-hari, untuk meningkatkan atau setidaknya menjaga agar kondisi tubuh kita tetap baik seperti yoghurt, acar (produk fermentasi), dan makanan kaya serat. (5)

3. Usia

Usia sangat berpengaruh pada kemapuan sistem imun. Seperti sel-sel lain, pada umumnya sel-sel imun juga berada pada aktivitas puncaknya saat individu sudah dewasa.  Setelah itu semakin tua usia sel-sel ini akan menurun aktivitasnya, termasuk dalam memproduksi protein yang berfungsi untuk melawan infeksi virus, yaitu interferon. Fungsi organ tubuh kita juga mulai menurun dengan meningkatnya usia.

4. Kondisi kesehatan

Orang yang memiliki penyakit lebih rentan terhadap serangan infeksi virus. Tidak semua penyakit yang meningkatkan kemungkinan individu untuk terinfeksi virus. Penyakit kronis (yang sudah diderita lama) seperti diabetes, hipertensi, jantung, atau kolesterol dan radang hati dapat meningkatkan kerentanan terhadap infeksi. Kondisi stress (pikiran) juga cenderung meningkatkan kemungkinan individu untuk terkena penyakit infeksi.

5. Konsumsi obat-obatan

Terdapat beberapa golongan obat-obatan yang diketahui dapat menurunkan kemampuan sistem imun kita untuk mempertahankan diri, salah satunya golongan kortikosteroid serperti kortison, hidrokortison. Penggunaan obat-obat ini terutama dalam jangka waktu yang lama sangat mungkin menurunkan kekebalan tubuh kita.

Hal lain yang perlu diketahui adalah bakteri, virus akan menyebabkan infeksi bila bakteri dan virus tersebut melakukan kontak tubuh, misalnya melalui kulit, mata, saluran pencernaan maupun saluran kemih. Bila kulit dalam kondisi baik bakteri maupun virus akan sulit masuk, tetapi bila ada luka terbuka kan lebih mudah untuk masuk dan menginfeksi. Penggunaan masker untuk menutup saluran nafas (mulut dan hidung) akan membantu mencegah infeksi virus yang datang melalui udara.

Bagaimana cara meningkatkan sistem imun?

Sistem imun dapat ditingkatkan atau ditekan, salah satunya dengan pemberian imunomodulator. Imunomodulator adalah senyawa yang mampu berinteraksi dengan sistem imun sehingga dapat menaikkan (imunostimulator) atau menekan (imunosupresan) respon imun. Pengaruh senyawa tertentu untuk menaikkan maupun menekan respon imun dapat tergantung pada, antara lain dosis atau waktu pemberian (6)

Pada kondisi tertentu, misalnya penerima organ transplantasi dibutuhkan imunosupresan, misalnya steroid dan siklosporin, untuk menekan sistem imunnya agar tidak terjadi reaksi penolakan pada organ tersebut. Sebaliknya, pada keadaan dengan risiko tinggi terjadinya infeksi seperti pandemic Covid-19 ini, diperlukan imunostimulan untuk meningkatkan kemampuan tubuh menangkal infeksi virus. Pada dewasa ini banyak senyawa-senyawa baik vitamin maupun herbal dari alam yang tersedia secara komersial diklaim memiliki efek imunostimulan. Contoh-contoh senyawa yang dapat digunakan sebagai imunostimulan dibahas di bawah ini.

Macam-macam bahan/senyawa untuk meningkatkan system imun

2. Vitamin C

Studi pada pasien sehat, pemberian vitamin C memperbaiki beberapa komponen dari parameter imunitas manusia, seperti aktivitas antimikroba dan sel NK dan perbanyakan sel limfosit (7). Vitamin C membantu sel-sel imun untuk berpindah menuju tempat infeksi untuk membunuh mikroba. Pada saat yang sama vitamin C juga menjaga jaringan inang dari kerusakan yang berlebihan akibat meningkatnya matinya sel-sel imun neutrofil dan aktivitas makrofag. Jadi, vitamin C diperlukan untuk meningkatkan system kekebalan tubuh dan mempertahankan respon yang memadai terhadap patogen serta menghindari kerusakan yang berlebihan pada inang (8).

Dosis vitamin C per hari yang direkomendasikan untuk dewasa yaitu 75-90 mg dan pada perokok ditambah 35 mg. Pada dosis yang cukup, suplemen viamin C dapat dikatakan aman. Namun, terdapat beberapa efek samping yang mungkin muncul, seperti mual, muntah, insomnia, dan sakit kepala. Pada beberapa orang juga ditemukan bahwa vitamin C dapat menyebabkan batu ginjal. Penggunaan dalam jangka panjang dengan dosis 2 gram/hari dapat meningkatkan efek samping.

3. Vitamin D

Vitamin D berperan dalam mengatur perbanyakan sel T, mengontrol proses dan fungsi sel limfosit. Singkatnya, vitamin D mendukung aktivasi imunitas antibakteri dan antivirus. Pada kasus kekurangan vitamin D, kadar sitokin pro peradangan meningkat dan mengurangi efektivitas respon imun terhadap infeksi secara signifikan (9).

Dosis yang direkomendasikan untuk vitamin D per hari adalah 15 mcg (600 IU) pada kelompok umur 18-70 tahun dan untuk >71 tahun adalah 20 mcg (800 IU). Dosis terbesar yang dapat dikonsumsi adalah 100 mcg (4000 IU) per hari. Beberapa efek samping yang mungkin muncul pada penggunaan vitamin D adalah batuk, kesulitan menelan, dan pusing.

4. Vitamin E

Vitamin E bersifat sebagai antioksidan yang mampu menetralkan molekul yang tidak stabil yang dapat merusak sel. Vitamin E dapat melindungi vitamin A dan beberapa lipid dari kerusakan. Vitamin E dapat meningkatkan pembentukan sel linfosit T naif dan mengawali sinyal aktivasi sel T, serta memodulasi keseimbangan Th1/Th2 (10). Menurut penelitian Hussain et al. (2019), kadar immunoglobulin (IgG dan IgM) dan sel T (CD4+ dan CD8+) pada pasien yang menerima vitamin E meningkat secara signifikan dibandingkan dengan pasien yang menerima regimen anti-tuberkulosis dan meningkatkan imunitas pasien tuberkulosis (11).

Dosis vitamin E yang direkomendasikan adalah 15 mg/hari (22 IU dari vitamin E alami atau 33 IU dari vitamin E sintesis). Dosis tertinggi yang dapat dikonsumsi per hari adalah 1000 mg (1500 IU dari vitamin E alami atau 2200 IU dari vitamin E sintesis). Efek samping penggunaan vitamin E dengan dosis >400 IU/hari jangka panjang adalah diare, pusing, sakit kepala, mual, dan kram perut.

5. Zinc

Zinc membantu banyak enzim, protein, dan membentuk sel baru. Zinc juga melepaskan vitamin A dari penyimpanan di hati. Bila diminum dengan antioksidan, zinc dapat menghambat progresi degenerasi karena penuaan. Zinc diperlukan sebagai ion katalitik, strukrural, dan pengatur untuk enzim, protein, dan faktor transkripsi. Oleh karena itu, zinc merupakan elemen yang utama dalam beberapa mekanisme homeostatis tubuh, termasuk respon imun (12). Zinc juga dapat menginduksi perlekatan sel myelomonositik ke endothelium. Defisiensi zinc tidak hanya mempengaruhi rekruitmen neutrofil, tetapi juga menurunkan kemotaksis dari neutrofil. Dalam kondisi ini juga dapat mengganggu aktivitas sel NK serta fagositosis makrofag dan neutrofil (13).

Dosis zinc yang direkomendasikan adalah 8-11 mg/hari dengan dosis tertinggi yang dapat ditoleransi sebesar 40 mg/hari. Pada dosis besar, zinc sulfat dapat menyebabkan diare, kram perut, dan muntah setalah 3-10 jam dari pemakaian. Gejala akan hilang setelah pengehentian konsumsi.

6. Selenium

Selenium bersifat sebagai antioksidan yang mampu menteralkan molekul yang tidak stabil yang dapat merusak sel. Selenium juga dapat meregulasi aktivitas hormon tiroid. Sebagai selenoprotein, selenium dibutuhkan untuk membantu fungsi neutrofil, makrofag, sel NK, sel limfosit T, dan mekanisme imun yang lain. Asupan selenium yang meningkat dapat dikaitkan dengan pengurangan risiko kanker dan dapat meringkankan kondisi patologis yang lain, termasuk stres oksidatif dan peradangan (12). Kekurangan selenium menyebabkan meningkatnya peradangan yang mungkin disebabkan oleh kenaikan stres oksidatif.

