Tentang UGM
Portal Akademika
IT Center
Perpustakaan
LPPM
Webmail
Bahasa Indonesia
English
Senin, 05 Desember 2016 - 15:55:33 WIB

Mahasiswa Farmasi UGM Memborong Juara Pharmacy Festival 2016

Dikirim oleh Administrator Web Dibaca 599 kali

Prestasi kembali ditorehkan oleh mahasiswa Fakultas Farmasi UGM. Kali ini, delegasi mahasiswa Fakultas Farmasi UGM berhasil mendominasi juara dalam Pharmacy Festival (Pharfest) yang diselenggarakan Universitas Indonesia pada 1-2 Oktober 2016 lalu.

Dalam kompetisi itu, mahasiswa Fakultas Farmasi UGM berhasil menyabet gelar juara 1,2, dan 3 lomba konseling kategori advance pasien serta juara 3 lomba debat. Selain itu, juga mendapatkan penghargaan sebagai best speaker dalam lomba debat.

Adella Clara Alverina meraih juara pertama kategori advance konseling pasien. Sementara itu, juara kedua dan ketiga juga diraih mahasiswa Farmasi UGM, yakni Noor Rohmah Satiti dan Jelita Lintang Sukma Rahayu Budiningsih. Ketiganya merupakan mahasiswa Program Profesi Apoteker Fakultas Farmasi angkatan 2016.

Sementara itu, dalam lomba debat tim UGM yang beranggotakan Baiq Risma Fatmayanti, Wahyu Adiningsih, dan Kadek Hendra Darmawan meraih juara tiga. Tidak hanya itu, penghargaan khusus sebagai best speaker juga berhasil diperoleh Baiq Risma Fatmayanti.

Adella Clara menyebutkan pharfest merupakan kegiatan tahunan yang diadakan oleh mahasiswa farmasi Universitas Indonesia. Salah satu kegiatan yang diselenggarakan adalah kompetisi di bidang kefarmasian. Kompetisi itu diikuti tidak kurang dari 60 mahasiswa farmasi dari sejumlah perguruan tinggi di Indonesia.

“Dalam kompetisi ini Fakultas Farmasi UGM mengirimkan 5 mahasiswa untuk bertanding di kategori advance dan 5 orang kategori beginner serta 1 tim lomba debat,”urainya, Senin (2/12) di Fakultas Farmasi UGM.

Perjuangan Adella meraih juara pertama tidaklah mudah. Sebelumnya, dia harus berjuang ketat berkompetisi dengan puluhan mahasiswa lain dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Dalam lomba konseling kategori advance setiap peserta diberikan kasus untuk memberikan pelayanan obat atas resep dokter.

“Saat final peserta dihadapkan pada kasus pasien menderita asma dan batuk karena alergi,” jelasnya.

Dikatakan Adella, dalam kompetisi itu dia berlaku layaknya apoteker yang sedang menjalankan layanan kefarmasian. Pasien datang dengan resep dokter dan dia harus melaksanakan layanan kefarmasian serta memberikan konseling pada pasien terkait cara penggunaan obat, efek samping yang ditimbulkan, serta terapi non farmakologi yang dapat membantu proses penyembuhan.

“Senang dan bersyukur delegasi Farmasi UGM bisa tampil maksimal dalam kompetisi ini. Semoga kedepan semakin banyak prestasi yang bisa dipersembahkan untuk fakultas serta universitas melalui berbagai kompetisi,” pungkasnya.