Tentang UGM
Portal Akademika
IT Center
Perpustakaan
LPPM
Webmail
Bahasa Indonesia
English
Rabu, 14 Juni 2017 - 20:33:11 WIB

Tekad Febri Kuliah di Tengah Keterbatasan Ekonomi

Dikirim oleh Administrator Web Dibaca 172 kali

Keterbatasan ekonomi sempat membuat Febriyanti Siahaan harus mengurungkan niatnya untuk mengenyam bangku kuliah. Meski tekadnya untuk kuliah tidak terbendung, berulang kali orang tuanya mengingatkan dia untuk menunda keinginan tersebut demi bekerja dan mencari penghidupan bagi keluarga. Siapa sangka, asa Febri untuk menggapai cita-citanya kembali menyala ketika ia menerima berita bahwa ia diterima untuk kuliah di Fakultas Farmasi UGM tanpa harus mengeluarkan biaya kuliah sepeser pun.

“Selama ini saya memang selalu ingin kuliah, tapi keluarga selalu bilang tidak usah lah, kuliah itu hanya untuk orang yang mampu. Waktu saya tahu bahwa saya dapat UKT 0, saya langsung peluk orang tua saya, saya bilang kepada mereka kalau saya bisa kuliah tanpa harus membayar uang kuliah,” ujar Febri saat ditemui di rumahnya di kawasan Batu Aji, Kota Batam, Senin (5/6) lalu.

Sejak masih duduk di bangku SMA, ia telah memantapkan hati ingin melanjutkan studi di bidang farmasi karena ia percaya dengan ilmu ini nantinya dapat memberikan kontribusi yang bermanfaat bagi masyarakat. Namun, setiap kali ia menuturkan cita-citanya ini kepada kedua orang tuanya, lagi-lagi persoalan ekonomi menjadi penghalang. Kedua orang tua Febri mendorongnya untuk langsung bekerja selepas lulus SMA, dan baru memikirkan untuk melanjutkan pendidikan jika sudah bisa mengumpulkan biaya yang diperlukan. Karena itu, ia memang sengaja tidak memberi kedua orang tuanya bahwa ia mendaftarkan diri di UGM melalui jalur SNMPTN karena takut hal tersebut akan menambah pikiran kedua orang tuanya.

“Bagi saya kuliah itu harus karena dengan kuliah kita bisa berkembang. Tapi kalau orang tua sudah bilang seperti itu kan tidak mungkin kita paksa. Jadi, saya hanya bawa dalam doa saja, dan benar-benar tidak menyangka saya akhirnya bisa kuliah di kampus yang saya inginkan,” ungkap anak bungsu dari empat bersaudara ini.


Febri & kedua orang tuanya

Kedua orang tua Febri kini memang tidak lagi memiliki penghasilan yang tetap. Ayah Febri yang  sebelumnya bekerja sebagai satpam di sebuah perumahan di daerah Nagoya Batam harus berhenti bekerja beberapa tahun yang lalu karena sakit yang ia derita pada kakinya. Sementara itu, ibu Febri yang sempat membuka kios kecil di depan rumahnya juga harus gulung tikar karena sedikit modal yang ia miliki akhirnya habis dipakai untuk menutup keperluan lain. Untuk kebutuhan sehari-hari, mereka hanya bisa mengharapkan dukungan dari kakak-kakak Febri yang sudah bekerja.

“Sebenarnya kami makan pun tidak sampai harus mengemis, tapi kalau untuk mengeluarkan biaya besar untuk kuliah memang tidak bisa. Kalau misalnya kemarin saya lolos di UGM tapi dapat UKT yang tinggi pasti harus saya lepas,” ucap Febri lirih.

Rentejer Panjaitan, ibunda Febri, tidak kuasa menahan tangis ketika ia menceritakan tentang bagaimana Febri selalu mengungkapkan keinginannya untuk kuliah. Kegigihan anaknya dalam menuntut ilmu hingga meraih berbagai prestasi memang selalu membuat ia kagum dan bangga. Namun, kondisi perekonomian keluarga membuatnya harus berpikir secara realistis dan meminta Febri untuk mengurungkan niatnya.

“Setiap orang tua pasti ingin anaknya kuliah, supaya nanti hidupnya tidak susah seperti orang tuanya. Tapi kembali lagi kan anak-anak tidak tahu situasi di rumah seperti apa, jadi saya bilang mau kuliah bayar pakai apa, apa mau jual rumah. Saya bilang sama Febri, tidak ada uang, nak, tidak usah kuliah, nanti saja cari kerja dulu,” kata Rentejer.

Meski sadar akan keterbatasan yang ia miliki, dalam lubuk hatinya ia senantiasa merasa pilu setiap kali mendengar keinginan anaknya untuk kuliah, dan tidak tega mematikan semangat Febri untuk mengejar cita-citanya.  Namun, ia hanya bisa mendoakan agar suatu saat Febri bisa menggapai impiannya.

“Kalau saya bilang tidak usah kuliah dia memang hanya diam saja, tapi saya juga tidak tahu apa yang ada di dalam hatinya. Waktu dia kasih tahu dapat di UGM kami langsung pelukan, kami nangis, benar-benar tidak menyangka karena waktu dia mendaftar itu pun saya tidak tahu. Puji Tuhan Febri bisa menerima bidikmisi,” ujar wanita berdarah Batak ini.

Kini, menjelang keberangkatan Febri untuk menempuh kuliah di UGM, sang ibunda menitipkan pesan dan harapan, agar kesempatan yang berharga ini sungguh-sungguh ia manfaatkan dengan baik untuk mempersiapkan masa depannya, menjadi pribadi yang berguna bagi masyarakat.

“Tidak semua orang bisa dapat kesempatan seperti ini. Ini adalah berkat Tuhan. Jadi rajinlah belajar, waktunya dimanfaatkan supaya dia bisa berhasil nantinya,” ucap Rentejer.

Sumber : Portal UGM