Dosis selenium per hari yang direkomendasikan adalah 55 mcg dengan batas tertinggi yaitu 400 mcg. Gejala efek samping pada overdosis selenium adalah diare, bau mulut dan keringat seperti bawang putih, kerontokan rambut, mual, dan muntah.

7. Herbal Echinacea

Secara tradisional, tumbuhan genus Echinacea sudah digunakan masyarakat Amerika Utara jauh sebelum sampai ke Eropa dan benua lain. Tumbuhan ini secara tradisional digunakan untuk pengobatan dan pencegahan terhadap berbagai penyakit, termasuk infeksi saluran pernapasan, flu, bronchitis, sakit gigi, radang tenggorokan, infeksi virus herpes, dan beberapa gangguan kulit (kulit gatal-gatal, luka, digigit serangga, alergi dan infeksi lain). Yang paling banyak digunakan adalah Echinacea purpurea. Bahan yang digunakan untuk pengobatan tradisional maupun studi ilmiah berupa “jus perasan” berair atau ekstrak etanol dari bagian diatas tanah tanaman kering atau akarnya (14). Produk yang mengandung ekstrak Echinacea ini juga ada di Indonesia dengan klaim peningkat sistem imun (imunostimulan).

Banyak hasil uji praklinik yang menunjukkan bahwa Echinacea memiliki aktivitas immunostimulan pada level praklinik. Namun hasil uji klinik Echinacea sebagai imunostimulan masih menunjukkan hasil yang beragam. Beberapa uji klinik menunjukkan efektivitas ekstrak EP pada pasien dewasa dengan gejala pilek akibat influenza (15).

Memang ada variabilitas dalah hasil uji klinik Echinacea. Adanya perbedaan hasil uji dapat dipengaruhi oleh banyak hal, diantaranya adalah karena perbedaan metode preparasi produk, dan perbedaan sumber tumbuhan Echinacea yang digunakan sebagai bahan baku produk. Untuk itu penggunaan produk suplemen atau obat yang berbasis Echinacea perlu melihat efikasi hasil uji klinik produk. Kandungan kimia aktif dalam Echinacea yang diduga memiliki aktivitas imunostimulan diataranya adalah senyawa polisakarida seperti frauktan, senyawa alkilamin dan senyawa fenolik seperti asam kafeat dan asam khorikat (16). Kandungan senyawa-senyawa tersebut dan juga senyawa-senyawa lain bisa berbeda antar produk akibat perbedaan metode pembuatan ekstrak dan perbedaan bahan baku. Hal inilah yang menyulitkan interpretasi klinik menjadi semakin sulit (14).

Ada banyak mekanisme imunostimulan yang diaktivasi dengan pemberian Echinacea. Salah satu yang berkaitan dengan penyakit Covid-19 adalah kemampuan menurunkan sitokin IL-6. IL-6 merupakan salah satu sitokin yang merugikan dalam patogenisitas infeksi virus SARS-Cov-2. Walaupun efeknya spesifik pada infeksi virus tersebut belum jelas, namun dari penelitian-penelitian sebelumnya secara umum Echinacea mampu menekan ekspresi IL-6 dalam beberapa model Penelitian (17). Walaupun ada juga penelitian yang menunjukkan Echinacea menginduksi IL-6 (18), namun penelitian yang menunjukkan Echinacea menurunkan level IL-6 jauh lebih dominan. Hal ini menunjukkan potensi Echinacea dalam mencegah infeksi SARS-Cov-2. Efektivitas tersebut perlu dipastikan dengan uji klinik pada kasus Covid-19.

8. Propolis

Propolis merupakan produk dari lebah madu yang sering disebut sebagai lem lebah karena digunakan oleh lebah dalam pembuatan sarang. Propolis merupakan kombinasi lilin lebah dan air liur yang merupakan sistem pertahan yang dibangun oleh lebah. Hingga saat ini, propolis telah banyak diteliti manfaatnya untuk kesehatan, salah satunya untuk meningkatkan kekebalan tubuh (immunostimulan) (19). Banyak senyawa bioaktif yang berhasil diidentifikasi dari propolis. Umumnya, senyawa yang ada dalam propolis berupa senyawa asam fenolik, flavonoid, terpenoid, lignan, senyawa aromatic, asam amino, asam lemak, vitamin dan mineral. Namun diantara banyak senyawa tersebut, penelitian tentang aktivitas biologis dari propolis lebih mengarah kepada kandungan senyawa flavonoid dan fenolik yang cukup tinggi (20). Senyawa flavonoid dan fenolik yang umumnya ada dalam propolis berupa krisin, galangin, pinostrobin, pinobanksin, dan pinocembrin (kandungan utama) (21).  Kandungan utama senyawa dalam propolis sangat bervariasi karena dipengaruhi faktor asal sarang lebah, lokasi, dan musim. Propolis yang bersal dari daerah yang berbeda memiliki kandungan kimia yang berbeda yang salahsatunya terlihat dari warnanya yang berbeda antara satu dengan yang lain (hijau, merah atau coklat). Variasi inilah yang menyebabkan sulitnya mengekstrapolasikan klaim manfaat kesehatan dari propolis (22).

Berkaitan dengan potensi propolis dalam mencegah infeksi SARS-Cov-2, maka propolis memiliki beberapa aktivitas yang relavan. Pertama, adalah aktivitas imunostimulan. Aktivitas imunostimulan dari propolis sudah banyak diteliti dan dipublikasikan (23) di banyak jurnal. Aktivasi sistem imun oleh propolis diharapkan mampu melindungi seseorang dari infeksi virus atau meningkatkan sistem kekebalan tubuh seseorang sehingga tidak mudah sakit atau menderita keparahan ketika infeksi datang. Kedua, propolis juga memiliki aktivitas antivirus dengan mencegah replikasi beberapa virus, termasuk virus tipe korona seperti virus influenza (24). Bahkan propolis memiliki aktivitas virusidal dengan merusak “amplop” virus HSV dan VSV (25). Ketiga aktivitas propolis sebagai agen antiiflamasi. Walaupun ada penelitian yang menunjukkan bahwa propolis ada kecenderungan meningkatkan ekspresi mediator inflamasi IL-6 (26), namun mayoritas hasil penelitian menunjukkan bahwa propolis memiliki efek antiinflamasi dengan menurunkan ekspresi sitokin IL-6 dan sitokin proinflamasi yang lain (27). IL-6 merupakan sitokin yang terlibat dalam badai sitokin pada infeksi SARS-Cov-2, sehingga hasil penelitian ini menunjukkan bahwa propolis memiliki potensi untuk digunakan dalam pencegahan infeksi SARS-Covid-2.  Selain itu, uji klinik dari propolis yang dikombinasikan dengan Echinacea dan vitamin C mampu mempercepat kesembuhan pada anak-anak yang mengalami infeksi saluran pernapasan (28). Namun demikian, efektivitasnya sebagai immunostimulan masih perlu dibuktikan pada uji klinik dengan pasien Covid-19.

9. Empon-empon (Kurkumin)

Indonesia kaya akan tumbuhan obat, terutama empon-empon (tumbuhan keluarga Zingiberaceae) yang bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan kekebalan tubuh. Beberapa empon-empon yang paling umum digunakan dalam pengobatan tradisional di Indonesia dan mudah untuk diperoleh yaitu Kunyit, Temulawak, dan Jahe. Kunyit (Curcuma longa) dan Temulawak (Curcuma zanthorrhiza) merupakan contoh empon-empon yang sudah banyak diteliti sebagai imunostimulan. Secara empiris, kunyit dan temulawak sudah digunakan dalam pengobatan tradisional untuk berbagai penyakit baik di Indonesia maupun di negara lain. Kandungan kimia utama kedua tanaman tersebut adalah kurkuminoid (kurkumin sebagai senyawa mayor) yang juga merupakan salah satu senyawa yang paling banyak diteliti di dunia.

Beberapa data praklinis dan klinis menunjukkan efektivitas kurkumin dalam pencegahan dan pengobatan berbagai penyakit termasuk kanker, kardiovaskular, inflamasi, metabolisme, neurologis, dan penyakit kulit (29). Kemampuan imunomodulator dari kurkumin timbul dari interaksinya dengan berbagai mekanisme yang terlibat dalam modulasi sistem imun, bukan hanya  komponen seluler (seperti sel dendritik, makrofag, dan limfosit B maupun T), tetapi juga komponen molekuler yang terlibat dalam proses inflamasi, seperti sitokin dan berbagai faktor transkripsi (30). Hal ini menunjukkan besarnya potensi kurkumin sebagai immunostimulan.Namun, yang paling menonjol dan paling banyak dipelajari dari kurkumin adalah profil aktivitas antiinflamasinya (31). Efektivitas kurkumin sebagai agen antiinflamasi sudah banyak dilakukan hingga uji klinik pada manusia (32). Salahsatu mediator inflamasi penting dalam Covid-19 adalah IL-6. Kurkumin merupakan senyawa yang mampu menghambat ekspresi IL-6 (33), sehingga menjadikan kurkumin sebagai agen yang perlu dipertimbangkan dalam modulasi sitokin proinflamasi dalam Covid-19 dimana terjadi badai sitokin proinflamasi di alveoli. Kurkumin juga mampu menghambat infeksi virus influenza secara in vitro (34). Walaupun belum ada uji klinik efek kurkumin pada kassus Covid-19, namun penggunaan tradisional (kunyit dan temulawak) dan banyaknya hasil penelitian sebelumnya yang menunjukkan aktivitas imunomodulator dan mediator sitokin proinflamasi dari kurkumin, menjadikan kurkumin sebagai suplemen atau adjuvant untuk meningkatkan daya tahan tubuh terhadap infeksi Covid-19.  Salahsatu hal penting yang perlu diperhatikan dalam penggunaan kurkumin pada manusia adalah ketersediaan hayatinya yang rendah, sehingga perlu studi penyesuaian dosis untuk mencapai dosis yang tepat (32).

10. Meniran

Meniran (Phyllantus niruri) merupakan tanaman yang banyak tumbuh di Indonesia dan sudah lama dimanfaatkan dalam pongobatan tradisional di Indonesia (Jamu), maupun di negara lain, seperti India (Ayurveda). Secara empiris, meniran digunakan oleh masyarakat Indonesia untuk membantu pengobatan penyakit hati (hepatoprotektor), sedangkan di Malaysia digunakan untuk pengobatan diare, penyakit ginjal, dan batuk. Tanaman ini banyak tumbuh liar di kebun, pekarangan, ladang, dan hutan, umumnya ditempat yang relatif lembab. Kandungan kimia meniran adalah korilagin, geraniin, asam galat, filantin, hipofilantin, asam elagat, filtetralin, niranthin, katekin, kuersetin, astragalin, dan asam sebulagat. Adapun kandungan senyawa utamanya adalah filantin (35). Di Indonesia, ada beberapa produk yang menggunakan meniran sebagai bahan baku obat tradisional dengan klaim imunostimulan.

Beberapa penelitian menunjukkan efek imunostimulan dari meniran baik spesifik maupun non spesifik (36). Selain meningkatkan respon imun humoral dan seluler, ekstrak dan senyawa filantin dalam meniran mampu menghambat migrasi leukosit yang penting untuk meredakan proses inflamasi (37). Efikasi meniran sebagai imunostimulan juga sudah dibuktikan pada uji klinis dalam konteks penyakit hepatitis B kronis, TBC paru-paru, vaginitis, dan juga pada cacar air (38). Bagaimanapun efikasi dan mekanisme terkait efek immunostimulan dari meniran masih memerlukan penelitian lebih lanjut, terutama pada level klinik dalam konteks Covid-19.

Senyawa utama dalam meniran (Filantin dan hipofilantin) mampu menurunkan ekspresi beberapa sitokin pro-inflamasi, seperti IL-6, IL-1β, dan IL-4, serta faktor transkripsi inflamasi seperti TNF-α. Hal ini menunjang pengembangan meniran sebagai agen imunostimulan sekaligus antiinflamasi yang berpotensi untuk dikembangkan sebagai agen adjuvant dalam terapi Covid-19 (39). Selain aktivitas immunostimulan dan antiinflamasi, Meniran juga memiliki aktivitas antivirus pada virus hepatitis B (HBV), hepatitis C (HCV), HIV, dan virus Herpes simplex (HSV) (40).

Rekomendasi

  1. Virus Covid-19 dapat menginfeksi siapa saja, tanpa memandang usia, jenis kelamin, status sosial, ataupun status kesehatan.
  2. Karena penyakit akibat virus biasanya merupakan “self limiting disease”, maka daya tahan tubuh menjadi sangat penting untuk menangkal virus dan mencegah perburukan gejala penyakit
  3. Daya tahan tubuh dapat dipengaruhi oleh faktor makanan, lingkungan, dan dapat ditingkatkan dengan makanan yang bergizi dan mengandung vitamin dan mineral, utamanya adalah Vitamin C, D, E, zinc dan selenium.
  4. Beberapa bahan alam memiliki potensi untuk meningkatkan sistim imun, walaupun uji-uji yang menjadi dasarnya sebagian besar berupa uji preklinik. Sediaan herbal yang berpotensi dapat meningkatkan system imun antara lain adalah Echinaceae, Phylantus niruri (meniran), madu/propolis, dan empon-empon yang mengandung curcumin.
  5. Dari kajian terhadap aktivitasnya, tidak terdapat hal-hal yang membahayakan pemakaiannya untuk menghadapi Covid-19. Respon seseorang mungkin bervariasi terhadap sediaan herbal ini, sehingga jika dirasakan manfaatnya, maka dapat diteruskan penggunaannya.

Daftar Pustaka:

  1. [online] (https://www.who.int/emergencies/diseases/novel-coronavirus-2019), diakses 11 April 2020.
  2. Abbas, A. et al., 2018, Cellular and molecular immunology, 9th, Saunders Elsevier.
  3. Laing, K., Immune responses to viruses, Bitesized Immunology. British Society for Immunology, [online] (https://www.immunology.org/public-information/bitesized-immunology/pathogens-and-disease/immune-responses-viruses), diakses 10 April 2020.
  4. Science, 2016, 352(6285): 535-853)
  5. Sasmito, E., 2017, Imunomodulator Bahan Alami, Penerbit Andi.
  6. Sasmito, E., Sahid, M.N.A., dan Ikawati, M. (editor), 2020, Buku Petunjuk Praktikum Imunologi Farmasi, Fakultas Farmasi UGM.
  7. Anonim, 2017, Vitamin C, https://www.mayoclinic.org/drugs-supplements-vitamin-c/art-20363932, diakses pada 13 April 2020.
  8. Carr, A.C., Maggini, S., 2017, Vitamin C and Immune Function, Nutrients, 9, 1211.
  9. Iruretagoyena, M., Hirigoyen, D., Naves, R., Burgos, P.I., 2015, Immune Response Modulation by Vitamin D: Role in Systemic Lupus Erythematosus, Frontiers in Immunology, 6, 513.
  10. Lee, G.Y., Han, S.N., 2018, The Role of Vitamin E in Immunity, Nutrients, 10, 1614.
  11. Hussain, M.I., Ahmed, W., Nasir, M., Mushtaq M.H., Sheikh, A.A., Shaheen, A.Y., Mahmood, A., 2019, Immune boosting role of vitamin E against pulmonary tuberculosis, Pak J Pharm Sci, 32(1 supplementary), 269-276.
  12. Ferenčík, M., Ebringer, L., 2003, Modulatory effect of selenium and zinc on the immune system, Folia Microbiologica, 48, 417.
  13. Rink, L., Gabriel, P., 2000, Zinc and the immune system, Proceedings of the Nutrition Society, 59, 541-552.
  14. Hudson, J. B. (2012). Applications of the phytomedicine Echinacea purpurea (Purple Coneflower) in infectious diseases. J Biomed Biotechnol, 2012, 769896.
  15. Manayi, A., Vazirian, M., & Saeidnia, S. (2015). Echinacea purpurea: Pharmacology, phytochemistry and analysis methods. Pharmacognosy Reviews, 9(17), 63-72.
  16. Dobrange, E., Peshev, D., Loedolff, B., & Van den Ende, W. (2019). Fructans as Immunomodulatory and Antiviral Agents: The Case of Echinacea. Biomolecules, 9(10).
  17. Park, S., Lee, M. S., Jung, S., Lee, S., Kwon, O., Kreuter, M. H., . . . Kim, Y. (2018). Echinacea purpurea Protects Against Restraint Stress-Induced Immunosuppression in BALB/c Mice. J Med Food, 21(3), 261-268.
  18. Burger, R. A., Torres, A. R., Warren, R. P., Caldwell, V. D., & Hughes, B. G. (1997). Echinacea-induced cytokine production by human macrophages. International Journal of Immunopharmacology, 19(7), 371-379.
  19. Braakhuis, A. (2019). Evidence on the Health Benefits of Supplemental Propolis. Nutrients, 11(11), 2705
  20. Moreno, M. I., Isla, M. I., Sampietro, A. R., & Vattuone, M. A. (2000). Comparison of the free radical-scavenging activity of propolis from several regions of Argentina. J Ethnopharmacol, 71(1-2), 109-114.
  21. Markham, K. R., Mitchell, K. A., Wilkins, A. L., Daldy, J. A., & Lu, Y. (1996). HPLC and GC-MS identification of the major organic constituents in New Zeland propolis. Phytochemistry, 42(1), 205-211.
  22. Anjum, S. I., Ullah, A., Khan, K. A., Attaullah, M., Khan, H., Ali, H., Dash, C. K. (2019). Composition and functional properties of propolis (bee glue): A review. Saudi J Biol Sci, 26(7), 1695-1703.
  23. Sforcin, J. M. (2007). Propolis and the immune system: a review. J Ethnopharmacol, 113(1), 1-14.
  24. Serkedjieva, J., Manolova, N., & Bankova, V. (1992). Anti-influenza virus effect of some propolis constituents and their analogues (esters of substituted cinnamic acids). J Nat Prod, 55(3), 294-302
  25. Amoros, M., Sauvager, F., Girre, L., & Cormier, M. J. A. (1992). In vitro antiviral activity of propolis. 23(3), 231-240.
  26. Bueno-Silva, B., Kawamoto, D., Ando-Suguimoto, E. S., Alencar, S. M., Rosalen, P. L., & Mayer, M. P. (2015). Brazilian Red Propolis Attenuates Inflammatory Signaling Cascade in LPS-Activated Macrophages. PLoS One, 10(12), e0144954.
  27. Alqarni, A. M., Niwasabutra, K., Sahlan, M., Fearnley, H., Fearnley, J., Ferro, V. A., & Watson, D. G. (2019). Propolis Exerts an Anti-Inflammatory Effect on PMA-Differentiated THP-1 Cells via Inhibition of Purine Nucleoside Phosphorylase. Metabolites, 9(4), 75.
  28. Cohen, H. A., Varsano, I., Kahan, E., Sarrell, E. M., & Uziel, Y. (2004). Effectiveness of an Herbal Preparation Containing Echinacea, Propolis, and Vitamin C in Preventing Respiratory Tract Infections in Children: A Randomized, Double-blind, Placebo-Controlled, Multicenter Study. Archives of Pediatrics & Adolescent Medicine, 158(3), 217-221.
  29. Kunnumakkara, A. B., Bordoloi, D., Padmavathi, G., Monisha, J., Roy, N. K., Prasad, S., & Aggarwal, B. B. (2017). Curcumin, the golden nutraceutical: multitargeting for multiple chronic diseases. Br J Pharmacol, 174(11), 1325-1348.
  30. Momtazi-Borojeni, A. A., Haftcheshmeh, S. M., Esmaeili, S. A., Johnston, T. P., Abdollahi, E., & Sahebkar, A. (2018). Curcumin: A natural modulator of immune cells in systemic lupus erythematosus. Autoimmun Rev, 17(2), 125-135.
  31. Shimizu, K., Funamoto, M., Sunagawa, Y., Shimizu, S., Katanasaka, Y., Miyazaki, Y., Morimoto, T. (2019). Anti-inflammatory Action of Curcumin and Its Use in the Treatment of Lifestyle-related Diseases. European cardiology, 14(2), 117-122.
  32. Hsu, C.-H., & Cheng, A.-L. (2007). Clinical Studies With Curcumin. In B. B. Aggarwal, Y.-J. Surh, & S. Shishodia (Eds.), The Molecular Targets and Therapeutic Uses of Curcumin in Health and Disease (pp. 471-480). Boston, MA: Springer US.
  33. Devi, Y. S., DeVine, M., DeKuiper, J., Ferguson, S., & Fazleabas, A. T. (2015). Inhibition of IL-6 Signaling Pathway by Curcumin in Uterine Decidual Cells. PLoS One, 10(5), e0125627.
  34. Chen, D.-Y., Shien, J.-H., Tiley, L., Chiou, S.-S., Wang, S.-Y., Chang, T.-J., . . . Hsu, W.-L. (2010). Curcumin inhibits influenza virus infection and haemagglutination activity. Food Chemistry, 119(4), 1346-1351.
  35. Jantan, I., Haque, M. A., Ilangkovan, M., & Arshad, L. (2019). An Insight Into the Modulatory Effects and Mechanisms of Action of Phyllanthus Species and Their Bioactive Metabolites on the Immune System. Front Pharmacol, 10, 878.
  36. Muthulakshmi, M., Subramani, P. A., & Michael, R. D. (2016). Immunostimulatory effect of the aqueous leaf extract of Phyllanthus niruri on the specific and nonspecific immune responses of Oreochromis mossambicus Peters. Iranian journal of veterinary research, 17(3), 200-202.
  37. Sarisetyaningtyas, P., Hadinegoro, S., & Munasir, Z. (2016). Randomized controlled trial of Phyllanthus niruri Linn extract. Paediatrica Indonesiana, 46(2), 77-81.
  38. Raymond Rubianto, T., Liana Wijaya, S., & Dwi, N. (2017). The use of Phyllanthus niruri L. as an immunomodulator for the treatment of infectious diseases in clinical settings. Asian Pacific Journal of Tropical Disease, 7(3), 132-140.
  39. Wu, W., Li, Y., Jiao, Z., Zhang, L., Wang, X., & Qin, R. (2019). Phyllanthin and hypophyllanthin from Phyllanthus amarus ameliorates immune-inflammatory response in ovalbumin-induced asthma: role of IgE, Nrf2, iNOs, TNF-α, and IL’s. Immunopharmacol Immunotoxicol, 41(1), 55-67.
  40. Tan, W. C., Jaganath, I. B., Manikam, R., & Sekaran, S. D. (2013). Evaluation of antiviral activities of four local Malaysian Phyllanthus species against herpes simplex viruses and possible antiviral target. International journal of medical sciences, 10(13), 1817-1829.

Kontributor:

Prof. Dr. Ediati Sasmito, SE., Apt.; Dr. Muthi’ Ikawati, M.Sc., Apt.,; M. Novrizal A. Sahid, M.Eng., Apt., Ph.D.; Dr. Nanang Fakhrudin, MSc, Apt,; Prof. Dr. Zullies Ikawati, Apt.; Drh Retno Murwanti, MP, PhD.

Ikuti Perkembangan Jaman, Farmasi UGM Perkuat Pembelajaran Secara Daring

Farmasi UGM – Fakultas Farmasi UGM kembali selenggarakan workshop eLok pada tanggal 12 Agustus 2020. Namun kali ini, narasumber-narasumber yang diundang tidak hanya sharing soal eLok saja, namun juga tips and tricks dalam proses pembelajaran di era daring saat ini. Adapun narasumber-narasumber yang diundang diantaranya Dr. apt. Adhyatmika, M.Biotech., Prof. Dr. apt. Zullies Ikawati, serta Prof. Dr. apt. Akhmad Kharis Nugroho, M.Si.

Di era digital saat ini, para tenaga pengajar dan pendidik sudah semestinya ‘melek’ informasi dan teknologi agar dapat menyeimbangi kebutuhan mahasiswa dan perkembangan zaman. Seperti aplikasi Whatsapp (WA) yang dulunya hanya digunakan sebagai  media chatting, namun dalam konteks pendidikan saat ini, WA dapat dimanfaatkan dengan lebih maksimal. Nyatanya, menurut Zullies pembuatan WA group kelas dapat memfasilitasi komunikasi antara dosen dengan mahasiswa. “WA group merupakan media yang cukup efektif untuk berdiskusi, juga untuk sharing materi perkuliahan”, ungkap Zullies.

Selain itu pemanfaatan aplikasi lainnya untuk perkuliahan, dapat menggunakan google form, Youtube, zoom, webex, google meet, dan eLok itu sendiri. Tiap aplikasi memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing, sehingga pengguna perlu menyesuaikan dengan kebutuhan. Seperti Youtube misalnya, aplikasi ini memiliki keunggulan dalam peunggahan video dengan durasi waktu yang cukup panjang, serta dapat diakses oleh mahasiswa kapanpun. Sehingga dapat dipergunakan untuk penyampaian materi kuliah dengan lebih interaktif. Sedangkan untuk memfasilitasi pertemuan tatap muka antara dosen dengan mahasiswa yang pada masa pandemik Covid saat ini sulit untuk terlaksana, dapat menggunakan aplikasi-aplikasi seperti zoom, webex, google meet, dan lainnya.

Menurut Adhyatmika, eLok yang sudah diperkenalkan semenjak beberapa tahun terakhir ini, khususnya di kalangan sivitas akademika UGM juga memiliki fitur-fitur yang cukup menarik. Selain terdapat ruang diskusi bagi masing-masing mata kuliah, juga terdapat fitur kuiz untuk memfasilitasi pretest.

Di sisi lain, para dosen juga dapat menggunakan Moodle yang mana dapat ditambahkan dengan piranti lunak eksternak seperti  iSpring free dan iSpringsuite. Kharis menyebutkan bahwa keunggulan dari fitur ini, dapat digunakan untuk menambah suara pada slide-slide yang dipresentasikan. Keunggulan lainnya adalah, adanya fitur untuk mengkonversi power point ke bentuk SCORM (Shareable Content Object Reference Model) yang memungkinkan tracking aktivitas mahasiswa dan interaksi melalui kuis dan lain-lain. Rekaman SCORM ini tadi dapat diputar ulang di kesempatan dan waktu yang berbeda. Dengan menggunakan SCORM, dosen dapat mendeteksi apakah mahasiswa yang bersangkutan telah mengikuti seluruh rangkaian materi yang disampaikan atau tidak, karena ada tools yang menunjukkan waktu untuk setiap kali mahasiswa melakukan akses.

Beberapa aplikasi tersebut dapat dimanfaatkan secara terbatas dengan  akses langgnan. Namun, banyak diantaranya dapat pula dimanfaat secara bebas oleh para pengguna. Dalam pemanfaatan aplikasi-aplikasi tersebut, pengguna juga perlu memperhatikan koneksi internet yang bisa menunjang untuk aksesnya. Nyatanya, akses internet di Indonesia belum sepenuhnya merata, sehingga ini menjadi perhatian bersama, khususnya pemerintah untuk mendorong pertumbuhan internet di pelosok-pelosok yang belum terjangkau, sehingga kegiatan pembelajaran online dapat berjalan dengan maksimal. Dalam menghadapi era digital saat ini, Fakultas Farmasi UGM bersedia untuk berkomitmen turut serta berkontribusi dalam suksesnya pembelajaran online. (Hmas FA)

Guru Besar Farmasi UGM: Klaim Produk Obat Covid-19 Harus Dipertangungjawabkan

Pertambahan kasus positif Covid-19 di Indonesia yang semakin mengkhawatirkan dari hari ke hari menjadikan banyak pihak ingin berpartisipasi dalam upaya penganan. Baik secara berkelompok maupun individu, hingga mereka yang tidak berlatar belakang medis sekalipun.

Keterlibatan itu sah-sah saja, dan tidak ada larangan. Hanya saja partisipasi mereka harus dapat dipertanggungjawabkan. Demikian pula keterlibatan dalam upaya penyembuhan, mestinya segala produk ramuan yang dihasilkan harus ada bukti-bukti nyata yang bisa diterima secara nalar atau ilmiah.

Belum lama viral terkait kalung eucalyptus, kini menyusul kasus produk herbal Hadi Pranoto. Fenomena-fenomena tersebut tentu menghadirkan banyak tanggapan terutama dari kalangan akademisi, utamanya dari kalangan kedokteran dan farmasi.

Prof. Dr. Suwijiyo Pramono, DEA., Apt, ahli Obat Herbal dan konsultan BPOM RI dari Fakultas Farmasi UGM, mengatakan meski mengklaim dapat mencegah infeksi Covid-19, mereka yang memakai kalung eucalyptus pada akhirnya tetap saja diminta untuk tidak lengah dengan tetap menjaga jarak, pakai masker dan sering cuci tangan. Apresiasi perlu diberikan kepada Puslitbangtan yang pada akhirnya mengambil langkah untuk berkonsultasi ke Badan POM guna menanyakan langkah-langkah apa yang harus dilakukan guna melakukan uji klinik.

“Dan kelihatannya ini akan didanai oleh BRIN. Demikianlah seharusnya, tidak langsung membuat pernyataan bombastis yang bisa membuat para sejawat di kedokteran dan farmasi terheran-heran,” ujarnya, Kamis (13/8) saat menanggapi sejumlah kasus viral terkait obat herbal untuk Covid-19.

Demikian pula soal herbal Hadi Pranoto, menurut Suwijiyo, salah satu pernyataannya yang menarik adalah herbal tersebut bisa memacu antibodi dan antibodi akan mencairkan lendir-lendir yang ada di dalam tubuh untuk kemudian dikeluarkan melalui air keringat, air seni dan air besar. Hal ini tentu mengundang tanya para ahli biologi molekuler, dokter spesialis paru, dokter-dokter lainnya.

“Ini tidak masuk akal sama sekali. Tapi lepas dari itu semua tidak ada salahnya kita mencoba bersikap netral lebih dahulu dengan mengesampingkan polemik yang ada. Kita harus telaah terlebih dahulu komposisi formula sediaan herbal yang diproduksi dan dipromosikan,” katanya.

Dalam herbal karya Hadi Paranoto disebutkan komponennya terdiri dari kunyit, ekstrak kulit manggis, gula aren dan air kelapa. Komponen-komponen ini jika ditelaah berdasarkan bahan yang tertulis dalam formula tersebut yang pertama adalah kunyit, secara empiris kunyit digunakan untuk meredakan berbagai radang, rematik, perut nyeri, penyakit hati, batu ginjal dan membersihkan haid. Rimpang yang dicampur dengan susu hangat digunakan untuk menyembuhkan pilek, bronkitis dan asma.

Suwijiyo menyatakan berbagai penelitian yang ada sejauh ini memang bertitik tangkap pada kandungan aktifnya yaitu zat warna kuning kurkumin yang memiliki efek imunostimulan im vivo pada mencit percobaan. Permasalahannya yang tertera pada formula herbal tersebut hanya disebut kunyit.

“Kita tidak tahu bagaimana cara mengolah kunyit tersebut, apakah diperas, direbus atau diekstraksi. Berapa kadar kurkumin yang ada di dalamnya karena secara ilmiah kurkumin tidak terlalu baik kelarutannya dalam air,” ungkapnya.

Kemudian soal komponen ekstrak kulit manggis, muncul pertayaan  apakah Hadi Pranoto dalam memproduksi herbal mengekstraksi sendiri kulit manggisnya atau beli dari produsen ekstrak. Sebab, bila ditelaah dari segi ilmiah, kulit manggis mengandung mangostin yang memiliki efek antioksidan sehingga diharapkan dapat juga menjaga tubuh dari gangguan radikal bebas yang mungkin berasal dari virus.

“Kelihatannya pak Hadi Pranoto ini memang memiliki kecerdasan untuk mengombinasi bahan yang memiliki efek imunostimulan, antioksidan dan satu lagi yang secara empiris terlihat logis yaitu air kelapa. Kita pun menjadi bertanya-tanya apakah Hadi Pranoto membuat ramuan seperti itu berdasarkan pengetahuan yang dia peroleh setelah membaca buku atau searching di medsos? Atau memang telah ada secara empiris walaupun indikasi aslinya bukan untuk mengatasi Covid?,” terangnya.

Hanya saja, kata Suwijiyo, yang kemudian juga menimbulkan masalah produk herbal karya Hadi Pranoto telah mengklaim bahwa ramuannya mampu menyembuhkan 20 ribu orang yang terinfeksi Covid-19 dalam waktu lima hari. Menurutnya, jika ini benar mungkin perlu dipertanyakan dimanakah 20 ribu pasien tersebut saat ini?

“Sayangnya ia tidak mencatatnya sehingga tidak mungkin melacaknya. Padahal, jika benar dan terbukti setelah dilacak maka tertolaklah semua anggapan yang tidak benar selama ini. Tetapi jika tidak benar jelas hal tersebut merupakan kebohongan publik yang dapat membahayakan masyarakat,” imbuhnya.

Penulis  : Agung Nugroho
Foto  : riaupos.jawapos.com
Sumber : Portal UGM

Undang Sejumlah Profesor Luar Negeri, Farmasi UGM Fasilitasi Diskusi Terkait Farmasi Sosial Melalui Webinar

Farmasi UGM – Setelah sukses menyelenggarakan kegiatan webinar baik berskala nasional maupun internasional, kini Fakultas Farmasi UGM kembali adakan webinar internasional pada 11 Agustus 2020 dengan mengangkat tema terkait bidang farmasi sosial. Tidak tanggung-tanggung, tiga profesor dari New Zealand, Thailand, dan Ireland diundang untuk mengisi materi dalam webinar tersebut. Mereka adalah Prof. Pauline Norris, Ph.D, Dr. Puree Anantachoti, serta Dr. James Green.

Dengan mengangkat tema ‘Social Aspects of Medicine’, ketiga profesor tersebut banyak membahas tentang pengobatan dalam masyarakat, baik dari segi kebijakan, pola konsumsi masyarakat terhadap obat, dan juga menyoroti tentang kebiasaan masyarakat terhadap proses pengobatan.

Prof. Pauline Norris, Ph.D dari Centre of Pacific Health, Division of Health Science University of Otago, New Zealand, dalam materinya yang berjudul ‘Medicines in everyday life: Social Perspectives’ menyinggung tentang faktor-faktor apa saja yang dapat menghalangi masyarakat untuk mendapatkan akses pengobatan yang tepat. Menurutnya, selain ketersediaan obat, kurangnya penerimaan masyarakat terhadap sesuatu yang baru juga turut berperan dalam pelayanan kesehatan. Terlebih untuk masyarakat di daerah-daerah terpencil. Pauline juga menjelaskan bahwa jarak, waktu, dan biaya nyatanya menjadi pertimbangan masyarakat untuk berusaha mendapatkan pengobatan yang layak.

Sedangkan di Thailand, sistem pelayanan kesehatan untuk masyarakat sudah cukup dikembangkan dengan baik. Dr. Puree Anantachoti yang merupakan professor dari Faculty of Pharmaceutical Sciences, Chulangkorn University menceritakan mengenai bagaimana evolusi sistem pelayanan kesehatan di Thailand yang awalnya tidak menjadi prioritas utama, hingga saat ini mampu memiliki  Social Security Act.

Dari banyak kasus pelayanan kesehatan di dunia, beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh para tenaga kesehatan adalah edukasi kepada masyarakat. Masyarakat sering kali menyimpan obat-obatan secara mandiri, hal ini perlu menjadi perhatian terkait bagaimana cara obat tersebut disimpan, serta batas waktu penggunaannya.

Di akhir sesi, Dr. James Green dari School of Alled Health University of Limerick, Ireland menyampaikan materi mengenai ‘Behavioural Intervention to improve medication adherence’, sebelum kemudian dilanjut dengan sesi sharing dan tanya jawab dari para peserta webinar. Acara ini mendapat sambutan optimis untuk menghadirkan tema-tema webinar yang lebih menarik lainnya. (Humas FA)

UGM Duduki Peringkat 19 Perguruan Tinggi se-Asia Versi 4ICU

Universitas Gadjah Mada menduduki peringkat 19 perguruan tinggi di Asia berdasarkan penilaian dari lembaga pemeringkat 4 International Colleges & Universities (4ICU) tahun 2020. Selain UGM, 18 perguruan tinggi Indonesia lainnya juga masuk dalam jajaran 200 besar Perguruan Tinggi di Asia. Sementara di tanah air, UGM menempati posisi pertama.

“Hasil ini menjadi penyemangat selama situasi pandemi, di mana pembelajaran mahasiswa dilakukan secara daring,” ucap Direktur Direktorat Sistem dan Sumber Daya Informasi (DSSDI) UGM, Widyawan, Ph.D., Selasa (11/8).

4ICU merupakan lembaga pemeringkatan universitas global yang mengukur keberadaan digital dan popularitas berdasarkan jumlah trafik web, kepercayaan terhadap konten dan popularitas dari tautan web.

Ia menyampaikan, pemeringkatan tersebut merupakan apresiasi dari lembaga pemeringkat internasional atas hasil kerja keras sivitas akademika UGM dalam memanfaatkan teknologi informasi di bidang pendidikan, pengajaran dan riset.

“Peran IT semakin strategis, ranking ini menunjukkan pengakuan dunia internasional terhadap adopsi digital di UGM,” terangnya.

Di masa pandemi Covid-19, UGM memang lebih banyak memanfaatkan teknologi informasi dalam menjalankan kegiatan perkuliahan, pengabdian, serta aktivitas lainnya. Sejak Maret lalu, UGM menerapkan proses belajar secara daring, yang juga masih akan berlangsung memasuki semester ganjil Tahun Ajaran 2020/2021.

Namun, pemanfaatan sistem pembelajaran daring di UGM sendiri bukan baru tahun ini diterapkan. Sebelum merebaknya pandemi Covid-19 UGM telah memiliki fasilitas sistem pembelajaran daring di antaranya berupa elok.ugm.ac.id dan elisa.ugm.ac.id serta simaster.ugm.ac.id. untuk administrasi akademik.

Di samping itu, setiap fakultas dan sekolah di UGM juga telah memiliki satuan tugas yang bertanggung jawab dalam mendukung pengembangan proses pembelajaran secara daring.

Widyawan mengungkapkan, pengakuan yang diberikan kepada UGM melalui hasil pemeringkatan ini dapat diraih berkat berbagai pengembangan yang terus dilakukan UGM baik dari segi infrastruktur teknologi informasi maupun kualitas konten-konten digital.

“Faktor yang berkontribusi adalah infrastruktur IT di UGM, kualitas konten digital dan kepercayaan orang luar terhadap konten sehingga banyak di akses dan direferensi,” ucapnya.

Penulis: Gloria
Sumber : Portal UGM

Mengenal Farmakoekonomi dan Health Technology Assessment dalam Pengambilan Kebijakan Layanan Kesehatan

Fakultas Farmasi UGM menyelenggarakan seminar daring bertema “Pharmacoeconomics and Health Technology Assestment in Health Decision Making” pada Kamis (6/8). Seminar diinisiasi oleh Pusat Kajian Farmakoekonomi dan Health Technology Assessment Farmasi UGM.

Pada seminar ini, Dr. apt. Dwi Endarti, M.Sc., Ketua Prodi Magister Manajemen Farmasi UGM, memaparkan bahwa studi farmakoekonomi  merupakan salah studi yang terbilang baru di Indonesia. Studi ini dikembangkan dari ilmu ekonomi, tepatnya ekonomi kesehatan.

Menurut Dwi, studi ini mulai muncul pada era 1970-an di negara-negara barat, tetapi masih belum menggunakan istilah farmakoekonomi. Baru pada 1980-an, terminologi farmakoekonomi pertama kali digunakan, tepatnya pada tahun 1986 dalam pertemuan farmasis di Toronto, Kanada.

Hal itu berkembang pada tahun-tahun berikutnya, seperti berdirinya ISPOR pada 1995 dan diikuti beridirinya organisasi-oraganisasi lain setelahnya. Keberadaannya semakin terkukuhkan pada era 2000-an ketika hasil studi farmakoekonomi banyak diterapkan dalam pengambilan kebijakan kesehatan di beberapa negara.

Dwi menyebut negara mulai memperhatikan studi farmakoekonomi karena perannya yang mempermudah dalam menentukan kebijakan. “Pemanfaatan studi ini untuk pengambilan kebijakan awalnya dipicu oleh keterbatasan sumber daya pada pelayanan kesehatan. Kemudian semakin dibutuhkan ketika teknologi kesehatan baru bermunculan. Adanya population aging dan meningkatnya awareness individu untuk mendapat status kesehatan yang lebih baik juga menjadi pertimbangan pemerintah untuk memanfaatkan farmakoekonomi dalam menentukan kebijakan tentang pelayanan kesehatan,” terangnya.

Lebih lanjut Dwi menyebut permasalahan-permasalahan itupula yang membawa studi ini diadopsi di negara berkembang, seperti negara-negara di Asia Pasifik, termasuk Indonesia. Hal ini ditandai dengan beberapa negara yang menerapkan studi farmakoekomi sebagai salah satu komponen untuk memperoleh persetujuan obat baru. Kemudian, di universitas-universitas farmasi, farmakoekonomi juga mulai masuk sebagai kurikulum. Selain itu, perkembangan dari organisasi Health Technology Assessment (HTA) juga mendorong pengadopsian dari farmakoekonomi ini.

“Berdasarkan pengamatan saya di Indonesia sendiri, hingga tahun 2010, hanya terdapat 8 artikel akademik tentang farmakoekonomi yang terpublikasi. Namun, baru-baru ini saya cek kembali sudah terdapat 334 artikel yang membahasnya. Hal ini menunjukkan perkembangan tajam ketertarikan akan studi ini beserta manfaatnya,” ungkapnya.

Dwi menyatakan  hal tersebut tidak bisa dipungkiri karena berkembangnya organisasi HTA di Indonesia, termasuk dibentuknya Komite Penilaian Teknologi Kesehatan Indonesia yang berada di bawah Kemenkes RI pada tahun 2014. “Dengan adanya organisasi HTA di Indonesia, maka farmakoekonomi memiliki kesempatan untuk berkembang lebih baik dan lebih luas. Tuntutan akan universal health coverage yang membutuhkan kendali mutu dan biaya, juga memberi kesempatan untuk studi ini berkembang. Pemerintah kini sudah menyediakan menyediakan beberapa guidline untuk studi farmakoekonomi, harapannya nanti akan ada standarisasinya,” ujarnya.

Sementara itu, sepakat dengan pemaparan Dwi tadi, Prof. dr. Sudigdo Sastroasmoro, Sp.A(K), perwakilan dari Komite Penilaian Teknologi Kesehatan RI, menyatakan bahwa HTA cakupannya lebih luas jika dibanding Farmakoekonomi. Lebih tepatnya, ia menyebut farmakoekonomi termasuk ke dalam HTA. Hal itu karena HTA mencakup berbagai aspek dalam bidang kesehatan secara umum.

“Keberadaan HTA di Indonesia juga masih dalam tahap dini. Bahkan banyak dari profesional dari farmakoekonomi, seperti Dwi, turut berkontribusi dalam membangunnya. Jadi, sifatnya sekarang lebih ke mutualisme antara keduanya,” terangnya.

Terakhir, Prof. apt. Agung Endro Nugroho, M.Si., Dekan Fakultas Farmasi UGM, menyatakan fakultasnya juga sudah menggencarkan studi farmakoekonomi ini. Hal itu ditandai dengan pendirian Pusat Kajian Farmakoekonomi dan HTA di Fakultas Farmasi UGM pada tahun 2018.

“Sejak berdirinya pusat kajian tersebut, kami secara rutin selalu menyelenggarakan lokakarya terkait. Namun, karena tahun ini tidak bisa dilaksanakan secara tatap muka, akhirnya kami menggelar seminar ini. Harapannya melalui seminar ini masyarakat dan para peneliti yang tertarik dengan kajian farmakoekonomi sehingga nantinya studi ini akan semakin maju dan meluas kajiannya,” pungkasnya.

Selain Dwi, para pembicara lain juga hadir dalam seminar ini. Mereka adalah dr. Jarir At Thobrari, D.Pharm, Ph.D dan Dr.apt. Tri Murti Andayani, Sp.FRS (Farmasi UGM).

Penulis: Hakam
Sumber : Portal UGM

Pakar UGM: Jangan Mudah Percaya Klaim Penemuan Obat Covid-19

Beberapa hari terakhir publik ramai membicarakan klaim penemuan antibodi yang disebut dapat mencegah dan menyembuhkan pasien yang terinfeksi Covid-19.

Guru Besar Fakultas Farmasi UGM, Prof. Zullies Ikawati, Ph.D., Apt., menyampaikan bahwa masyarakat tidak perlu mudah percaya terhadap klaim semacam ini karena penemuan obat bukan sesuatu yang mudah.

“Jika ada berita-berita yang mengklaim penemuan obat Covid-19, jangan cepat percaya, karena penemuan obat Covid-19 tidak semudah itu. Carilah info-info berimbang pada lembaga-lembaga yang terpercaya seperti Badan POM,” ucapnya.

Lebih lanjut ia menerangkan, pernyataan penemuan antibodi Covid-19 yang berasal dari herbal merupakan istilah yang tidak tepat, karena antibodi sendiri adalah suatu protein yang dibentuk oleh sistem imun ketika menghadapi paparan antigen/patogen, bisa berupa virus, bakteri, jamur, dan lainnya, termasuk terhadap virus Covid-19.

“Jadi kalau ada orang yang mengklaim menemukan atau menciptakan antibodi, tentu itu hal yang sangat tidak tepat,” imbuhnya.

Antibodi, terangnya, adalah senyawa yang dihasilkan oleh sel-sel imun, yaitu oleh sel limfosit B yang bekerja melawan antigen. Dalam hal Covid-19, yang bisa disebut sebagai produk antibodi adalah plasma convalescent yang berasal dari pasien Covid-19 yang sudah sembuh.

“Pasien Covid-19 yang sudah sembuh akan memiliki antibodi terhadap Covid-19, nah ini yang kemudian diisolasi plasma darahnya lalu ditransfusikan kepada pasien sakit, di mana plasma darah ini mengandung antibodi Covid-19,” terang Zullies.

Dalam konteks lain, suatu antibodi bisa diisolasi dari makhluk hidup dan mungkin dikemas menjadi satu sediaan, misalnya Anti bisa ular (ABU). Serum anti bisa ular dibuat dengan cara memberikan bisa ular ke dalam tubuh hewan, seperti kuda atau domba.

Proses penemuan vaksin dan obat, papar Zullies, adalah proses yang berbeda. Obat bisa berasal dari senyawa kimia atau diisolasi dari herbal, atau sumber lain. Obat memiliki target tertentu pada tubuh manusia. Namun sebelum dicobakan ke manusia, calon obat harus menjalani dulu serangkaian uji pre-klinik pada hewan atau pada sel, selain itu juga harus diuji keamanannya.

Sedangkan vaksin sendiri bukanlah obat, melainkan suatu senyawa berupa antigen yang lemah yang bekerja memicu produksi antibodi pada tubuh orang yang divaksin.

Untuk vaksin Covid, maka bisa dibuat antigen berupa keseluruhan virus yang dilemahkan atau bagian dari virus yang kemudian ditempelkan pada virus pembawa lain, atau berupa mRNA virus SARSCoV2. Orang yang menerima vaksin ini akan menghasilkan antibodi terhadap virus Covid, sehingga menjadi lebih kebal dan tidak mudah terinfeksi.

“Penelitian tentang vaksin di Indonesia sudah dimulai di Lembaga Eijkman bekerja sama dengan PT Bio Farma, tetapi prosesnya masih panjang untuk sampai ke pasar,” katanya.

Penulis: Gloria
Sumber : Portal UGM

Farmasi UGM Selenggarakan Webinar International Tentang Uji BABE

Farmasi UGM – Pengembangan obat nasional merupakan salah satu prioritas pemerintah Indonesia. Bila obat-obatan dapat diproduksi sendiri di dalam negeri maka hal ini akan mengurangi ketergantungan Indonesia pada impor untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Selain itu, obat-obatan juga dapat disediakan dengan harga yang lebih murah sehingga mengurangi beban asuransi kesehatan nasional secara umum. Untuk suatu produk obat baru dapat dipasarkan, obat ini harus melalui berbagai pengujian, salah satunya adalah uji bioavailabilitas dan bioekuivalensi (BABE). Pengujian ini diperlukan untuk memastikan ketersediaan hayati obat di dalam tubuh saat obat tersebut diberikan, utamanya melalui saluran cerna (diminum), dimana rute administrasi ini merupakan yang paling banyak digunakan oleh masyarakat. Namun, berbagai macam permasalahan ketersediaan hayati ini seringkali dihadapi oleh departemen penelitian dan pengembangan pada industri farmasi, mulai dari aspek penelitian, pengujian, dan perizinannya.

Untuk berkontribusi pada penyelesaian masalah ini, Fakultas Farmasi UGM khususnya Laboratorium Farmasi Fisik, Departemen Farmasetika, menyelenggarakan webinar internasional bertajuk ‘The 1st webinar on physical pharmacy and biopharmaceutics: BABE studies, a revisit on the aspects of Physical Pharmacy and Biopharmaceutics’. Webinar ini menghadirkan tiga pembicara dari berbagai institusi, yaitu Prof. Dr. Donald W. Miller dari Departemen Farmakologi dan Terapi, Universitas Manitoba Kanada, Drs. apt. Victor Siringoringo dari PT Deltomed, dan Prof. Dr. apt. Akhmad Kharis Nugroho, M.Si. dari Fakultas Farmasi UGM. Pada acara pembukaan oleh Dekan Fakultas Farmasi UGM, Prof. Dr. apt. Agung Endro Nugroho, M.Si. menyampaikan bahwa acara webinar ini mendukung kerangka kerja Fakultas Farmasi UGM yang sejak tahun 2017 telah memiliki laboratorium pengujian BABE yang terakreditasi nasional.

Pada sesi seminar, Miller menyampaikan berbagai halangan yang harus dihadapi suatu obat untuk dapat mencapai target dan berefek farmakologis. Pada sesi kedua, pembicara Victor menyampaikan berbagai pengalaman teknis di industri farmasi untuk pengembangan suatu obat pada uji BABE, beserta berbagai standar regulasi yang harus dipenuhi. Terakhir, Kharis menyampaikan berbagai metode modeling berbasis populasi yang dapat digunakan dalam translasi obat kaitannya dalam studi bioavailabilitas dan bioekuivalensi.

Webinar ini tergolong sukses, dengan tercatat sebanyak 855 peserta yang berpartisipasi hingga mengikuti post test untuk memperoleh 2 SKP dari Ikatan Apoteker Indonesia (IAI). Webinar ini diselenggarakan melalui dua platform secara paralel, yaitu melalui Zoom Webinar dan Youtube Live oleh Kanal Pengetahuan Fakultas (KPF) Farmasi UGM. Hingga saat berita ini ditulis, webinar melalui Youtube telah ditonton hingga sebanyak 2400 kali, menunjukkan atensi yang tinggi dari masyarakat farmasi Indonesia pada topik BABE dalam pengembangan obat ini, bahkan setelah webinar telah selesai. Diharapkan hasil dari diskusi dalam webinar ini dapat terus dimanfaatkan sebagai salah satu acuan pengetahuan dan wawasan bagi masyarakat. (Adhyat/HumasFAUGM)

Virtual Fashion Show Alat Pelindung Diri : Kontribusi Farmasi UGM di Balik Layar Peragaan APD

Farmasi UGMVirtual Fashion Show Alat Pelindung Diri yang diproduksi oleh Usaha Mikro Kecil (UMK) di Yogyakarta sukses digelar pada tanggal 1 Agustus 2020 kemarin. Ada enam UMK yang memproduksi Alat Pelindung Diri (APD) yang diperagakan langsung oleh dokter dan perawat dari Rumah Sakit Sardjito dan para dokter muda yang sedang menempuh Pendidikan di Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FKKMK) UGM. Event ini diselenggarakan berkat kolaborasi antara Sonjo (Sambatan Jogja), GM Production dan IDPhotobook dan disiarkan langsung di studio GM Production. Sonjo adalah komunitas kemanusiaan untuk peduli pada pandemic Covid-19 yang bermarkas di Yogyakarta, anggotanya sendiri berada di banyak kota. Di samping kegiatan virtual fashion show APD, dilangsungkan juga penyerahan album memori perjuangan para Tenaga Kesehatan di Rumah Sakit dalam menangani pasien Covid-19 dari IDPhotobook kepada Direktur Rumah Sakit Sardjito dan Dekan FKKMK UGM. Ini merupakan simbol bentuk apresiasi dari masyarakat atas perjuangan para tenaga kesehatan, khususnya pada masa pandemi saat ini.

Kegiatan virtual fashion show APD ini disaksikan oleh para produsen APD dan dihadiri oleh Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Bapak Teten Masduki, Perwakilan RI di beberapa negara sahabat seperti Jerman, Jepang, UK, Belanda, Chekoslowakia, Australia, Tiongkok, Afrika Selatan, Korea, Washington, New Zealand, Rusia, Mexico, Kamboja, Vietnam, Myanmar, serta beberapa Lembaga Pemerintah seperti BPPT, BKKBN, Kementrian BUMN, Dinas Kesehatan, Dinas Perindustrian dan masih banyak lagi. Kegiatan ini utamanya untuk membangkitkan kembali roda perekonomian bagi UMK produsen APD dan tentunya memproduksi APD yang dapat dimanfaatkan oleh Nakes dengan aman.

Faktor kualitas APD yang dihasilkan oleh produsen harus benar-benar aman. Fakultas Farmasi UGM melalui layanan pengujian water resistance dengan metode AATCC 42 telah melakukan pengujian APD yang ditampilkan dalam Virtual Fashion Show. Endang Lukitaningsih selaku Wakil Dekan Bidang Penelitian, Pengabdian Masyarakat, Kerjasama dan Alumni Fakultas Farmasi UGM turut berjalan di atas cat walk dan menutup fashion show dengan menerangkan uji keamanan APD yang telah dilakukan. Secara terpisah diterangkan oleh Endang bahwa water resistance ini dipilih sebagai salah satu parameter yang dikerjakan, mengingat dengan water resistance dapat sekaligus memprediksikan ukuran pori-pori bahan APD. Bila bahan APD tidak dapat ditembus air, maka virus apalagi bakteri tentu tidaklah dapat menembus APD karena ukuran virus dan bakteri lebih besar dari ukuran molekul air. Cara menjahit pun menjadi hal yang harus diperhatikan. Dengan teknik sealing di jahitan, akan mengurangi risiko kebocoran di daerah ini. Beberapa APD yang ditampilkan juga telah mendapatkan ijin edar dari Kemenkes.

Kegiatan fashion show kemudian diikuti dengan paparan secara online dari Bapak Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah, Dinas Kesehatan DI-Yogyakata, Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustian Yogyakarta, Deputy Director General Economic Research and Regional Cooperation Department-Asian Development Bank, Director Global Partnership and Resources Mobilization-Islamic Development Bank serta dilanjutkan dengan diskusi dari para peserta talk show online. (Humas Farmasi)

Sarasehan Daring Pertama Fakultas Farmasi UGM: “Sinergi Pemerintah dan Masyarakat Kecamatan Ngablak dalam Pencegahan Covid-19”

Farmasi UGM – Tahun 2020 merupakan tahun ke – 3 bagi Fakultas Farmasi bekerja sama dalam program pengabdian kepada masyarakat di Kecamatan Ngablak. Membawa program edukasi keamanan dan penanganan bahaya pestisida sintetik, edukasi kesehatan kepada lansia, dan merintis pertanian organik bersama kader petani milennial setempat, telah menciptakan ikatan antara Tim Pengabdian dengan warga setempat. Sedianya tahun 2020 Fakultas Farmasi UGM bertekad meneruskan program yang menitik beratkan pada pilot project pertanian organik dengan komoditas utama stroberi. Namun Maret 2020, pemerintah resmi mengumumkan status pandemik Covid-12, sehingga program tersebut tertunda.

Tak ingin absen dari peran edukasi bagi warga kecamatan Ngablak, Tim Pengabdian Masyarakat Fakultas Farmasi yang dipimpin Dr.rer.nat. RR. Endang Lukitaningsih, M.Si., Apt. bersama kader pengabdian masyarakat setempat, M. Ikhsanudin, S.Pd., menyelenggarakan sarasehan daring bagi jajaran pemerintah dan warga kecamatan Ngablak. Sarasehan bertajuk ‘Sinergi Pemerintah dan Masyarakat Kecamatan Ngablak dalam Pencegahan Covid-19’ terlaksana pada kamis, 14 Mei 2020 dengan menghadirkan pembicara dosen Fakultas Farmasi UGM yaitu Dr.rer.nat. RR. apt. Endang Lukitaningsih, M.Si., apt. Muvita Rina Wati, M.Sc., dan apt. M. Novrizal Abdi Sahid, M.Eng. Empat fokus bahasan dalam sarasehan ini meliputi langkah pencegahan infeksi, penggunaan disinfektan yang tepat, pengondisian warga menyambut arus pemudik, dan mempersiapkan sarana pendukung bagi warga yang membutuhkan pengobatan maupun karantina pada masa pandemik.

Jenis-jenis disinfektan

Camat Ngablak Imam Wisnu Kusuma, S.STP., MM. memfasilitasi sarasehan daring pertama ini melalui video conference Webex. Sarasehan dihadiri oleh seluruh kepala desa, kepala dinas instansi se-Kecamatan Ngablak, Kapolsek, Danramil dan sebagian warga. Camat Ngablak mengungkapkan rasa syukurnya atas hadirnya Fakultas Farmasi UGM dalam mencerahkan informasi bagi aparat dan warga Kecamatan Ngablak di masa pandemik. Maraknya hoax yang beredar di jejaring sosial tak ayal meresahkan warga dan membuat banyak strategi pencegahan dan penanggulangan infeksi menjadi resisten terhadap informasi yang benar dari pemerintah. Hadirnya sarasehan dari Fakultas Farmasi berperan dalam mengonfirmasi isu – isu tersebut.

Fakultas Farmasi UGM bertekad akan terus hadir bagi warga dan pemerintah Kecamatan Ngablak dalam mendukung program – program utamanya bagi peningkatan kesehatan. Tak hanya berkaitan dengan obat, kosmetik, dan makanan, Fakultas Farmasi UGM turut serta dalam ikut mendukung pertanian sehat yang meminimalisir risiko dampak lingkungan dan bagi kesehatan petani dan warga sekitar akibat penggunaan zat kimia dalam pestisida sintetik. (Muvita)